You are currently browsing the monthly archive for September 2008.
Mengerak tutupi lantang
Suara hati yang senyap
Ditelan kebuntuan pikir
Saat lumuran hina memoles
Diri ini yang tak tahu diri
Dan selalu lalai untuk terus berdiri
Maha Pengasih…
Malu aku terus mengemis kasih
Sedangkan maksiat sering melingkupiku
Tuk tutupi asa surgaku
Dan membuatku lupa atas cita rabbaniku
Maha Penyayang…
Berjuta kali Kau buktikan sayang
Meski diri ini sering berpaling
Memilih fatamorgana realitas
Yang butakan mata hati ini
Dan kelabui liku pikir ini
Beribu tetes aku tumpahkan air mataku
Beribu nafsu pula yang kupuaskan
Beribu sujud aku sungkurkan ke tanah
Beribu kesempatan pula maksiatku berkuasa
Aku tak tahu…
Apakah terlupa lagi setelah ini
Hanya kepada-Mu lah aku mohon kekuatan
Untuk tetap mendamba hangat-Mu
Dan untuk kesekian kalinya
Kulantangkan dalam jihadnya hati
DEKLARASI TAUBAT!!!
Malam 1 Muharram 1428 H
Jika aku lelah tersungkur
Pastikan setelah menempuh jalan-Mu
Jika aku jatuh dalam titian
Tetapkan dalam tali kuat-Mu
Jika aku terlupa dalam tawa
Hentikan dalam berdzikir pada-Mu
Jika aku nikmat dalam maksiat
Getarkan dengan ancaman-Mu
Jika aku lepas tuturku
Pandulah dalam hikmah dan ilmu-Mu
Jika aku gelisah dalam tidurku
Sejukkan dengan sentuhan wudhu pada malam-Mu
Jika aku kayuh gerakku
Ubahlah menjadi energi menuju-Mu
Jika aku umbar tatapku
Jagalah dalam kesucian niat untuk-Mu
Jika aku terlena dalam pendengaranku
Untaikan melodi indah firman-Mu
Jika aku tempa logikaku
Tuntunlah mengagumi kebesaran-Mu
Jika aku jatuh dalam fitrah cintaku
Semaikan dalam tulusnya mencintai-Mu
Jika aku melerai deras air mataku
Labuhkan ketika taubat bersujud pada-Mu
Jika aku dijemput sobatku Izroil
Izinkan dalam syahid dikelilingi cahaya-Mu
Jika aku abadi dalam nafasku
Sudilah naungi dengan ridho di surga-Mu
Jika cita ini hanya mimpi tentang jika
Wujudkan satu persatu dengan tegarkan ikhtiarku
Jika masih terlampau jika
Maka musnahkanlah jika dengan keteguhan cinta pada-Mu
Aku berkaca dalam setiap langkahku
Menelusuri lorong-lorong pertanyaan dalam pikirku
Dan menghabiskan waktu memandangi aspal yang panas
Sesungguhnya saat ini aku sedang kumat
Dengan perasaan yang melankolis
Berusaha menuai makna
Tentang tangisku
Dalam Jumat yang menyejukkan hati
Meskipun terik merajai siang
Saudaraku…
Serentak tubuhku bergetar
Mendengar keluhan dalam hatiku
Yang ingin bercengkerama dengan kalian semua
Satu per satu…
Seringkali…
Aku melihat kegundahan kalian dalam penelusuran ini
Di jalan yang tak berujung bagi mata
Namun berpuncak bagi hati yang merindu syahid
Saudaraku…
Seandainya tubuhmu sedang berada di sini
Inginku peluk dengan sangat erat
Sehingga aku bisa menghapus peluhmu
Dan menata guratan wajahmu menjadi senyum
Namun…
Aku hanya bisa menjamahmu dalam doaku
Yang tidak terlalu panjang
Saudaraku…
Jika kau butuh, aku ingin meminjamkan nafasku
Agar kau tak lagi pengap dalam pedihnya kekecewaan
Atau
Kupinjamkan tanganku
Untuk mendorongmu dikala kau melemah
Bahkan mengangkatmu dari jurang keraguan
Ketika sesekali perjalanan terjal ini
Menjatuhkan hatimu dalam luka dan ragu
Demi Allah aku melihatnya
Puncak itu semakin mendekat
Aku ingin…
Kita bisa bersenda gurau pada hari akhir
Desember, 2006
Ibarat kapal layar, saat ini Indonesia sedang menghadapi banyak gelombang tinggi serta terjangan badai yang memang tidak pernah bersahabat. Namun hal ini sudah menjadi konsekuensi perjuangan bangsa ini untuk mencapai sebuah pulau yang diberi nama “keadilan dan kemakmuran”. Di samping factor eksternal tersebut bangsa ini juga harus berpenat – penat dalam mengurus permasalahan internal, mulai dari yang kecil – kecil sampai yang dapat membuat kapal tenggelam ke dasar kemiskinan dan penjajahan.
Entah apa yang dipikirkan nakhoda bangsa ini – SBY – ketika melihat hantaman bertubi – tubi baik dari dalam maupun luar kapal. Dari sisi luar, kepemimpinan ini terus digoncangkan badai ekonomi yang tak pernah reda. Sedangkan dari dalam, tak tertolak lagi, ia harus “meneruskan perjuangan bangsa” dari para pendahulunya, nakhoda – nakhoda yang memiliki kontribusi besar yang mayoritas negatif. Masing – masing nakhoda yang menjadi pendahulu SBY meninggalkan banyak kekacauan di dalam kapal. Di sisi lain, pada masa ini masih saja ditemukan kesalahan dalam menentukan berkembangnya layar sebagai salah satu penentu arah kebijakan. Ditambah lagi para pendayung yang ternyata masih bersikap malas – malasan untuk bekerja.
Mari sejenak kita tinggalkan analogi menarik tersebut untuk menelaah secara ilmiah posisi bangsa Indonesia sebagai sebuah kelompok.
Dalam kajian tentang kelompok pada ilmu Psikologi Sosial, Read the rest of this entry »
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Berkehendak dan Pemberi Pelajaran….
Subuh ini, Rabu 3 September 2008, asrama PPSDMS angkatan IV yang tercinta heboh dengan kejadian hilangnya 2 buah laptop dan 5 buah handphone. Dengan para penghuni yang semuanya sholat Subuh di masjid, para maling – yang semoga diberikan Allah petunjuk – leluasa untuk mengambil barang-barang teman-teman asrama. Dalam hitungan kami, sekitar 3-4 menit para maling tersebut melakukan aksinya. Bahkan, Asep, salah satu peserta PPSDMS sempat melihat seseorang membawa tas belok ke sebuah gang kecil yang arahnya bisa menuju ke Bangbayang dan Kanayakan dan satu lagi berpapasan di area asrama kami. Memang sudah dalam rencana Allah, Asep gak “ngeh” dengan peristiwa itu, pasalnya maling tersebut berjalan santai tanpa terlihat “riweuh”.
Semuanya sudah terjadi, tinggal bagaimana kita bisa belajar atas kejadian ini. Seperti motto yang sering kuungkapkan setiap kali mengisi training…”Setiap kejadian pasti ada hikmah, beruntunglah orang-orang yang mendapatkannya…” Memang sebuah kesalahan fatal ketika pintu utama tidak kami kunci, ditambah lagi pintu belakang yang aksesnya cukup terbuka juga luput dari pandangan kami. Gorden kamar atas – yang barangnya hilang- juga terbuka sehingga mudah di pantau dari luar. Pasti malingnya cukup profesional dan sudah beberapa hari sebelumnya merencanakan ini. Namun, tetaplah Allah yang pastinya sudah merencanakan kejadian ini, entah untuk hikmah seperti apa. Mungkin ini adalah sebuah teguran kami yang masih kurang amanah menjaga harta titipan Allah. Juga menjadi sebuah indikator keimanan kami, apakah keimanan kami dapat goyah karena ujian ini sehingga berprasangka buruk terhadap Allah? Atau bahakan menghayati dan semakin mengimani bahwa sesungguhnya Allah sedang memperlihatkan cinta-Nya dengan membuat rencana seperti ini? Semoga kami sanggup untuk mencerna kejadian hari ini dengan pilihan pertanyaan yang terakhir tadi.
Di samping itu, usaha tetap harus dilakukan untuk mengembalikan barang-barang tersebut. Read the rest of this entry »
” Jika hujan turun lama dan deras.
Coba lihatlah keluar..Hitung dan rasakan banyaknya rintik hujan yang turun dari langit..
Sebanyak itulah aku bersyukur memliki teman sepertimu..
Maaf lahir batin.”
Pesan singkat di atas adalah satu dari berpuluh-puluh sms yang mampir di handphone-ku dalam 4 hari terakhir ini. Memang sudah terbiasa jika sebelum Ramadhan, umat muslim saling mengucapkan selamat Ramadhan dan minta maaf tentunya. Menurutku budaya seperti ini sangat mulia sehingga umat ini terbiasa untuk menyambut dan mempersiapkan Ramadhan dengan pakaian takwa terbaik.
Kembali lagi pada pesan singkat di atas…Ketika membacanya serentak berjuta memoriku terbuka menyajikan gambaran para sahabatku. Sahabat-sahabat yang selama ini – tanpa mereka sadari – menjadi guruku, sahabat-sahabat yang selama ini membantuku memaknai hari-hari, sahabat-sahabat yang tampak pada dirinya cahaya untuk mengingatkanku tentang Allah. Ya Allah…muliakanlah mereka, gantilah amal mereka sesuai dengan janji-Mu akan perdagangan mulia…
Lalu pertanyaannya…Seberapa banyak aku mensyukuri keberadaan mereka? Read the rest of this entry »












Recent Comments