Sabtu, 7 Juni 2008

Sekitar 150 mahasiswa yang tergabung dalam BEM Se-Bandung Raya melakukan aksi bertajuk “Kembalikan Udara Bersihku”. Aksi ini merupakan aksi simpatik yang melewati beberapa tempat umum. Rute aksi di mulai dari PUSDAI menuju Gedung Sate. Kemudian aksi simpatik ini sampai ke BIP mall dan berakhir dengan press release di Masjid Al-Ukhuwah. Beberapa mahasiswa melakukan gerakan simpatik dengan memungut sampat yang ada di sekitar rute aksi. Kordinator BEM Se-Bandung Raya, yang juga merupakan Presiden Mahasiswa BEM KEMA Universitas Padjadjaran, Gena Bijaksana menghimbau agar masyarakat lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Kemudian para demonstran me-launching bulan Juni ini sebagai “Bulan Lingkungan Bandung”.

Ada dua hal yang jadi sorotan saya mengenai aksi simpatik ini. Pertama adalah tentang kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan hidup dan yang kedua adalah aksi yang diawali dari masjid dan berakhir di masjid.

Kepedulian Mahasiswa terhadap Lingkungan Hidup

Kepedulian seperti ini adalah hal yang menjadi keharusan. Mahasiswa harus menjadi garda ke depan bagi penjagaan keberlangsungan lingkungan hidup yang lebih baik, khususnya di Bandung. Saya memang baru 4 tahun kurang merasakan hidup di Bandung. Namun, cerita dari banyak orang yang sudah lama menetap di Bandung memang menunjukkan bahwa Bandung semakin panas.

Dengan 7 program unggulan Pemkot yang salah satunya adalah “Bandung Hijau 2006” sepertinya hanya slogan semata. Hal ini bisa kita lihat dari kebijakan Pemkot yang tidak berpihak pada lingkungan hidup atau mewujudkan “Bandung Hijau 2006” itu sendiri. Buktinya kebijakan tentang Punclut sebagai paru-paru Bandung hanya berpihak pada para pemodal. Komersialisasi kawasan Punclut ini secara otomatis mengurangi hutan Kota Bandung dan menyebabkan degradasi kualitas udara. Padahal, bentuk cekungan yang merupakan ciri khas Bandung menyebabkan regulasi udara terhambat di situ-situ saja. Selain itu kebijakan PLTSa yang menyebabkan meluasnya masalah juga seakan-akan terus diperjuangkan oleh Pemkot. Padahal banyak ahli yang sudah memberikan tanggapan hingga solusi yang lebih banyak manfaatnya.

Dua kebijakan ini akan menjadi sebuah kajian bagi mahasiswa Bandung untuk membuat suatu gerakan peduli. Mulai dari pembentukan opini hingga gerakan nyata membudayakan cinta lingkungan. Hal inilah yang membuat BEM Se-Bandung Raya tergerak untuk menghimbau masyarakat Bandung untuk bersama-sama membantu pemerintah dan menyehatkan rakyat Bandung. Mahasiswa harus menjadi ksatria lingkungan yang mampu membuat “hijau” tersenyum kembali.

Diawali dari masjid dan berakhir di masjid

Dalam perencanaan aksi, plot acara menempatkan masjid sebagai tempat mulai dan berhenti. Secara lebih mendalam perencanaan ini memiliki pertimbangan, bahwa aksi sebaiknya tidak mengganggu kesempurnaan untuk sholat tepat waktu. Para aktivis rupanya secara konsisten membantu program Pemkot yang ingin mewujudkan Bandung yang religius. Bagi para aktivis, gerakan moral akan lebih mendapatkan kekuatan jika spiritual penggeraknya menjadi kokoh. Kedekatan dengan Tuhannya semakin merekat. Sisi ini membuat mereka rela berpanas-panasan menyuarakan kebenaran….

Katakan hitam adalah hitam

Katakan putih adalah putih

Tuk kebenaran dan keadilan

Menjunjung totalitas perjuangan

Seluruh rakyat dan mahasiswa

Bersatu padu bergerak bersama

Berbekal moral, intelektual

Selamatkan Indonesia tercintaI

Semoga Allah meridhoi perjuangan kita sebagai mahasiswa yang berperan sebagai agen perubahan untuk mewujudkan Bandung yang hijau!