Tulisan ini adalah hasil pengerjaan tugas Mata Kuliah Psikologi Pendidikan Lanjutan. Di bawah ini berisi beberapa rancangan pembelajaran Kompetensi Emosi yang dipilih berdasarkan fenomena kebutuhan belajar. Fenomena kebutuhan belajar diambil dari semua jenjang pendidikan, dari TK hingga Perguruan Tinggi. Kebutuhan belajar yang diangkat disini adalah tentang kecerdasan emosi yang dalam konsep “Emotional Intelligence” Daniel Goleman dirumuskan menjadi kompetensi emosi.
Untuk teman-teman yang sedang menghadapi skripsi, pada akhir tulisan ada rancangan pembelajaran yang bagus untuk teman-teman terapkan. Jika bisa secara pribadi diterapkan..sangat hebat anda!…Penulis sendiri belum pernah menerapkan, baru sampai tahap “memikirkan orang lain”…hehehe. Semoga bermanfaat..

  1. Taman Kanak-Kanak
  1. Kebutuhan Belajar

Latar Belakang

Saya orang tua dari anak laki-laki yang berumur 5 tahun. Saat ini anak saya sedang bersekolah di taman kanak-kanak. Anak saya suka marah-marah dan melakukan tindakan yang berlebihan seperti melempar dan memecahkan barang-barang pecah belah, bahkan pernah sesekali melempar pintu jendela hingga retak. Anehnya, setelah itu anak saya kemudian bisa saja langsung menangis atau bahkan tertawa. Saya memperhatikan ekspresi anak saya mudah sekali berubah. Seperti yang saya jelaskan tadi, dalam suatu waktu ia bisa tertawa, tapi beberapa menit kemudian menangis.

Identifikasi Masalah

Pada kasus di atas, anak mengalami katidakstabilan emosi serta sulit untuk mengekspresikan emosinya sesuai dengan keadaan dirinya. Pada kasus di atas dapat diabstraksikan bahwa anak belum mampu mengenali emosinya dengan baik

  1. Sasaran Pembelajaran

Tujuan utama dari intervensi ini adalah memberikan pemahaman mengenai jenis emosi anak serta bagaimana mengekspresikannya sesuai dengan emosi yang sedang dirasakan. Selain itu, intervensi ini juga bertujuan untuk membantu anak memahami konsekuensi dari emosi dan pengekspresiannya. Menurut Goleman (1995), mengenali emosi dan konsekuensinya (emotional self awareness) merupakan salah satu domain dari self-awareness yang berarti suatu kompetensi emosional dalam memahami emosi pada diri sendiri serta konsekuensi dari pengekspresiannya.

  1. Proses Fasilitasi

PelampiasanVerbal
Ajari anak untuk mengenali perasaannya dan mengungkapkan secara verbal dengan bahasa yang dipahaminya sumber kemarahannya atau bad mood-nya. Misalnya, ”Putu rasanya ingin marah Bu Guru, kalau Kadek mengejek tulisan Putu seperti cakar ayam mencari cacing”. Atau, ”Desy rasanya ingin marah, sudah jelas-jelas Nina menghilangkan mainan yang…… tadi dipinjamnya, en dia tak mau mengakui apalagi menggantinya”. Untuk anak-anak yang lebih muda, mungkin Anda perlu membantunya untuk mengungkapkan rasa amarahnya dengan kata-kata Anda. Misalnya, ”Lusi sedang jengkel ya karena kotaknya sukar dibuka. Jangan dibanting dong, nanti jadi rusak dan tidak bisa dibuka. Bawa sini, Bu Guru ajarkan cara membukanya”.

PermainanPeran
Ajarkan anak-anak permainan peran untuk mengungkapkan perasaan dan menyalurkan amarah yang sedang mereka rasakan. Misalnya, Doni sangat marah karena Wayan mengejeknya, sehingga sebagai pelampiasannya Wayan dipukul. Yang harus Anda lakukan, cobalah tenangkan anak dengan memintanya menceritakan apa yang terjadi dan ”mementaskan’ setahap demi setahap peristiwa yang telah dialaminya. Secara tidak sadar setelah jadi ‘aktor’, anak akan merasa emosinya sudah mereda karena secara tidak langsung amarahnya sudah tersalurkan lewat ‘permainan peran’ tersebut.

PemahamanKonsekuensi
Ajak anak melihat dan merasakan apa akibat yang terjadi terhadap subjek yang jadi korban kemarahannya. Misalnya, Wayan yang menangis akibat dipukul dan dijambaknya atau orang bisa tersinggung kalau dicaci-maki dengan bahasa yang kotor. Ajak anak membayangkan bagaimana kalau dia yang menjadi korban kemarahan. Bagaimana anak menjadi pintu atau meja yang dipukul dan ditendangnya.

Relaksasi Napas dan Pendinginan
Latih dan ajarkan anak mengendalikan amarahnya dengan relaksasi pernapasan. Tariklah napas perut, tahan sebentar, kemudian keluarkan melalui mulut secara perlahan-lahan. Lakukan sekitar 3-5 kali, lalu minta anak berbicara sambil mengatur napas: Sa-ya-se-dang-me-nge-lu-ar-kan-ra-sa-ma-rah. Sa-ya-ti-dak-bo-leh-me-mu-kul. Sa-ya-se-ka-rang-te-nang-te-nang-te-nang. Pendinginan juga boleh Anda ajarkan, biarkan anak berjalan-jalan ke tempat yang agak tenang, ke kebun di belakang rumah misalnya, yang penting menghindari sumber rasa marahnya terlebih dulu. Mencuci mukanya atau melakukan wudhu bagi yang Muslim dapat pula dicobakan.

D. Sumber

http://www.balipost.co.id/balipostcetaK/2004/12/12/ce2.html (diakses pada tanggal 20 Juni 2007, pukul 00.03)

  1. Sekolah Dasar
  1. Kebutuhan Belajar

Latar Belakang Masalah

Kami, orang tua dari tiga orang anak yang kebetulan semuanya adalah putra. Persoalan yang sedang kami hadapi saat ini sehubungan dengan putra kami yang pertama, sekarang ia berusia 10 tahun dan duduk di bangku SD kelas empat. Kami sekeluarga sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghadapi kebandelannya.

Sejak kecil anak kami tersebut memang senantiasa menjadi pusat perhatian bagi keluarga besar kami, dari pihak saya maupun suami merupakan cucu pertama. Namun, secara tidak langsung ternyata kami semua kurang memberikan pembelajaran padanya dalam hal menahan diri. Segala hal yang diinginkannya selalu terpenuhi dan tidak terbantahkan. Sejak usia TK sebetulnya perilaku menentangnya telah muncul, sekarang semakin menjadi. Sikapnya egois, sering kali berbohong, emosional, membangkang, bahkan beberapa kali ia “mencuri” hanya sekadar memenuhi keinginan yang memang sulit ia kendalikan. Prestasi akademis di sekolah pun kurang menggembirakan. Cenderung asal-asalan dan kurang bertanggung jawab terhadap tugas-tugas sekolah. Perilaku menentang bukan saja diperlihatkan kepada kami orang tuanya, tapi mulai ia lakukan kepada guru dan orang-orang di sekitarnya.

Identifikasi Masalah

Anak tersebut menunjukkan hambatan tingkah laku, menampakkan suatu perilaku penentangan yang terus-menerus disertai adanya kegagalan di sekolah. Dia mengalami hambatan sosial disertai gangguan emosi. Hambatan yang terjadi akibat adanya intervensi berlebihan dari lingkungan, sehingga anak menjadi kurang terampil secara sosial dan kurang mampu menempatkan emosi secara tepat. Karena selama ini anak kurang merasakan antara ganjaran dan hukuman yang setimpal, sehingga dalam proses perkembangannya ia kurang memahami mengenai salah dan benar dalam konteks sosial, dan hanya terfokus pada sesuatu yang berdasarkan penilaian dirinya semata. Pada akhirnya anak tidak dapat mengendalikan dirinya dan cenderung impulsif dalam mengikuti keinginan-keinginan serta meluapkan emosinya secara berlebihan.

  1. Sasaran Pembelajaran

Sebagian ahli menyorot masalah ketunalarasan salah satunya bermuara dari keluarga. Keluarga memiliki pengaruh penting dalam membentuk kepribadian anak. Keluargalah peletak dasar perasaan aman (emotional security) pada anak. Dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial.

Tujuan utama dari intervensi ini adalah meningkatkan kontrol diri (self-control) dari anak. Menurut Goleman (1995), pengendalian diri (self-control) merupakan salah satu domain dari self-management yang berarti suatu kompetensi emosional dalam mengendalikan emosi yang meledak seria mengontrol impuls-impuls.

  1. Proses Fasilitasi

Dalam kasus ini, maka diperlukan sebuah intervensi yang berbasis pada keluarga. Orang tua perlu melakukan intervensi langsung melalui panduan yang diberikan oleh ahli pedagogis. Secara umum intervensi dilakukan dengan memberikan respon objektif terhadap tingkah laku anak, sehingga anak akan dapat memahami perbedaan antara tingkah laku yang benar dengan yang salah.

Orang tua dapat menggunakan intervensi behavioral dengan perincian sebagai berikut:

1. Meningkatkan tingkah laku yang positif.

Strategi yang digunakan, yaitu:

a. Membuat daftar kelakuan baik. Setiap perilaku anak yang positif kita catat pada sebuah “buku prestasi”. Pencatatan dilakukan bersama-sama dengan anak. Biarkan anak menceritakan perilakunya yang baik.

b. Memberi imbalan. Jika anak mampu bertingkah laku positif dalam beberapa waktu (sebaiknya jangka waktu sesuai dengan diskusi bersama anak), maka berilah sebuah hadiah yang edukatif namun disenangi anak.

c. Membuat perjanjian secara tertulis. Berikan kesempatan anak untuk merencanakan perbuatan baiknya selama beberapa hari. Buat suatu perjanjian tertulis dengan anak yang dipajang di kamar anak, sehingga dapat diingat setiap hari.

2. Mengurangi tingkah laku yang negatif

Strategi yang digunakan, yaitu:

a. Pembasmian. Jika anak melakukan hal yang negatif, maka kurangi dengan memberikan pernyataan kecewa secara asertif sekaligus memberikan alasan rinci dan pemahaman tentang efek-efek dari tingkah laku negatif tersebut.

b. Denda. Perjanjian tertulis yang telah dibuat untuk merencanakan perbuatannya perlu dievaluasi sesegera mungkin. Perjanjian tersebut perlu juga mencantumkan konsekuensi yang akan diterima anak jika ia tidak melakukan hal yang direncanakannya.

Intervensi behavioral seperti ini harus melibatkan semua elemen keluarga. Setiap anggota keluarga harus memiliki norma yang relatif sama mengenai suatu tingkah laku. Jangan samapi ada perbedaan norma, sehingga perubahan tingkah laku anak nantinya sulit untuk menjadi konsisten.

Intervensi behavioral ini merupakan suatu program perubahan tingkah laku untuk lebih memahami konsekuensi dari tingkah laku anak. Sehingga memerlukan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Pemahaman tentang konsekuensi dari tingkah laku tersebut akan membuat anak berusaha berperilaku sesuai dengan norma sekitar. Usaha seperi inilah yang akan menumbuhkan pengendalian diri (self-control) terhadap stimulus luar yang menggugah emosi anak.

  1. Sumber

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/102006/22/geulis/konsulpaedagogi.htm (diakses pada tanggal 18 Juni 2007, pukul 16.30)

http://www.uny.ac.id/refleksi_grup/default_refleksi.php?pageID=8&kode=407&nip=132318126&nama_dosen=Aini%20Mahabbati (diakses pada tanggal 18 Juni 2007, pukul 19.40)

  1. Sekolah Lanjutan Pertama
  1. Kebutuhan Belajar

Latar Belakang Masalah

Saya adalah seorang gadis berusia 13 tahun, bersekolah di sebuah SMP Negeri, mempunyai sifat yang ceria, senang bergaul, dan membaur. Prestasi akademik cukup baik dibandingkan teman-teman.

Saya adalah anak pertama dari tiga bersaudara, adik kedua perempuan dan yang bungsu laki-laki. Sering perasaan minder saya muncul bila pergi bersama adik. Adik perempuan saya memang berparas cukup cantik dan ia berpenampilan menarik serta pintar bergaul. Sedangkan saya sebaliknya, memiliki ukuran tubuh yang besar alias kegemukan dan menurut saya kurang menarik.

Saya tidak tahu mengapa kami lahir dari ibu dan bapak yang sama, dibesarkan dengan cara yang sama, tetapi mengapa kami berbeda. Sering dalam lamunan saya mengeluh mengapa Tuhan tidak adil, memberi saya tubuh yang besar.

Berbagai upaya untuk menurunkan berat badan telah dicoba, namun hasilnya selalu gagal. Semakin berupaya menekan kecemasan dan rasa tidak nyaman akibat kelebihan berat badan, semakin besar pula keinginan untuk makan. Terlebih bila ada yang mengejek atau membanding-bandingkan dengan adik.

Karena kondisi tersebut, tidak jarang saya melamun dan berkhayal mempunyai tubuh yang ramping dan banyak teman. Namun saya kembali kecewa bila kembali ke alam realita, bahwa sebenarnya saya gemuk.

Identifikasi Masalah

Kegemukan lebih sering menjadi keluhan pada kaum wanita, karena hal ini dirasakan sangat menganggu dalam penampilan dan estetika. Pada kasus di atas, anak mengalami body image yang negatif sehingga menimbulkan rasa percaya diri yang rendah. Dengan kepercayaan diri yang rendah, anak tersebut sulit untuk melihat kelebihannya, padahal ia memiliki prestasi yang cukup baik dibandingkan teman-temannya. Sehingga anak kurang dapat menilai dirinya secara akurat.

  1. Sasaran Pembelajaran

Untuk mengatasi permasalahan ini anak perlu mendapatkan penilaian yang objektif pada dirinya agar tidak mempengaruhi self-esteem-nya lebih jauh lagi. Tujuan pembelajaran adalah untuk meningkatkan self-awarness anak yang secara otomatis akan mengembangkan kompetensi emosi dalam hal penilaian diri yang akurat serta kepercayaan diri yang baik. Goleman (1995) mengatakan bahwa peilaian diri yang akurat (accurate self-assessment) dan kepercayaan diri (self-confidence) merupakan kompetensi emosional dalam bagian self-awareness.

  1. Proses Fasilitasi

Intervensi pada kasus ini menggunakan permainan Johari Window. Johari window atau Jendela Johari merupakan salah satu cara untuk melihat dinamika dari self-awareness, yang berkaitan dengan perilaku, emosi, perasaan, dan motif kita. Model yang diciptakan oleh Joseph Luft dan Harry Ingham di tahun 1955 ini berguna untuk mengamati cara kita memahami diri kita sendiri sebagai bagian dari proses komunikasi.

Intervensi Johari Window ini perlu melibatkan teman-teman dekat (peers) dari si anak. Minta anak untuk membawa 5 orang temannya yang menurutnya paling mengenal dia (si anak). Berikan instruksi dengan perlahan sehingga 5 orang anak (teman) dapat mengerjakannya sesuai dengan instruksi dan tujuan yang dicapai. Instruksi harus diberikan setelah setiap anak mendapat selembar kertas permainan Johari Window tersebut.

Johari Awareness Model terdiri dari sebuah persegi yang terbagi menjadi empat kuadran, yaitu OPEN, BLIND, HIDDEN, dan UNKNOWN.

Setelah instruksi pembuka, maka mintalah 5 orang teman tersebut mengisi kuadran I, lalu II, dan seterusnya.

- Kuadran 1 (Open) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain.
- Kuadran 2 (Blind) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri.
- Kuadran 3 (Hidden) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain.
- Kuadran 4 (Unknown) merujuk kepada perilaku, perasaan, dan motivasi yang tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain.

Tes Jendela Johari dilakukan dengan memberi daftar berisi 55 kata sifat kepada subyek tes. Dari 55 kata sifat tersebut, subyek tes akan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang paling mencerminkan diri mereka. Anggota peer dari subyek tes ini kemudian akan diberikan daftar yang sama dan diminta untuk memilih lima atau enam kata sifat yang menurut mereka paling menggambarkan pribadi sang subyek tes. Hasil tersebut akan dicek silang dan dimasukkan dalam kuadran-kuadran yang tersedia.

Kelimapuluhlima kata sifat tersebut adalah: able, accepting, adaptable, bold, brave, calm, caring, cheerful, clever, complex, confident, dependable, dignified, energetic, extroverted, friendly, giving, happy, helpful, idealistic, independent, ingenious, intelligent, introverted, kind, knowledgeable, logical, loving, mature, modest, nervous, observant, organized, patient, powerful, proud, quiet, reflective, relaxed, religious, responsive, searching, self-assertive, self-conscious, sensible, sentimental, shy, silly, spontaneous, sympathetic, tense, dan trustworthy.

Dalam pembahasan model ini, Joseph Luft berpendapat bahwa kita harus terus meningkatkan self-awareness anak kita dengan mengurangi ukuran dari Kuadran 2-area Blind kita. Kuadran 2 merupakan area rapuh yang berisikan apa yang orang lain ketahui tentang kita, tapi tidak kita ketahui, atau lebih kita anggap tidak ada dan tidak kita pedulikan. Mengurangi area Blind kita juga berarti bahwa kita memberbesar Kuadran 1 kita-area Open, yang dapat berarti bahwa self-awareness serta hubungan interpersonal kita mungkin akan mengalami peningkatan.

  1. Sumber

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/032006/19/hikmah/paedagogis.htm (diakses pada tanggal 19 Juni 2007, pukul 13.05)

http://72.14.235.104/search?q=cache:1WWMetTJ8CUJ:www.workfriendly.net/browse/Office2003Blue/http/spss.wordpress.com//+permainan+johari+window+adalah&hl=id&ct=clnk&cd=5&gl=id (diakses pada tanggal 19 Juni 2007, pukul 14.15)

  1. Sekolah Lanjutan Atas
  1. Kebutuhan Belajar

Latar Belakang Masalah

Saya adalah seorang pelajar di sebuah SMA Negeri kota Bandung. Saat ini saya memiliki sebuah organisasi ekstrakurikuler pecinta alam. Saat ini saya sedang duduk di bangku kelas dua. Dalam organisasi pecinta alam tersebut, saya dan teman-teman seangkatan merupakan angkatan 3 karena baru 4 tahun organisasi ini didirikan.

Dalam alur kaderisasi organisasi saya, sebentar lagi saya dan teman-teman akan memegang amanah sebagai pengurus inti organisasi yang akan bekerja dengan angkatan di bawah kami. Namun saya agak khawatir, mengingat apa yang sering terjadi di antara angkatan kami. Satu sama lain belum bisa dibilang kompak, bahkan sering sekali terjadi konflik yang menimbulkan kebingungan dari angkatan atas kami dalam memberikan pendidikan kepada angkatan kami.

Identifikasi Masalah

Organisasi merupakan sekumpulan orang-orang yang memiliki tujuan bersama dan membangun sistem kerja di antara mereka. Salah satu hal penting yang harus ada dalam sebuah organisasi adalah kerja sama. Dalam kesehariannya, sebuah organisasi memiliki tantangan untuk menerapkan kerjasama dalam mencapai tujuan organisasi. Kasus di atas merupakan sebuah hambatan internal yang dialami oleh organisasi tersebut. Hambatan inilah yang disebut sebagai konflik. Konflik dapat mengganggu efektivitas dari sebuah organisasi karena mempengaruhi hubungan interpersonal yang melahirkan sebuah kerjasama.

  1. Sasaran Pembelajaran

Untuk mengatasi permasalahan ini setiap anggota organisasi perlu dibimbing untuk dapat menangani konflik dengan baik. Konflik yang ada tidak boleh dihindari, justru harus diolah agar tidak menjadi hal yang negatif bagi organisasi. Tujuan pembelajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan conflict management setiap anggota organisasi tersebut. Goleman (1995) mengatakan bahwa menangani atau menyelesaikan konflik (conflict management) merupakan salah satu kompetensi emosional dalam social skill.

  1. Proses Fasilitasi

Waktu: 2 jam

Dasar Pemikiran:
Pada setiap saat dan dalam setiap kelompok bisa terjadi konflik. Kebanyakan peserta mudah-mudahan sudah pernah mengalami hal tersebut. Namun sering kali konflik tidak diatasi dan ternyata bisa mempengaruhi semua kegiatan dan hubungan dalam kelompok sampai kelompok bubar.

Konflik merupakan suatu masalah di antara beberapa pihak, misalnya antara anggota dan pengurus, di antara pengurus dan pengurus lain, di antara anggota dan anggota dan di antara kelompok dengan pihak luar, misalnya kepala desa, mitra kerja atau petugas lapang. Untuk memecahkan konflik, fasilitator, sebagai ‘orang netral’ yang tidak memihak, bisa mendampingi pihak-pihak yang terlibat. Peran fasilitator adalah untuk mendengarkan pendapat semua pihak terkait, mencoba untuk mengembangkan dialog yang terbuka di antar pihak yang terkait dan cari pemecahannya bersama pihak-pihak terkait.

Metode:
Diskusi kelompok, Bermain peran

Bahan:
Flipchart, isolasi, sipdol, kartu metaplan,
Lampiran E4-1: Kartu-kartu kasus konflik

Pengaturan:
Tempat duduk ditempatkan dalam lingkaran dan disediakan kursi secukupnya untuk bermain peran (tergantung permain)

Prosedur:

Diskusi kelompok

ü Mintalah setiap peserta untuk menulis salah satu kasus tentang konflik kelompok (atau di kantor) yang mereka pernah alami (10 menit)

ü Bagilah peserta dalam kelompok (4 orang per kelompok)

ü Mintalah peserta untuk membahas konflik masing-masing dan cara pemecahannya yang telah dilakukan serta pencapaiannya (30 menit)

ü Mintalah masing-masing kelompok untuk menyiapkan suatu presentasi tentang cara pemecahan konflik sesuai hasil diskusi kelompok

ü Berikan kesempatan kepada masing-masing kelompok untuk menyampaikan presentasinya kepada forum pleno

ü Berikan kesempatan kepada peserta untuk diskusi

Bermain peran

ü Mintalah 6 orang sukarelawan untuk bermain peran:

    • 1 orang sebagai ketua kelompok
    • 3 orang sebagai anggota kelompok
    • 1 orang kepala desa
    • 1 orang fasilitator

ü Berikan waktu 5 menit kepada pemain untuk persiapan (per individu)

ü Mintalah kepada fasilitator untuk memikirkan tentang ‘strategi pemecahan’

ü Mintalah peserta lain untuk mengamati proses

ü Bermain peran

ü Memberikan kesempatan kepada ‘Fasilitator’ untuk menerapkan ‘strateginya’

ü Tanyakan kepada peserta:
Apa Anda saksikan dalam bermain peran ini?
Apa konflik?
Mengapa konflik itu bisa terjadi?
Bagaimana peran fasilitator dalam pemecahan konflik ini?
Ketrampilan apa diperlukan oleh fasilitator?

ü Berikan kesempatan kepada peserta untuk diskusi dan tulis hal-hal penting di atas flipchart agar peserta dapat baca kembali

ü Cobalah merangkum hasil diskusi

Berikan feedback

Suatu konflik biasanya muncul karena kekurangan keterbukaan di antara pihak-pihak terlibat. Pada awalnya, konflik sering tentang satu hal yang kecil, namun kalau tidak dipecahkan bisa menjadi masalah besar dan bisa membubarkan kelompok. Pemecahan konflik tidaklah gampang dan perlu fasilitator yang tidak memihak dan sangat sensitif. Peran fasilitator sebagai ‘negosiator’ dan ‘penasehat’ dalam pemecahan. Sangat penting lebih dahulu mendengarkan pendapat-pendapat dari semua yang terlibat serta orang netral lain. Kemudian fasilitator mencoba mengembangkan dialog yang terbuka di antara pihak-pihak tersebut untuk mencari solusi. Namun, ini tidak bisa dilakukan secara buru-buru dan perlu kesabaran dari fasilitator.

  1. Sumber

http://www.deliveri.org/guidelines/training/tm_8/tm_8_3_modulei.htm (diakses pada tanggal 19 Juni 2007, pukul 16.25)

  1. Perguruan Tinggi
  1. Kebutuhan Belajar

Latar Belakang Masalah

Saya memiliki seorang kakak yang saat ini sedang berkuliah di sebuah Universitas Negeri. Kakak saya saat ini sedang menjalani kuliah di tingkat 6. Pada tempat kakak saya berkuliah rata-rata seorang mahasiswa lulus 4 tahun. Namun kakak saya sudah melebihi 2 tahun dari sewajarnya.

Ketika ibu dan bapak kami menanyakan kepada kakak, kakak hanya menjawab, “Tenang saja, yang penting nanti lulus…Buat apa lulus cepat-cepat?”. Saya sempat berbicara serius dengan kakak mengenai ini, dan memang ternyata kakak memiliki hambatan dalam mengerjakan skripsi. Selain kuliah sebenarnya kakak saya tidak memiliki kesibukan apa-apa, kecuali sering berpergian untuk sekadara keliling dengan sepeda motor atau ke diskotik bersama teman-temannya yang sebenarnya sebagian besar dari mereka sudah lulus meskipun menganggur.

Kedua orang tua kami merupakan pekerja yang memiliki jabatan yang tinggi di masing-masing kantornya. Pola pendidikan keluarga memang cenderung permisif. Ditambah, tidak ada masalah finansial jika kakak saya lulus lama. Selain itu kakak saya kadang merasa bahwa ia sangat sulit untuk termotivasi karena sering merasa kesulitan ketika harus berhadapan dengan buku yang sebenarnya telah ia pelajari selama 6 tahun. Hal itu membuat kakak saya semakin tidak memiliki motivasi yang mendorongnya untuk menyelesaikan skripsi dengan segera.

Identifikasi Masalah

Pada akhir perkuliahan, mahasiswa harus membuat skripsi. Menurut Poerwadarminta (1983), skripsi adalah karangan ilmiah yang diwajibkan sebagai bagian dari persyaratan pendidikan akademis. Dalam membuat skripsi, mahasiswa harus mempunyai motivasi yang baik, yaitu agar skripsinya dapat diselesaikan dengan baik pula.

Sementara, motivasi didasari oleh adanya kebutuhan internal yang mendorong dan mengontrol tingkahlaku individu (Ariyanto, 1999). Jika mahasiswa mempunyai motivasi yang baik dalam mengerjakan skripsi maka semua tingkahlakunya harus dimaksudkan untuk dapat menyelesaikan skripsi tersebut.

Skripsi sering menjadi momok bagi mahasiswa, karena mahasiswa yang bersangkutan harus menyediakan waktu khusus untuk mengerjakannya sampai selesai. Bahkan, tidak sedikit dari para mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi mengalami banyak kendala. Mahasiswa dalam kasus ini mangalami kesulitan dalam mengarahkan tindakannya untuk menyelesaikan skripsinya yang sudah tertunda hingga 2 tahun.

  1. Sasaran Pembelajaran

Tujuan utama dari intervensi ini adalah meningkatkan dorongan atau orientasi berprestasi (achievement-orientation) dari mahasiswa tersebut. Menurut Goleman (1995), dorongan atau orientasi berprestasi (achievement-orientation) merupakan salah satu domain dari self-management yang berarti suatu kompetensi emosional dalam mengarahkan dorongan untuk mencapai tujuan yang merupakan standar invidu dalam hal kesempurnaan.

  1. Proses Fasilitasi

Dalam memberikan solusi atau pemenuhan kebutuhan dari kasus di atas, diperlukan sebuah intervensi yang dapat meningkatkan self-eficacy dari subjek. Pemberian intervensi menggunakan sebuah pendekatan positif, appreciative inquiry.

Appreciative berasal dari kata dasar appreciate yang berarti menghargai, suatu tindakan memahami sesuatu yang terbaik dalam individu atau dunia disekitarnya, memberi dukungan terhadap kelebihan, kesuksesan dan potensi di masa lalu maupun masa kini. Sementara, inquiry berasal dari kata dasar inquire, yang berarti tindakan mengeksplorasi dan menemukan; mengajukan pertanyaan untuk memperluas pandangan terhadap kemungkinan dan potensi baru (Cooperrider dan Whitney, 2001). Sementara, pengertian Appreciative Inquiry yang diajukan oleh pengembangnya, Cooperrinder (2000, dalam Watkins and Cooperrider, 2000) adalah sebagai berikut:

…is a worldview, a paradigm of thought and understanding that holds organizations to be affirmative systems created by humankind as solutions to problems. It is a theory, a mindset, and an approach that leads to organizational learning and creativity’.

Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition, Discovery, Dream, Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney, 2001 dan der Haar dan Hosking, 2004). Berikut ini adalah intervensi menggunakan bimbingan konsultasi yang apresiatif.

a. Definition. Langkah awal Appreciative Inquiry adalah memilih sebuah topik yang akan dieksplorasi (affirmative topic choice). Topik ini menjadi arah perubahan sekaligus kenyataan akhir yang akan terwujud.

è Topik dalam intervensi ini adalah motivasi dalam mengerjakan skripsi. Fasilitator dapat menggali lebih luar lagi arah tujuan mengenai pengerjaan skripsi dari mahasiswa tersebut. Selama proses ini merupakan juga proses membangun komitmen dari mahasiswa. Perkenalkan lebih dahulu paradigma apresiatif dan positif dalam konsultasi skripsi ini. Lakukan hal-hal yang dapat menggugah mahasiswa untuk menampilkan sikap yang apresiatif.

b. Discovery. Tujuan utamanya adalah mengungkap dan mengapresiasikan sesuatu yang memberi kehidupan dan energi kepada orang, pekerjaan dan organisasinya. Fokus tahapan ini adalah pada cerita positif yang merefleksikan pengalaman puncak.

è Pada tahap ini, mahasiswa berbagi cerita positif, mendiskusikan kondisi positif dari peluang pengerjaan skripsinya. Fasilitator harus terus menggali potensi-potensi positif mahasiswa yang saat ini belum terungkap oleh mahasiswa itu sendiri. Fasilitator harus bisa mengapresiasi dengan tepat apa yang menjadi nilai positif dari mahasiswa tersebut.

c. Dream. Tujuannya adalah bermimpi (dream) atau berimajinasi (envision) bagaimana idealnya pengerjaan skripsi di masa depan. Informasi pada tahap sebelumnya dijadikan pijakan untuk berspekulasi mengenai kemungkinan masa depan mahasiswa.

è Tuntun mahasiswa untuk dapat memberikan spekulasi dengan mengimajinasikan kemungkinan terbaik bagi pengerjaan skripsi, baik dalam hal kualitas skripsi, tebal halamannya, bahkan kecepatan waktu dalam menyelesaikan skripsi.

d. Design. Tujuannya adalah menciptakan atau mendesain perencanaan, proses dan hubungan yang mendukung mimpi yang telah diartikulasikan pada tahap sebelumnya. Aktivitas utamanya adalah menciptakan proposisi yang provokatif (provocative propositions) secara kolaboratif. Proposisi yang provokatif dapat dipandang sebagai mimpi yang realistis yang memberdayakan seseorang mencapai sesuatu yang lebih baik.

è Fasilitator memberikan insight untuk menciptkan perencanaan yang realistis. Pandu mahasiswa untuk menyusun langkah-langkah konkrit bagi penyelesaian skripsinya. Bantu mahasiswa untuk lukiskan tujuannya menjadi lebih terperinci dengan targetan yang terukur dan mudah untuk dipantau. Hal ini berkaitan dengan tahap-tahap atau langkah kerja beserta batas waktu yang diperlukan.

e. Destiny. Tujuannya adalah menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan potensi seseorang untuk membangun harapan, dan menciptakan proses belajar, menyesuaikan dan berimprovisasi.

è Fasilitator terus memfasilitasi pengerjaan skripsi dari mahasiswa tersebut. Berikan apresiasi dan pengingatan terhadap kesepakatan dan mimpi positif yang telah mahasiswa ciptakan. Berikan umpan balik secara apresiatif dari ‘prestasi pengerjaan skripsi’ yang telah diusahakan mahasiswa.

  1. Sumber

Watkins, Jane Magruder and David Cooperrider (2000), Appreciative inquiry: a transformative paradigm. http://www.odnetwork.org/odponline/vol31n1/transformative.html (diakses pada tanggal 18 Juni 2007, pada pukul 20.05)

About these ads