Jakarta…kuinjak lagi setelah sudah hampir 2 tahun tidak pernah bersua. Jakarta tempat lahirku dimana aku banyak belajar tentang perjuangan, tangisan anak jalanan, kekerasan tawuran antar pelajar, nekatnya preman Pulo Gadung, dan kesendirian diri, serta anehnya perasaan sendiri di tengah keramaian….

Jakarta menyimpan sejuta fenomena dimana semuanya menyatu, namun belum membentuk harmoni. Penyatuan yang terlihat hanyalah perjuangan penuh nafsu mendapat yang terbaik. Kaya-miskin menjadi suasana paradoks yang sering mengundang senyum kecut. Jakarta bukan kota impian, melainkan kota kegilaan akan dunia.

Jakarta masih seperti dulu rupanya, selalu bisa mengajariku tentang hitamnya hidup sebagaimana hitamnya asap metromini yang usang ditelan aspal. Atau tempat duduknya yang berhasil menyiksa lutut. Jakarta masih mengundang senyum pahit dikala menatap sopir angkot menjual harga diri dan kejujuran demi tempat duduk yang terisi dan kantong yang menebal. Tak tahu rimbanya uang itu akan bermuara, semoga untuk pendidikan anaknya yang masih punya binar nurani.

Jakarta…seribu satu kisah tentang paradoks, ketimpangan, dan nafsu mengejar dunia…Lelah…

Semoga masjid-masjid yang terbangun megah menebarkan panggilan-Nya untuk menyejukkan nurani yang sudah lama kering, hampa dan lelah…