Dalam bukunya yang berjudul The Extreme Future, James Canton, seorang futurolog dari Institute for Global Future memaparkan ada lima faktor yang akan menegaskan warna dunia kita ke depan, yaitu: speed, complexity, risk, change, dan surprise. Dalam kesimpulanku masa depan merupakan dunia yang sulit diterka, penuh dengan resiko, dan menuntut flexibilitas yang tinggi. Jadi, secara hakikinya tuntutan terhadap seorang manusia menjadi lebih berlipat-lipat bebannya pada masa depan.

Canton yang memiliki perspektif sangat globalisasi ini memberikan banyak prediksi mengenai pekerjaan-pekerjaan yang terpopuler di masa depan. Dari sekian banyak ada satu pekerjaan menarik yang mulai membuatku membuat analisa-analisa bebas, “pujangga”. Menurut Canton “pujangga” akan menjadi salah satu dari top jobs pada tahun 2030 nanti. Dalam analisaku tuntutan dan beban masa depan yang dialami manusia tetap harus menemukan “obat”. Keterombang-ambingan manusia di masa depan memerlukan fasilitas untuk memaknai keterombang-ambingannya. Puisi dapat menjadi salah satu fasilitas untuk pengayaan makna hidup.

Entah gaya puisi seperti apa yang menjadi tren di tahun 2030, tapi ini harus menjadi pemacu bagi para pujangga untuk membangun integritas, mempertajamkan sensitivitas atas keharmonisan sehingga benar-benar menjadi solusi bagi manusia masa depan. Jika boleh punya usul, puisi ke depan perlu bernada segar dan membangun optimisme hidup dalam membangun diri dan masyarakat. Puisi ke depan harus mengungkap kedalaman hikmah, meski fenomena yang dihayati begitu memuakkan….Ya…”Gerakan Pujangga Altruis”. Ayo bangkit para pujangga!!! Lawan pendangkalan makna!!!