You are currently browsing the daily archive for October 23rd, 2008.
Alhamdulillah aku sudah ganti dosen pembimbing, kali ini dosennya enakeun euy…Mba Ninin…Awalnya aku tertarik pada bagaimana proses komitmen membangun bangsa, namun ternyata sulit menemukan konsep ilmiahnya. Akhirnya setelah mewawancarai subjek yang ingin kuteliti, yaitu adik-adik PPSDMS-ku. Aku tertarik pada fenomena religiusitas yang menjadi latar belakang seseorang untuk beramal, membantu orang, bahkan samapi berkorban untuk orang lain. Ada hubungannya gak yah antara religiusitas dengan tingkah laku prososial??? Ada yang bisa bantu jawab???
Begini ceritanya………………….(maksudnya latar belakang)
Mahasiswa merupakan aset yang sangat berharga bagi suatu bangsa. Mereka merupakan tonggak bagi pengembangan menuju masyarakat madani (civil society). Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap perubahan yang terjadi pada suatu bangsa hampir selalu merupakan hasil inisiasi dari mahasiswa. Dalam sejarah Indonesia sendiri, mahasiswa selalu mengukir tinta emas perubahan ke arah yang lebih baik bagi Indonesia. Kita dapat melihat kembali buku sejarah kita tentang Taman Siswa, Sumpah Pemuda, Peristiwa Rengasdengklok, hingga Reformasi pada tahun 1998.
Kondisi bangsa Indonesia yang sedang mengalami berbagai krisis, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia membuat saat ini menjadi momentum wajib bagi mahasiswa berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat tujuan pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).(http://bz.blogfam.com/2006/05/menyoal_problematika_pendidikan.html)Diakses pada tanggal 1 Maret 2007.
Secara psikologis, mahasiswa sedang berada pada sebuah fase transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal. Pada masa ini mahasiswa mengalami perubahan yang penting bagi perkembangan psikososialnya. Menurut Erikson (1963, 1968), perkembangan psikososial pada usia seperti ini berada pada tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana mahasiswa tengah mengalami pencarian identitas diri. Mahasiswa mengacu kepada identitas yang berupa suatu prestasi atau penghargaan. Pada tahap ini pula, terdapat kesetiaan yang sangat tinggi terhadap komunitas yang ia ikuti, sehingga muncul rasa bangga dan pembelaan terhadap komunitas tersebut.












Recent Comments