Bergalon-galon air mata tercucur mengiringi kepergianmu…entah apa alasannya…yang jelas bapak sudah menorehkan sebuah goresan cukup dalam di hati rakyat Indonesia. Goresan yang manis dan pahit, putih dan hitam, bahagia dan duka…menjadi satu dalam misteri. Misteri tentang apa yang terjadi saat Munkar-Nakir menemui.

Bapak…aku kenal senyummu, sejak masih menumpang untuk melihat siaran televisi di rumah tetangga. Aku kenal cara berjalanmu, sejak aku bisa mengendarai sepeda roda dua. Aku kenal logatmu, sejak aku masih suka disuapi. Tapi aku tidak kenal jalan pikirmu, kebijakan politikmu, dan kasih sayang kepada keluargamu…

Achhhh..Bapak, semoga kau mendapat yang terbaik di alam sana. Maafkan aku pak tidak kenal dengan Munkar-Nakir yang akan menghadapimu…