indonesia.jpg

Umur reformasi yang sudah melewati usia kesembilan kini bagai rumusan yang tak terurus. Transisi bangsa Indonesia telah menemukan kebuntuan arah yang menimbulkan kegamangan untuk terus bergerak. Semangat perubahan yang dahulu berhasil meruntuhkan ‘penjara’ orba kini bagaikan luntur tak lagi seheroik orasi-orasi para tokoh reformis yang dulu sangat terlihat meyakinkan. Rupanya waktu bagi rakyat untuk bermimpi indah tentang kesejahteraan mereka – lantaran reformasi- kembali menemukan realita pahit bahwa harga kebutuhan pokok pun terus melambung.

Jika kita sejenak memanggil kembali ingatan kita tentang guncangan krisis ekonomi pada 1998 yang lalu, maka akan begitu sulit bagi kita membedakannya dengan tahun 2007 sekarang ini. Kecuali kita adalah seorang ahli ekonomi yang mengungkap fakta tentang peningkatan ekonomi bangsa dalam tataran makro saja. Sedangkan dalam sektor riil yang bersinggungan langsung dengan ‘perut rakyat’, pemerintah belum berhasil menemukan formula tepat untuk memberdayakan usaha kecil.

Kesemuan reformasi tak hanya berada dalam sektor ekonomi saja, begitu juga pada aspek – aspek lain. Dari masih lemahnya penindakan hukum bagi tersangka koruptor hingga malunya Indonesia ketika lampu Gelora Bung Karno padam saat pertandingan sepakbola semakin menjelaskan bahwa sesungguhnya bangsa ini belum melangkah sejenak pun dari krisis multidimensi. Dan akhirnya kita selalu terjebak dalam opini – opini negatif tentang bangsa ini dan terus menerus kecewa dan saling menyalahkan. Penyelesaian masalah yang selalu digumam-gumamkan justru menambah sederet luka dan saling tuduh.

Seringkali sebutan Indonesia sebagai ‘bangsa miskin’, ‘bangsa pemalas’, atau sejumlah atribut negatif lainnya akhirnya membentuk realita yang berwarna negatif. Realita ini terbentuk oleh sebuah kebiasaan membicarakan kekurangan yang harus diperbaiki. Alih-alih problem solving, pembicaraan negatif tanpa solusi konkrit mengarahkan kita untuk terus mengelilingi lingkaran setan dari keterpurukan bangsa. Terlebih lagi pembicaraan itu tidak lagi bersifat individual, tetapi juga meluas secara sosial berkat peran kaum intelektual dan media massa dalam kehidupan berbangsa. Bahkan yang terakhir, seorang psikolog besar Indonesia, Sarlito W.S., dengan pedas menyatakan, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang teledor (Kompas, Sabtu, 17 September 2005).

Serentetan pembicaraan mengenai kekurangan bangsa Indonesia seakan – akan menyembunyikan beberapa fakta yang menunjukkan prestasi yang terukir sejak reformasi bergulir. Kita lupa bahwa anak-anak muda bangsa berhasil meraih medali emas Olympiade Fisika. Dan kita pun seakan-akan menutup kuping dengan keberhasilan pemerintahan dalam melunasi utang kepada IMF. Kita harus lepas dari paradigma berpikir negatif untuk keluar dari lingkaran setan tersebut. Untuk itu kita tidak hanya perjuangkan reformasi, bahkan revolusi putih!

Dalam mengusung revolusi putih tersebut dibutuhkan suatu terobosan berpikir untuk memandang realitas dan bangsa ini dengan cara pandang baru yaitu menggunakan Appreciative Inquiry. Appreciative Inquiry merupakan sebuah metode yang mentransformasikan kapasitas sistem manusia untuk perubahan yang positif dengan memfokuskan pada pengalaman positif dan masa depan yang penuh dengan harapan (Cooperrider dkk., 2000). Dengan Appreciative Inquiry, kita akan dapat memandang realita bangsa secara lebih positif dan menimbulkan gairah untuk terus berkarya sesuai dengan potensi yang kita memiliki. Secara personal paradigma ini memandang bahwa pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk mengambangkan diri sehebat mungkin.

Dalam sepuluh tahun terakhir, Appreciative Inquiry menjadi sangat populer dan dipraktekkan di berbagai wilayah dunia. Dalam konteks kebangsaan yang memang lebih luas dan lebih kompleks, hal ini perlu dilakukan dalam segala aspek dan tataran lingkungan. Misalnya seperti untuk mengubah budaya sebuah organisasi, melakukan transformasi komunitas, menciptakan pembaharuan organisasi, mengarahkan proses merger dan akusisi dan menyelesaikan konflik. Dalam bidang sosial, Appreciative Inquiry digunakan untuk memberdayakan komunitas pinggiran, perubahan kota, membangun pemimpin religius, dan menciptakan perdamaian.

Revolusi putih ini jelas berinti pada perubahan paradigma dalam memandang realitas bangsa secara positif. Sehingga pikiran kita tidak terpaku pada bagaimana kita membahas kekurangan dan merasakan penyesalan serta kekecewaan yang berlebihan tentang terpuruknya bangsa ini. Perubahan paradigma ini menggiring kita untuk selalu menemukan hal yang terbaik pada diri, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa kita untuk kemudian ditransformasikan secara produktif menuju cita-cita bangsa.