Minggu, 28 Oktober 2007
Ketika Bulan Mencari Jati Diri
Resensi oleh : Maria Dian, Psikolog
Judul Buku : Lelakon
Penulis : Lan Fang
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : I, September 2007
Tebal : 272 Halaman
DALAM kehidupan, manusia memiliki lebih dari satu lakon (peran) yang tercitra dari jati diri masing-masing. Jati diri adalah aku yang sebenarnya, karakter pribadi yang memuat banyak sifat (traits), karakteristik, kebutuhan, hasrat, dan sebagainya. Semua itu membentuk jati diri masing-masing individu yang pada dasarnya unik.
Saat manusia mulai membawakan lakon kehidupan di luar diri, yaitu dalam masyarakat atau peran mahluk sosial, maka lakon pun berkembang dan jati diri terpengaruh. Jati diri memulai proses melihat, membandingkan, merasakan, memikirkan, dan menyimpulkan. Jika jati diri tidak sekokoh karang maka ia cepat dilebur oleh ombak-ombak pengaruh, positif atau negatif, bergantung lingkungan seperti apa yang memengaruhi.

Karena itu, dibuatlah sebuah tatanan dalam beragam bentuk, dari yang sederhana sampai yang sifatnya tertata-tercatat- terlegitimasi: adat-istiadat, norma budaya, nilai luhur, aturan-peraturan, hingga hukum. Semua hadir untuk memberikan panduan, arahan, atau bisa juga batasan agar manusia dapat mempertahankan jati dirinya; agar tetap seperti sebagaimana ia menjadi dirinya.
Lelakon ditulis dengan emosional, mengguncang perasaan –memancing rasa gemas pada setiap karakter tokohnya. Gaya bahasa yang cenderung centil dan meledak-ledak menggambarkan satu per satu lakon beserta kecenderungan emosionalnya. Ada yang berambisi menjadi kaya, merasa muak menjadi miskin, lelah hidup dalam sebuah kehidupan yang tertata rapi, dan puas-bangga menjadi parasit (pencuri/perompak) atau pengecut dalam hidupnya. Inilah kiasan bagaimana jati diri dilebur ke dalam kehidupan masyarakat.
Penceritaan lakon-lakon yang menarik untuk diikuti dari awal hingga akhir. Sebuah kisah yang menceritakan secara gamblang perasaan (emosional) ”jati diri” ketika diri yang sesungguhnya harus berhadapan dengan realitas yang pahit-kejam- bengis-tiada ampun. Sebuah kisah yang apa adanya membuka-mengeksplor asi-mendudah isi hati yang terdalam, yang paling benar, yang paling jujur: hati nurani.

Lan Fang seakan bereksperimen dengan berbagai kondisi emosional yang membuat emosi pembaca serasa mengendarai roller-coaster. Perasaan demi perasaan dibuka dalam lelakon dengan permainan luwes gaya bahasa yang medhok Jawa. Justru itulah maka kisah ini menjadi terasa dekat dengan keseharian kita.(Maria Dian, Psikolog)

Diambil dari audifax – <audivacx@yahoo. com