Peran partai politik saat ini terseret pada arus realita yang pragmatis. Pembentukan awal sebuah parpol yang sebenarnya mengusung politik nilai, harus bergulat dengan realita rusaknya sistem politik Indonesia masa kini. Politik nilai yang pada awalnya menjadi idealisme yang harum, berubah menjadi politik kekuasaan yang penuh dengan kebusukan dan bau anyir.

Kemerdekaan dan pembelajaran demokrasi di Indonesia memang baru memiliki jam terbang selama 62 tahun. Perjalanannya pun sangat dinamis, sering berubah. Mulai dari sistem yang demokratis hingga otoriter pernah ditempuh. Mulai dari sistem perwakilan hingga kini menganut sistem presidensial menjadi cermin bahwa parpol hingga saat ini belum bisa menempati peran sebenarnya sebagai komunikator dan penyelaras antara idealisme bangsa dan realita yang terjadi kini. Sistem presidensial yang kita anut kini menjadi bumerang bagi pendewasaan parpol. Semua parpol berburu untuk melanggengkan kekuasaannya dikursi-kursi penting. Parpol bahkan jarang berpikir tentang bagaimana melakukan pelayanan pendidikan dan ekonomi kepada masyarakat. Kalau pun ada, hal itu lebih menjadi topeng politik untuk meraih suara sebanyak-banyaknya.

Buruknya konsistensi mempertahankan hati nurani yang ditampilkan para pemimpin bangsa akan menjadikan apapun parpolnya, seidealis apa dia dibentuk, mau tidak mau harus bersentuhan dengan kebusukan realita. Beberapa parpol, misalnya Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Demokrat yang gegap gempita menyambut reformasi dengan mendirikan partai kini hampir menjadi bulan-bulanan kebobrokan sistem politik Indonesia. Jam terbang yang sangat minim membuat mereka harus mengingat kembali idealisme yang diusung serta bagaimana mendidik rakyat tentang idealisme itu. Hal ini lebih penting dibandingkan dengan usaha menarik massa sebanyak-banyaknya yang pada jangka panjang hanya akan menjadi massa ilusi bagi penanaman nilai.

Kini politik nilai sulit untuk ditemukan di semua partai. Politik kekuasaan yang merupakan respon alamiah dari sistem presidensial ini menjadi pola pikir para politikus bangsa. Sedangkan disisi lain, rakyat yang telah menantikan nasi hangat dan sedikit air teh harus kecewa dengan wakil rakyat mereka di gedung MPR yang berlagak seperti mpunya bangsa ini. Kebijakan yang dilahirkan disesuaikan dengan kepentingan pribadi dan partai. Bagaimana bisa bangsa Indonesia mencapai cita-citanya jika para pemimpinnya saja orang-orang yang tidak sadar diri, tidak mampu untuk empati, dan tidak mau mengakui kesalahan diri.

Sudah saatnya para politikus besar dan parpol yang masih memiliki hati nurani untuk mengevaluasi diri dan partai. Jangan terus terjebak dengan keinginan pribadi atau norma kelompok. Lepas semua atribut nafsu dibenak dan hati kita. Kritisi segala kebijakan parpol dan pemerintahan. Jika sulit mengkritisi partai kita sendiri, mulailah terbuka dengan opini luar tentang parpol dan sistem politik Indonesia. Dari upaya meningkatkan kesadaran inilah batasan tentang benar salah bisa terlihat terang. Terima kekurangan diri dan partai, sehingga langkah menuju idealisme bisa kembali disusun. Pada akhirnya, mimpi kita semakin dekat untuk menuju Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.