Akhirnya sampai juga pada sebuah akhir yang menemukan awal. Akhir bagi kepemimpinan di Fapsi melahirkan awal bagi aktivitas baru. Belajar dewasa memang asyik, perlu humor untuk melewatinya dengan bahagia, perlu senyum untuk mendapat pemandangan indah. Setahun di BEM Fapsi, semakin aku mencintai umatku, semakin aku menancapkan keyakinanku, bahwa tiada kata berujung bagi perjuangan, kecuali hembusan nafas terakhir dalam pelantikan syahid Allah swt. Semoga pertanggungjawabanku di Musyawarah Mahasiswa Fapsi yang berhasil diterima BPM bisa juga diterima Allah. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Melihat, sempurnakanlah amal kami dan maafkanlah segala kesalahan kami.

Alhamdulillah dengan berbagai dinamika yang dialami, karya BEM Fapsi 78 berhasil menembus IPK (Indeks Prestasi Kinerja) 3,04. Rupanya kami berhasil berkarya lebih baik dibanding BEM tahun lalu yang ber-IPK 2,8. Memang penilaian ini tidak mutlak menunjukkan kualitas organisasi, tapi saya bahagia melihat teman-teman BEM yang juga bahagia melihat penilaian terhadap kinerja kami seperti itu. Kebahagiaanku bertambah lagi menyaksikan beberapa pengurus BEM dan panitia-panitia kegiatan yang bertambah dewasa dengan pemikiran ala anak muda yang rela berkorban dan berkarya demi Fapsi yang lebih baik. Mereka akhirnya menyatakan mau meneruskan perjuangan BEM lewat kepengurusan Desta yang kuyakin akan jauh lebih berprestasi dari tahun ini. Untuk segenap rekan BEM 78 terima kasih telah menjadi cermin kehidupan bagi pembelajaran dewasaku. Untuk BEM 89…Care in Harmony adalah perjuangan tanpa henti, jangan ada kata menyerah untuk dahsyatnya kesinergisan membangun Fapsi….

Jadi ingat masa-masa getir dimana semangat dan keyakinan ini begitu diuji oleh serangkaian kepahitan di tengah kepengurusan. Dan ternyata memang, penelusuran jauh lagi kebelakang juga penuh dengan dinamika berubahnya sedih-bahagia, kecewa-bangga, kalah-menang. Semoga kesadaran ini selalu mengendap di hari-hari berikutnya, dimana tantangan pasti jauh lebih berat menguji kejernihan iman dalam menelusuri fatamorgana ujian ke depan.

Amanah baru, kini sebagai “pembantu umum” yang harus jeli melihat situasi untuk membantu sang Presiden, Gena Bijaksana. Suasana kerja juga baru, kini banyak bertemu dengan aktivis-aktivis seidealisme, “Berkarya untuk Rakyat”. Gaya juga banyak yang sama, sering ngelawak gak jelas, tapi jadi serius pada waktunya…Meski 3 hari ini tuntutan berkarya langsung pada objek memperjuangkan aspirasi rakyat dengan berdemo. Namun kali ini ukhuwah begitu menancap dan mampu membuang keluh kesah jauh…Memang benar, Islam tak sempurna jika tidak terbangun ukhuwah sebagai buah iman. Dimana diri ini tidak lebih dicintai daripada saudara seiman.

Ya Allah, jagalah semua saudaraku agar selalu mencintai-Mu dan dirindukan oleh syurga….