Aku adalah bayang-bayang

Yang terus merasakan mimpi

Tak tahu di mana aku berada? Dari mana asalku?

Semua terjadi begitu saja…

Hingga sering terfikir…

Aku adalah aktor film

Menjadi bintang utama tentunya

Hungga semua orang hanya berakting di depanku

Mereka semua hanya hiburan!

Aku adalah bayang-bayang

Yang terbuang dari tubuhku

Namun terus kumencari naskah filmku

Tuk membunuh rasa muak ini

Hingga sering terpikir…

Aku adalah makhluk halus

Yang tak pernah digubris

Hanya berjalan menyusuri trotoar panas

Tanpa mendapat arti diri

Aku adalah bayang-bayang

Yang selalu merasa sendiri

Dalam tawa-tawa mereka

Hanya temukan keheningan

Hingga sering terpikir…

Aku adalah malaikat

Yang lahir tanpa dibelai manja

Dicium lembut oleh ibu

Tertawa hangat dengan bapak

Aku adalah bayang-bayang

Yang tak pernah menyela lelah

Saat adzan berkumandang

Yang katanya panggilan dari Allah

Hingga sering terpikir…

Aku adalah setan alas

Yang dipersiapkan untuk dijilat api neraka

Namun sering kuberharap…

Mereka…pemeran figuran terbakar habis

Lebih dulu dari aku

Hingga bisa dengan puas kutertawai mereka

Yang sering menertawai dan menginjak

Jati diri yang terus bertualang menyusuri hampa

 

 

Oktober 2004

(terinspirasi dari cerita Muslim, anak jalanan kota Bandung dalam komik fotografi “Bunga-bunga trotoar”,2002)