Saat ini saya sedang duduk menghela nafas yang lumayan tersengal untuk sejenak istirahat sambil mencorat-coret buku saku yang selalu menjadi partner kompak. Baru saja kami (Satkorlak Unpad) bersama-sama dengan warga di sini membangun sebuah fasilitas MCK umum yang logistiknya merupakan bantuan dari LPTP (Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan) Surakarta.
Berkebalikan dengan ungkapan yang biasa diucapkan seperti ini: “Tidak terasa…padahal sudah tinggal…”, saya malah merasa seperti sudah lama tinggal di desa ini. Kami tinggal di rumah warga yang sangat ‘welcome’ sama seperti warga satu desa ini terhadap kami. Lokasi tepatnya di Rw 13, Desa Melikan (orang desa mengejanya Meli’an), Kecamatan Wedi, Klaten. Selama 5 hari ini, saya merasakan warna yang berbeda dalam keseharian. Sebagai orang yang berusaha menjadi relawan yang sesungguhnya, saya agak kawatir jika saja tidak bisa berkontribusi di desa penghasil padi dan tembakau ini. Jangan sampai saya menjadi seorang ‘rihlahwan’ (pelancong.pen).
Keadaan desa pasca gempa sangat menusuk titik kemanusiaan siapa saja yang berhasil berempati. Anak-anak di sini, meskipun ceria mereka selalu merekah ketika bersama kami, menyimpan sebuah guncangan mental yang sulit dianalisa dengan ilmu psikologi saya yang masih ecek-ecek. Hal ini sangat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku mereka. Ketika bersama kami maupun teman-teman mereka, mungkin trauma gempa dapat direpresi atau disublimasi. Namun saat malam mulai berkuasa dan membuka sisi kelam memori, bayangan gemuruh gempa berhasil menundukkan mental mereka. Walhasil, mereka masih takut tidur di dalam rumah, dan memilih untuk tidur di dalam tenda-tenda terpal. Orang tua pun tidak berbeda keadaannya. Bahkan saya menyaksikan seorang yang tidur di tengah jalanan dengan beratapkan langit cerah, dihiasi bintang-bintang yang genit berkedip serta diterangi bulan yang memang saat itu mengijinkan seluruh tubuhnya dipantulkan sinar sang raja siang.
Saya sangat merasakan kerumitan psikologis mereka. Dalam beberapa hari terakhir ada isu yang sangat santer terdengar dan terkenal seantero wilayah korban gempa. Gosip ini menebar teror yang tidak kalah kejinya seperti teror yang dilancarkan duet maut Amerika-Israel untuk menelanjangi iman dan akal. “Sekitar tanggal 15-17 Juli, gempa besar akan terjadi lagi!” Hosh..berita yang katanya berasal dari paranormal yang mengaku mengetahui masa depan dari primbon-primbon ini telak saja mengobrak-abrik ketenangan warga yang memang belum pulih benar. Jelas saja masyarakat yang masih kental kejawennya ini setidaknya meyakini ramalan dahsyat itu. Tenda-tenda segera digelar ‘menyambut gempa’. Wallahu’alam bissowab.
Rehabilitasi fisik menjadi agak tersendat. “Secara” bantuan yang dijanjikan lewat koarnya bapak wakil presiden kita tercinta, Mas Yusuf Kalla (yang mudah-mudahan layak untuk dicintai) sebesar 30 juta tiap rumah, menyebabkan warga lebih memilih menghancurkan sampai rata tempat tinggal mereka. Awalnya saya pikir mereka menghancurkan rumah-rumah mereka karena memang sudah sangat rapuh sehingga tidak bisa dipugar lagi. Ya lagi-lagi…’secara gitu loch’, kan bakal dapat 30 juta! Hosh…lagi-lagi dan lagi-lagi saya menghela nafas dengan berat setelah menariknya dalam-dalam ditambah dengan senyum kecut alakadarnya ketika mendengar penuturan rekan relawan dari LPTP Surakarta yang memang sudah lebih lama mendalami seluk beluk masalah korban bencana.
Kesimpulannya??? Teman-teman Fapsi yang saya cintai dan banggakan…ternyata potensi kemahasiswaan kita sangat dielu-elukan di sini, kemampuan intelektual kita sangat bermanfaat untuk membangun kembali secara integral, baik fisik, mental, akal, dan spiritual. Minimal jika kita tak bisa terjun berkontribusi langsung ke medan lapangan amal dan ilmu ini, ‘kencangkan ikat pinggang’, minimalisir pekerjaan sia-sia untuk sekedar berempati agar kita lebih bisa menembus dimensi waktu dan jarak untuk bisa membiarkan hati nurani kita berinteraksi dan membiarkannya menggerakkan segala potensi kita untuk bergerak dan memberikan solusi. Sisihkan uang jajan. Kalau tidak bisa juga…???!!! Oke lah masih ada toleransi lagi, setidaknya pastikan doa teman-teman sampai ke langit.
Salam bahagia dari kami yang sangat bahagia membuat saudara-saudara kami kembali bahagia.

Fiqih Santoso (I1O04014)
Ladang ilmu dan amal, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Klaten
13 Juli 2006