Subuh yang dingin pada hari ini menjadi hangat. Alhamdulillah, setelah lama tidak berjumpa akhirnya gw mendengarkan lagi tausiyah-tausiyah yang menenangkan dari Ustad Taufiq, pengisi tetap program asrama Kajian Islam Pekanan. Pertemuan sekarang cukup spesial karena sudah sebulan gw gak bisa ikutan program ini. Soalnya waktu bulan puasa programnya dirubah jadi tiap selasa sore, dan itu bentrok dengan kuliah gw. Apalagi jarak kampus ke asrama kan butuh waktu tempuh 1,5 jam.

Seperti biasa, program dimulai dengan tilawah setengah halaman per orang. Setelah semua orang (9 orang) sudah selesai tilawah, Ustad angkat bicara. Pembukaannya dimulai dengan kata2 syukur. Bersamaan dengan itu…tiba-tiba mata gw gak bisa diajak kompromi dan mulai mengalirkan air mata. Yang gw rasa dan inget, air mata itu mengalir bersamaan dengan ingatan gw tentang ukhuwah. Ukhuwah yang sudah lama terasa kering, benar2 memberikan celah yang begitu merongga di dalam jiwa gw. Ukhuwah yang dulu membuat gw ingin berjuang membumikan Islam di sekitar gw, sekarang hampir hanya jadi syair nasyid aja. Gw ngerasa sendiri, teralienasi! Dengan segala amanah yang gw tanggung di kampus. Ketua BEM….Yang gw rasa…pundak gw bener2 pegal sekarang, bahkan membuat gw selalu terbungkuk…

Tapi bersamaan dengan tulisan ini, gw coba mengingat2 kejadian 3 hari lalu. Temen ada yang curhat soal perasaannya yang merasa kesepian di jalan dakwah…Wah…kok pas banget sama apa yang gw rasain. Akhirnya diskusi gw dan temen gw yang seakan-akan “saling mengobati” itu mendapat sebuah pencerahan. Dan yang lebih berbau “meta-memory”, kesimpulan ini gw utarakan ke temen gw berdasarkan pengalaman waktu SMA.

Yah…waktu SMA gw anak yang begajulan, sampai pada suatu saat gw mulai dapat hidayah dan mulai tekun untuk kenal dengan agama gw lebih jauh. Waktu itu usaha gw untuk membumikan Islam terbatas pada ngajak solat tepat waktu. Usaha gw waktu itu terasa nikmat, karena gw berada di sohib2 gw yang bisa dibilang sehidup sepenanggungan…Inswapala…Tapi dalam waktu2 tertentu gw ngerasa sendiri saat itu, lebih dahsyatnya pas gw merasa kayak gitu, gw dapet tausiyah yang intinya “Janganlah para pejuang merasa sendiri, padahal sebenarnya jiwa dan semangat para pejuang pendahulu masih hidup bersama-sama dengan mimpi para pejuang kini.”

Serentak ingatan masa SMA itu gw ungkapkan secara spontan ke temen gw yang lagi curhat itu. Dan membahagiakan…rasanya kata-kata yang gw keluarin spontan untuk menghibur temen gw itu agak menyegarkan gw akan realita yang sekarang terjadi. Pikiran tegar gw saat itu mulai berusaha meyakinkan diri…”Qih, mungkin ini adalah sebuah fase yang harus lu lewatin untuk menjadi orang yang lebih kuat dan bermanfaat bagi banyak orang.”

Namun 3 hari kemudian sampai sekarang hanya terus menyisakan rasa teralienasi tadi. Hingga akhirnya, permulaan kata-kata Ustad Taufiq menyentil rasa sensitif gw…Sampai sekarang gw cuma berusaha mengulang-ulang pemikiran ala SMA gw yang terlupa…. “Janganlah para pejuang merasa sendiri, padahal sebenarnya jiwa dan semangat para pejuang pendahulu masih hidup bersama-sama dengan mimpi para pejuang.” Teruslah bergulat prinsip para pejuang kini…lawan kelemahan rasa sendiri……..Dan hingga tulisan ini berakhir “mereka” masih bergulat…