Pencekik semakin kuat mencekik

saat perut mulai picik cederai nurani yang semakin mengkerut

munculkan jiwa pengecut

Rendam saja kakimu dalam-dalam

atau berenang saja di dalamnya

agar kau semakin puas dengan hitam

yang mewarnai butir nasimu

Jangan tanya salah siapa…

nanti malah jadi terdakwa

lebih baik diam saja

lalu dengarkan senandung jeritan rakyat yang tercekik

Tak merdu memang

namun setidaknya memupuk dendam

untuk menghancurkan hebatnya harta

dalam membelai hati nurani

yang memang hanya sebesar telur semut

ketika pencekik semakin kuat mencekik

(Puisi yang kubuat di Jatinangor, 28 September 2005, saat melihat fenomena penimbun BBM sebelum pemerintahan Mega menaikkan harga BBM)