Robin Hood : Dulu dan Kini

Sebuah legenda di Inggris menceritakan tentang perjuangan heroik seorang penjarah sekaligus pahlawan, Robin Hood. Berdasarkan cerita, ia dan kelompoknya tinggal di hutan Sheerwood untuk membangun perlawanan terhadap pemerintah Nottingham yang tiran. Dalam perlawanannya, Robin Hood sering melakukan aksi perampokan terhadap para orang kaya dan kemudian membagikan hasil jarahannya tersebut kepada rakyat miskin. Kondisi orang kaya pada saat itu adalah penindas rakyat kecil, sehingga ada dua pendapat yang menjadi respon terhadap Robin Hood. Menurut pemerintah ia adalah penjahat, sedangkan menurut rakyat kecil ia adalah seorang pahlawan.

Perdebatan mengenai pemberian ‘gelar’ kepada Robin Hood ini telah berjalan lama. Mulai dari diskusi warung kopi hingga perdebatan para ahli hukum. Karena secara realita, cerita ini tidak hanya menjadi sebuah legenda heroik yang manis namun memiliki implikasi juga terhadap penginterpretasiannya. Akhirnya pada saat ini ditemukan banyak kasus yang memiliki motif hampir sama dengan Robin Hood, ‘mencuri untuk kesejahteraan rakyat kecil’.

Pengulangan cerita Robin Hood di abad 21 ini terjadi di Jerman. Seorang pegawai bank Sparkasse Tauberfranken berhasil mencuri uang dari orang-orang kaya untuk menolong orang miskin. Laki-laki berusia 45 tahun yang disebut media massa Jerman sebagai Robin Hood zaman modern itu mengalihkan uang sebesar 2,1 juta euro dari tabungan milik orang kaya ke rekening nasabahnya yang miskin. Dengan melakukan tindakan ini, dia berupaya menjamin likuiditas para nasabah yang menurutnya hanya memiliki sedikit uang. Selain itu, dia juga memberi “pertolongan” kepada para nasabah yang tidak akan memenuhi syarat untuk mendapat pinjaman bank. Hal ini dilakukan sejak lima tahun lalu ketika dia memegang jabatan senior di bank tersebut. Aksi “Robin Hood” ini baru berakhir pada Januari 2006. Dia secara sukarela menyerahkan diri ke polisi dan mengungkap aksinya sendiri. Juru bicara pengadilan mengatakan bahwa warga Jerman asal Yugoslavia tersebut tidak memperkaya dirinya dengan uang curian itu. Selama di pengadilan, laki-laki tersebut mengakui semua perbuatannya. Penyelidik mengatakan, laki-laki itu telah mengganti sejumlah uang yang dia alihkan sehingga kerugian bank pada akhirnya hanya sekitar 640.000 euro. Akhirnya dia dihukum penjara selama dua tahun 10 bulan.

Kasus Robin Hood zaman dulu dengan zaman modern tersebut pasti menuai pro dan kontra mengenai apakah mereka adalah seorang penjahat. Perdebatan semacam ini tidak melulu harus mendapatkan kesimpulan benar dan salah, tetapi perlu dipahami lebih luas lagi sebagai suatu fenomena yang terjadi dalam kehidupan manusia. Dilihat dari aspek yuridis, mereka jelas melanggar satu atau lebih pasal dalam undang-undang serta harus mendapatkan hukuman dari pemerintahan. Namun, seringkali masyarakat menafsirkan bahwa perbuatan tersebut merupakan perilaku mulia yang perlu disandingkan dengan pahlawan. Bahkan, Robin Hood sendiri telah menjadi cerita rakyat yang selalu diopinikan sebagai seorang pahlawan. Terlebih saat ini, di Inggris tokoh Robin Hood telah diabadikan dalam bentuk patung.

Apakah Kejahatan?

Sebelum menentukan apakah Robin Hood penjahat atau pahlawan, terlebih dahulu perlu diketahui apa itu kejahatan. Tentang definisi dari kejahatan itu sendiri tidak terdapat kesatuan pendapat diantara para sarjana. R. Soesilo membedakan pengertian kejahatan secara yuridis dan pengertian kejahatan secara sosiologis. Ditinjau dari segi yuridis, pengertian kejahatan adalah suatu perbuatan tingkah laku yang bertentangan dengan undang undang. Ditinjau dari segi sosiologis, maka yang dimaksud dengan kejahatan adalah perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan si penderita, juga sangat merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman dan ketertiban. Sementara itu, J.E. Sahetapy dan B. Marjono Reksodiputro dalam bukunya Paradoks Dalam Kriminologi menyatakan bahwa, kejahatan mengandung konotasi tertentu, merupakan suatu pengertian dan penamaan yang relatif, mengandung variabilitas dan dinamik serta bertalian dengan perbuatan atau tingkah laku (baik aktif maupun pasif), yang dinilai oleh sebagian mayoritas atau minoritas masyarakat sebagai suatu perbuatan anti sosial, suatu perkosaan terhadap skala nilai sosial dan atau perasaan hukum yang hidup dalam masyarakat sesuai dengan ruang dan waktu.

Jika kita analisis dari dua definisi ilmiah di atas saja kita akan kembali mengulang pertanyaan. Apakah Robin Hood penjahat atau pahlawan? Memang jelas Robin Hood melanggar peraturan hukum dari pemerintahan yang berlaku dan juga merugikan orang kaya yang dirampoknya. Namun, pada waktu itu Robin Hood merupakan penolong bagi masyarakat kecil di Nottingham sehingga perlahan-lahan mereka bisa lebih sejahtera. Justru pada saat itu pulalah perasaan hukum yang timbul di masyarakat ‘proletar’ menganggap gerakan yang dibangun Robin Hood adalah gerakan yang mulia. Dalam perspektif yang fenomenologis, Hans von Hentig menggugat definisi-definisi hukum yang formal berkenaan dengan kejahatan sebagai tidak berhasil menanggapi kenyataan-kenyataan tingkah laku dari arti suatu korban psikologis. Oleh karena itu, menurutnya perspektif hukum tidak dapat menjangkau kerumitan kasus-kasus di mana korban bekerja sama dengan pelaku kejahatan, di mana individu-individu adalah korban maupun pelaku kejahatan, dan di mana orang yang kelihatannya adalah korban dalam kenyataannya adalah pelaku kejahatan.

Apa dan Siapa Penjahat?

Secara commonsense kita dapat dengan mudah mendefinisikan penjahat adalah pelaku kejahatan. Ternyata pendefinisian singkat itu tidak cukup untuk menjawab polemik awal kita untuk menentukan Robin Hood penjahat atau pahlawan. Kesulitan hukum di Indonesia untuk mendefinisikan secara yuridis siapa itu penjahat adalah tidak adanya satu pasal pun yang memuat pengertian tentang penjahat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Namun terdapat beberapa klasifikasi terhadap penjahat yang dapat kita gunakan sebagai pendekatan untuk memahami apa dan siapa penjahat.

Mayhew dan Moreau mengajukan tipologi kejahatan berdasarkan cara kejahatan yang dihubungkan dengan kegiatan penjahat, yaitu penjahat profesional yang menghabiskan masa hidupnya dengan kegiatan-kegiatan kriminal dan penjahat aksidental yang melakukan kejahatan sebagai akibat situasi dan kondisi lingkungan yang tidak dapat diperhitungkan sebelumnya. Sedangkan Lindesmith dan Dunham membagi penjahat atas penjahat individual yang bekerja atas alasan pribadi tanpa dukungan budaya dan penjahat sosial yang didukung norma-norma kelompok tertentu dan dengan kejahatan memperoleh status dan penghargaan dari kelompoknya.

Dalam pembahasan mengenai definisi penjahat di atas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa seorang Robin Hood merupakan penjahat. Terlepas dari termasuk klasifikasi penjahat seperti apakah Robin Hood, dua definisi di atas cukup menggiringnya diberikan label ‘penjahat’ dalam kacamata pemerintahan dan hukum pada saat itu tentunya. Namun hal ini jangan dijadikan kesimpulan akhir yang baku bagi perdebatan di atas. Kita perlu mendulang lebih banyak perspektif lagi untuk lebih mendekati kebenaran.

Apakah Penjahat adalah Penjahat?

Perkembangan filsafat ke arah fenomenologis memberikan sebuah perspektif yang sangat kritis dalam menuntaskan sebuah persoalan. Hans von Hentig menyatakan beberapa penjahat adalah korban sistem peradilan pidana, beberapa karena sebagai anggota golongan-golongan sosial tertentu yang diperlakukan lain sehingga merugikan mereka (discriminated against), dan orang-orang yang menempuh karier penjahatan sebagai akibat pemberian cap (labelling) oleh sistem.

Dalam legendanya, alasan Robin Hood mengambil harta orang kaya lahir dari ketidakadilan yang dilihatnya terjadi di negerinya. Sehingga kesadaran moral bahwa ia harus menolong yang lemah lebih kuat dibandingkan dengan cara ia menolong. Karena norma yang dianutnya pada saat itu adalah bahwa harta yang ada pada orang kaya itu merupakan harta orang-orang miskin yang ada di sekitarnya.

Dari argumentasi di atas apakah pemberian cap ‘penjahat’ yang telah kita tempelkan pada Robin Hood akan kembali luntur? Mengingat pada zamannya, rakyat kecil memang sudah terlalu teraniaya. Hukum dan peradilan merupakan milik penguasa dan orang-orang pemegang harta. Lalu norma apalagi yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan di awal? Karena tetap saja ‘penjahat’ Robin Hood dipandang sebagai tokoh pahlawan bagi rakyat Inggris.

Akhirnya argumentasi di atas tetap melahirkan pertanyaan lama yang belum juga menemukan sintesanya. Yang terpenting bukanlah pemberian capnya, tetapi lebih pada bagaimana kita memahami masalah agar evaluasi terhadap kecacatan hukum di Indonesia segera tuntas.

Daftar Pustaka

Anwar, Yesmil. Saat Menuai Kejahatan. Bandung: Unpad Press.2004

Freda, A., Gerhard, O. W., William, S.L. Criminology 3rd edition. Boston: McGraw-Hill Companies, Inc. 1995

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0706/16/ln/3604495.htm (diunduh Senin, 22 Oktober 2007, pukul 20.10)

http://library.usu.ac.id/download/fh/pid-syahruddin1.pdf (diunduh Selasa, 23 Oktober 2007, pukul 12.28)