You are currently browsing the monthly archive for January 2008.

Dalam kehidupan sehari-hari mulai dari interaksi intrapersonal, interpersonal, maupun yang meluas pada kehidupan berbangsa dan bertanah air, bahasa memegang peran utama. Peran tersebut meliputi bagaimana proses mulai dari tingkat individu hingga suatu masyarakat yang luas memahami diri dan lingkungannya. Sehingga pada saat inilah fungsi bahasa secara umum, yaitu sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, memberikan perannya.

Dalam mengembangkan diri, seorang individu akan berusaha untuk beradaptasi dengan bahasa yang ada di lingkungannya. Penelitian Chomsky tentang gen dan bahasa mengungkapkan bahwa seorang individu memiliki kemampuan alami untuk memahami bahasa secara umum yang akan beradaptasi untuk lebih spesifik memahami bahasa yang digunakan di lingkungannya. Proses adaptasi bahasa dalam seorang individu memandunya untuk mengidentifikasikan dirinya pada kelompok yang memiliki bahasa yang sama dengan dirinya. Maka dari itu proses alamiah tersebut perlahan membentuk ikatan sosial antara individu dengan individu yang lain dalam sebuah kelompok masyarakat.

Proses pengidentifikasian kelompok yang terus berjalan dalam individu membentuk suatu bentuk warna kepribadian. Hal tersebut sesuai dengan kesimpulan Prof. Anthony melalui kajian semantik dan etimologi kata mengenai bahasa yang merupakan cerminan dari watak,sifat, perangai, dan budi pekerti penggunanya. Read the rest of this entry »

Bergalon-galon air mata tercucur mengiringi kepergianmu…entah apa alasannya…yang jelas bapak sudah menorehkan sebuah goresan cukup dalam di hati rakyat Indonesia. Goresan yang manis dan pahit, putih dan hitam, bahagia dan duka…menjadi satu dalam misteri. Misteri tentang apa yang terjadi saat Munkar-Nakir menemui.

Bapak…aku kenal senyummu, sejak masih menumpang untuk melihat siaran televisi di rumah tetangga. Aku kenal cara berjalanmu, sejak aku bisa mengendarai sepeda roda dua. Aku kenal logatmu, sejak aku masih suka disuapi. Tapi aku tidak kenal jalan pikirmu, kebijakan politikmu, dan kasih sayang kepada keluargamu…

Achhhh..Bapak, semoga kau mendapat yang terbaik di alam sana. Maafkan aku pak tidak kenal dengan Munkar-Nakir yang akan menghadapimu…

Jakarta…kuinjak lagi setelah sudah hampir 2 tahun tidak pernah bersua. Jakarta tempat lahirku dimana aku banyak belajar tentang perjuangan, tangisan anak jalanan, kekerasan tawuran antar pelajar, nekatnya preman Pulo Gadung, dan kesendirian diri, serta anehnya perasaan sendiri di tengah keramaian….

Jakarta menyimpan sejuta fenomena dimana semuanya menyatu, namun belum membentuk harmoni. Penyatuan yang terlihat hanyalah perjuangan penuh nafsu mendapat yang terbaik. Kaya-miskin menjadi suasana paradoks yang sering mengundang senyum kecut. Jakarta bukan kota impian, melainkan kota kegilaan akan dunia.

Jakarta masih seperti dulu rupanya, selalu bisa mengajariku tentang hitamnya hidup sebagaimana hitamnya asap metromini yang usang ditelan aspal. Atau tempat duduknya yang berhasil menyiksa lutut. Jakarta masih mengundang senyum pahit dikala menatap sopir angkot menjual harga diri dan kejujuran demi tempat duduk yang terisi dan kantong yang menebal. Tak tahu rimbanya uang itu akan bermuara, semoga untuk pendidikan anaknya yang masih punya binar nurani.

Jakarta…seribu satu kisah tentang paradoks, ketimpangan, dan nafsu mengejar dunia…Lelah…

Semoga masjid-masjid yang terbangun megah menebarkan panggilan-Nya untuk menyejukkan nurani yang sudah lama kering, hampa dan lelah…

Hari pahlawan sudah berlalu selama dua bulan lebih. Namun hal ini kurang bisa dijadikan momentum oleh bangsa Indonesia untuk membenahi diri. Pahlawan rasanya tinggal menjadi kerangka sejarah yang segera dilupakan dan dibuang ke dalam selokan lahat yang gelap. Bangsa ini sudah bisa melupakan jasa pahlawan yang juga berarti penindasan kemerdekaan. Padahal ruh pahlawan harus senantiasa hidup sebagai pelecut kita untuk bangkit dari keterpurukan multidimensi saat ini.

Banyak frasa dan istilah yang beredar bebas di masyarakat Indonesia dengan kata utama ‘pahlawan’. Mulai dari pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekaan, hingga pahlawan kesiangan, pahlawan tanpa tanda jasa, bahkan pahlawan bertopeng-nya Sinchan. Frasa dan istilah mengenai ‘pahlawan’ seperti demikian memberikan pengaruh untuk terciptanya banyak persepsi yang melengkapi kata ‘pahlawan’ tersebut dengan atribut-atribut tertentu. Kebiasaan masyarakat untuk menambahkan atribut sebagai bumbu dalam pemaknaan kata ‘pahlawan’ inilah yang kemudian memberikan rasa masing-masing kepada setiap penabur bumbu tersebut.

Read the rest of this entry »

Aku adalah bayang-bayang

Yang terus merasakan mimpi

Tak tahu di mana aku berada? Dari mana asalku?

Semua terjadi begitu saja…

Hingga sering terfikir…

Aku adalah aktor film

Menjadi bintang utama tentunya

Hungga semua orang hanya berakting di depanku

Mereka semua hanya hiburan!

Read the rest of this entry »

bendera-indonesia.jpgpancasila.jpglaa-ila-haillallah.jpg

Indonesia pada hakikatnya belum menjadi sebuah bangsa yang utuh. Hingga saat ini sebenarnya pergulatan ideologi masih belum selesai. Ideologi Pancasila yang telah menjadi konsep ideologi yang menaungi wilayah kesatuan Indonesia masih memiliki banyak penafsiran. Para pendiri bangsa dulu mengalami suatu dinamika politik nasional yang di luar prediksi sehingga pengkomunikasian visi “Pancasila” tersendat. Kemudian kegamangan ideologi dan pemaknaan Pancasila di perbesar lagi dengan adanya politisasi Pancasila yang dilakukan orde baru. Selama 32 tahun hegemoni yang dibangun berhasil mengalihkan Pancasila dari ideologi atau jiwa menjadi alat pemerintah untuk membuat model manusia Indonesia menjadi homogen secara represif. Akhirnya pada saat ini Pancasila hanya menjadi rumusan yang belum tersimpulkan sehingga Indonesia belum menjadi sebuah Bangsa Indonesia, tetapi pada hakikatnya baru sekadar “Sesuatu Indonesia”. Penyebutan bangsa Indonesia belum pada tataran kepribadian, masih dalam bentuk opini dan usaha politis dalam rangka mempersatukan rakyat yang hidup di wilayah Indonesia. Read the rest of this entry »

Detik pergantian waktu termantik di tengah malam tepat. Keramaian membuncah di setiap ufuk langit. Pelangi api bersautan mengumbar gempita. Meski jiwa menyambut riang, namun tak begitu dengan samudera hatiku. Paginya lebih serupa…lengang, tenang, sedikit hampa. Lirihku masih tertinggal di 2007, atas tangis mereka, atas kedunguanku…

1 Januari 2008

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
January 2008
S M T W T F S
« Dec   May »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 101,099 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara