Sudah terlalu banyak prediksi mengenai dampak kenaikan BBM. Bagi pro-pemerintah kebijakan tentang BBM ini akan menurunkan angka kemiskinan karena kenaikan BBM juga diikuti oleh pemberian uang cuma-cuma kepada warga miskin yang terdaftar dalam judul “BLT”. Argumentasi yang bertentangan juga lebih banyak, bahkan lontaran tajam pun telak diarahkan kepada pemerintah yang dinilai melakukan “pembohongan publik”.

Pendapatku?

Tentu saja menetang perhitungan dari pemerintah! Bagaimana tidak, perhitungan pemerintah mengenai angka kemiskinan sangat linear. Jika ditandingkan dengan argumen Kwik Kian Gie, bahkan lebih nyata jika logika yang digunakan pemerintah memiliki kelemahan fatal. Analisa yang diperhitungkan dan dipublikasinya terlalu menggunakan logika ekonomis dan minus secara sosial dan kemanusiaan. Satu hal yang saya sayangkan lagi adalah mengenai kelebihan dana yang diterima pemerintah menurut Wapres Yusuf Kalla akan hanya digunakan untuk pembangunan infrastruktur. Padahal perkembangan Indonesia saat ini adalah bagaimana membangun SDM yang berkualitas….

Dalam kebijakan BLT, bisa diterima jika itu adalah metode sementara dan perlu program pengentasan kemiskinan yang berkesinambungan jika pemerintah benar-benar serius menjalankan amanahnya. Hal ini dikarenakan BLT hanya akan menjadi “makanan” yang akan langsung habis tak terbaharui. Pemerintah harusnya dengan pendekatan humanis membangun basis-basis pengembangan komunitas miskin agar mereka mampu mandiri. Jika SBY terus menerus mengingatkan rakyatnya untuk mandiri, maka seharusnya pembangunan komunitas miskin yang berkesinambungan harus memiliki konsep yang dapat meningkatkan keberdayaan komunitas.

Salah satu konsep pembangunan komunitas agar lebih berdaya adalah Community Development (selanjutnya disebut CD), yang mulai muncul pada tahun 1960. Pada awalnya CD lahir untuk mencermati perkembangan kehidupan manusia yang akan memiliki kecepatan yang tinggi dalam mengalami perubahan. Tujuan dari CD adalah membantu suatu komunitas untuk memperbaiki situasi sosial dan ekonominya melalui serangkaian perubahan. Wujud bantuannya adalah memfasilitasi komunitas agar menjadi subjek yang bertindak terhadap situasi yang dihadapi, jadi bukan hanya menjadi objek yang bereaksi terhadap situasi.

Dengan demikian kita dapat memahami bahwa CD adalah membangun, yang bersifat aktif dan berkesinambungan, berlandaska keadilan sosial dan saling menghargai. CD adalah mengubah struktur kekuasaan untuk membongkar berbagai hambatan yang mencegah komunitas untuk berpartisipasi dalam persoalan-persoalan yang mempengaruhi kehidupan mereka (Standing Conference for Community Development, 2001). Dalam prakteknya CD tidak bertujuan untuk mencari dan menetapkan solusi, struktur penyelesaian masalah atau menghadirkan pelayanan bagi masyarakat. CD adalah bekerja bersama masyarakat sehingga mereka dapat mendefinisikan dan menangani masalah, serta terbuka menyetakan kepentingan-kepentingannya sendiri dalam proses pengambilan keputusan (Standing Conference for Community Development, 2001).

Secara ideologis CD memiliki pemahan akan empowerment. Empowerment adalah kenadali, yang dipersepsi seseorang, mapun secara aktual dimiliki, terhadap kehidupannya sendiri (Nelson dan Prilleltensky, 2005). Rappaport (1981) mengatakan bahwa empowerment adalah suatu rposes dimana orang-orang, organisasi, dan komunitas menghimpun kendali yang menyeluruh terhadap kehidupannya. Sedangkan Cornell Empowerment Group (1989, dalam Nelson dan Prilleltensky, 2005) mendefinisikan empowerment sebagai,

“…an intentional ongoing process centered in the local community, involving mutual respect, critical reflection, caring, and group participation, through which people lacking an equal share of valued resources gain greater access to and control over those resources.”

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa empowerment bukanlah sekedar hasil, namun merupakan sebuah proses dalam rangka membangun keberdayaan komunitas. Selain itu, CD merupakan sebuah konsep perlu memnghimpun fasilitator yang multidisipli. Untuk itu tim multidisiplin perlu dibuat dan pemerintah harus mampu menjaring praktisi sosial yang punya jalan hidup sebagai pengabdi rakyat juga.

Jika BLT adalah solusi yang terus menerus diterapkan, maka lambat laun akan menjadi masalah yang secara efek bola salju akan menghancurkan mentalitas dari rakyat. Perasaan dan kompetensi untuk menjadi berdaya sulit diwujudkan dengan mentalitas “dibantu” seperti itu.

Community Development yang dipaparkan di atas merupakan konsep yang dapat dipadukan dengan berbagai konsep dan metode praktek lain mengenai pemberdayaan komunitas, pembelajaran humanis, dan pendekatan humanis. Misalnya Appreciative Inquiry yang belakangan ini sedang populer dalam ranah pengembangan organisasi, atau Shared Learning yang marak dilakukan dalam bidang konservasi lingkungan.