You are currently browsing the monthly archive for December 2007.
Malam ni gw dapet sms dahsyat dari dua orang dahsyat. Lebih dahsyatnya lagi sms ni datang berturut2 dalam 1 menit.
“Asw..pLg k kmpung SURGA yuk..Pke mbL JIHAD yg bnsinNy ISTIQOMAH sOpirny IKHLAS lwt jLn IMAN sLlu bw pita QURAN+SUNAH n bekal TAQWA. Smpe ktmu dsna y..Aamiin..” (Fajar, Ketua BEM FTIP ‘07-’08)
“Kejayaan adalah kegagalan,yang putar-putar.warna perak dari awan yg meragukan.dan tak dapat anda terka,betapa berhampiran.ia mgkn dekat bila jauh dilihatkan.jadi teruskanlah perjuangan.walau bertambah buruk,JANGAN ANDA MENGAKU KALAH DAN DIKALAHKAN!” (Ishmat, Ketua BEM Psikologi ‘04-’05)
Keduanya teman2 berbagi makna yang sudah sangat lama tidak bertemu. Kurang lebih satu bulan gak pernah ngobrol tentang hidup…Semoga kalian tetap dalam naungan cinta-Nya sahabat2ku…
Umur reformasi yang sudah melewati usia kesembilan kini bagai rumusan yang tak terurus. Transisi bangsa Indonesia telah menemukan kebuntuan arah yang menimbulkan kegamangan untuk terus bergerak. Semangat perubahan yang dahulu berhasil meruntuhkan ‘penjara’ orba kini bagaikan luntur tak lagi seheroik orasi-orasi para tokoh reformis yang dulu sangat terlihat meyakinkan. Rupanya waktu bagi rakyat untuk bermimpi indah tentang kesejahteraan mereka – lantaran reformasi- kembali menemukan realita pahit bahwa harga kebutuhan pokok pun terus melambung.
Jika kita sejenak memanggil kembali ingatan kita tentang guncangan krisis ekonomi pada 1998 yang lalu, maka akan begitu sulit bagi kita membedakannya dengan tahun 2007 sekarang ini. Kecuali kita adalah seorang ahli ekonomi yang mengungkap fakta tentang peningkatan ekonomi bangsa dalam tataran makro saja. Sedangkan dalam sektor riil yang bersinggungan langsung dengan ‘perut rakyat’, pemerintah belum berhasil menemukan formula tepat untuk memberdayakan usaha kecil.
Kesemuan reformasi tak hanya berada dalam sektor ekonomi saja, begitu juga pada aspek – aspek lain. Dari masih lemahnya penindakan hukum bagi tersangka koruptor hingga malunya Indonesia ketika lampu Gelora Bung Karno padam saat pertandingan sepakbola semakin menjelaskan bahwa sesungguhnya bangsa ini belum melangkah sejenak pun dari krisis multidimensi. Dan akhirnya kita selalu terjebak dalam opini – opini negatif tentang bangsa ini dan terus menerus kecewa dan saling menyalahkan. Penyelesaian masalah yang selalu digumam-gumamkan justru menambah sederet luka dan saling tuduh. Read the rest of this entry »
Hari ini temen gw, Rozar, menikah..he..he..Iya salah satu momentum yang gak tau kenapa gw jadi ikutan lega. Dia pernah bilang ma keluarganya kalo dia bakal lajang atau gak nikah sama sekali. Bisa nambah dah orang idealis dari psikologi yang memutuskan lajang seumur hidup, setelah sebelumnya ada dua dosen cowok idealis yang punya keputusan kayak gitu. Tapi emang kelegaan gw beralasan, Rozar yang dulu karakternya keras sekarang jadi lebih lembut…sampe rada geli gw waktu dia bicara dengan lembut ke gw. Istrinya memang terlihat lembut dan cocok untuk ngimbangin Rozar. Dan gw pun ngeliat gesture dan mimik bapaknya Rozar juga sumringah…Akhirnya…temen gw menemukan pawang, dasar uler kadut…
Perjalanan gw Bandung – Sukabumi, Sukabumi – Bandung menyisakan sebuah tanya tentang kenapa dua dosen gw memutuskan untuk lajang yah. Jadi arti menikah atau cinta bagi mereka apa? Iseng banget sich…cuma ini jadi terpikirkan karena memang godaan yang harus dilewati seorang idealis (untuk yang cowok) itu harta, tahta, dan wanita…Mungkinkah mereka yang memutuskan lajang merasa kawatir jika saja idealisme mereka terlunturkan karena menikah?Bermanja2 dengan istri dan anak2??Harus sering memikirkan uang untuk kesejahteraan keluarga??
Yang gw tau jelas, dua dosen gw itu mang sudah menghayati perannya sebagai psikolog, bahwa mereka hidup untuk mensejahterakan orang lain, secara psikis. Tapi, ada kaitannya memutuskan untuk melajang dengan kekawatiran lunturnya idealisme? Oh..atau bisa jadi mereka belum menemukan pasangan yang dianggapnya cocok untuk berkolaborasi menjalani hari-harinya dengan idealisme yang sama dan saling menjaga?(Atau ini hanya proyeksi dari gw aja?). Tapi, gw coba hargai apa yang diputuskan mereka adalah hasil pilihan sadar mereka, dan semua pilihan ada konsekuensinya. Termasuk bagi Rozar yang sudah menikah.
So…idealisme bisa dilunturkan oleh harta, tahta, wanita? Yang pasti, dan yang gw tahu biasanya waktu yang bisa menjawab. Semoga waktu bersahabat dengan perjalanan hidup gw dan orang-orang idealis yang gw sayang.

Resensi oleh : Maria Dian, Psikolog
Cita agungku
Pasungan nikmat bumi
Tercabik tanduk syetan
Hingga buta halangi yang haq
Terjaring seribu formasi syahwat
Dzalimku berkoar sakiti bunda
Mudah sekali terjebak merah emosi
Taubatku tak tepat mengalir
Meski saat itu tangis beriring
Buai dosa terbungkus fana
Yang tampilkan indah dunia
Dan menyambunyikan putih di bawah pelangi yang hitam
Gentar melawan semua angkara
Lelah rasanya………………….
Aku mengeluh tak berdaya kini
Bungkus aku dengan jubah besar
Tuk tutupi segala fikirku dari mungkar
Ku tak sadar tak layak
Nikmati naung-Mu akhir nanti
(Bekasi, 15 November 2002)
Melirik Rasa Kebangsaan
Menggagas sebuah sistem pendidikan yang ideal merupakan wacana yang terus mengalami proses. Dalam prakteknya, saat ini sistem pendidikan telah berada pada tahap yang terus membaik. Hal ini dapat diasosiasikan dengan terus berkembangnya metode pengajaran. Pada tataran sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, metode yang digunakan adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sedangkan pada beberapa perguruan tinggi, metode yang saat ini dikembangkan merupakan metode Problem Based Learning (PBL). Namun seperti biasa, masing-masing metode tersebut juga menimbulkan sebuah pro dan kontra di kalangan para pengajar dan kritikus pendidikan. Dalam sisi yang positif, perdebatan ini memberikan sebuah proses evaluasi yang terus menerus. Evaluasi tersebut memberikan sebuah solusi dalam proses penyempurnaan metode pendidikan, baik dalam tataran sekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun perguruan tinggi.
Ada sebuah semangat yang harus menjadi perhatian para profesional, praktisi, maupun pengamat dunia pendidikan. Semangat tersebut adalah kecintaan terhadap tanah air. Seiring dengan mengentalnya arus globalisasi, identitas kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air terus memudar. Pengembangan pendidikan saat ini meninggalkan ruh moral dan nilai-nilai kebangsaan. Kedua hal tersebut tergantikan oleh kebutuhan globalisasi dan pasar industri dari negara-negara kaya.
Setiap tahapan pendidikan memiliki fungsi dan prinsip pembelajaran masing-masing Read the rest of this entry »
Siang ini cerah…secerah langit hatiku, ditambah terik panas yang menikam dari segala penjuru, namun tidak sepanas kobar api jihadku untuk sekadar menjadi penghibur. Semua berubah! Panas menjadi hangat, letih menjadi penyemangat, dan kantuk menjadi karat. Lukisan indah senyum dan harapan anak-anak itu terbingkai jelas dalam penglihatanku serta tersimpan dalam memoriku. Hal itu memandu segala potensi akal, hati, dan fisikku untuk terus menjaga senyum mereka dan menyusun satu demi satu anak tangga cita-cita mereka yang secara tersembunyi terpajang tinggi, bahkan melewati lintasan cahaya tertinggi.
Desa Melikan, Klaten, 10 Juli 2006
Aku mencoba merangkai satu demi satu rasionalisasi dari kebodohan diri untuk sekedar menatap secara positif keterlambatanku di sini. Aku bersegera memutar balik waktu untuk waspada pada ingkarnya niat diri.
Desa Melikan, Klaten, 10 Juli 2006
Saat ini saya sedang duduk menghela nafas yang lumayan tersengal untuk sejenak istirahat sambil mencorat-coret buku saku yang selalu menjadi partner kompak. Baru saja kami (Satkorlak Unpad) bersama-sama dengan warga di sini membangun sebuah fasilitas MCK umum yang logistiknya merupakan bantuan dari LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) Surakarta.
Berkebalikan dengan ungkapan yang biasa diucapkan seperti ini: “Tidak terasa…padahal sudah tinggal…”, saya malah merasa seperti sudah lama tinggal di desa ini. Kami tinggal di rumah warga yang sangat ‘welcome’ sama seperti warga satu desa ini terhadap kami. Lokasi tepatnya di Rw 13, Desa Melikan (orang desa mengejanya Meli’an), Kecamatan Wedi, Klaten. Selama 5 hari ini, saya merasakan warna yang berbeda dalam keseharian. Sebagai orang yang berusaha menjadi relawan yang sesungguhnya, saya agak kawatir jika saja tidak bisa berkontribusi di desa penghasil padi dan tembakau ini. Jangan sampai saya menjadi seorang ‘rihlahwan’ (pelancong.pen).
Keadaan desa pasca gempa sangat menusuk titik kemanusiaan siapa Read the rest of this entry »












Recent Comments