Ini hasil pembahasan dalam karya tulisku yang dipresentasikan dalam Mapres Fapsi kemarin-kemarin. Jadi maaf ya jika masih ada poin-poinnya…

Dalam memfasilitasi pemberdayaan masyarakat melalui konsep Community Develoment yang berpadu dengan metode Appreciative Inquiry, ada beberapa agenda yang merupakan langkah sistematis pengimplementasiannya.

4.2.1 Agenda Pertama : Perencanaan dan Persiapan

Perencanaan dan persiapan merupakan langkah pertama yang sangat menentukan keberhasilan dari proses empowerment yang menjadi ideologi dalam memberdayakan masyarakat ini. Perencanaan dan persiapan harus merupakan sebuah proses kolaboratif dari semua pihak yang terkait dalam menentukan implementasi program. Dalam agenda pertama ada beberapa langkah kerja yang harus dipenuhi sebuah dengan alur 5-D dalam Appreciative Inquiry.

4.2.1.1. Pengumpulan kekuatan kolaboratif

Sebagai langkah paling awal, pengumpulan kekuatan ini akan memberikan sebuah catatan tentang sejauh apa potensi yang dapat dihasilkan untuk memfasilitasi komunitas agar lebih berdaya. Kekuatan yang diperlukan dalam menjalankan proses ini terdiri atas:

a. Public Sector, merupakan pengambil kebijakan yang terdiri dari elemen-elemen pemerintahan pusat, pemerintahan daerah, dan pemerintahan lokal.

b. Privat Sector, merupakan jaringan yang akan membantu proses pemberdayaan yang terdiri dari perusahaan dan pengusaha yang komitmen dengan CSR (Coorporate Social Responsibility).

c. Third Sector, merupakan relawan yang akan menjadi fasilitator dan bersentuhan l;angsung dengan masyarakat. Sektor ini membutuhkan seluas-luasnya dan sekompleks-kompleksnya praktisi dari berbagai disiplin ilmu.

4.2.1.2. Pembekalan Fasilitator

Setelah fasilitator terkumpul, maka untuk pengembangannya perlu diadakan pelatihan mengenai Appreciative Inquiry, Community Development, serta kemampuan teknis yang dibutuhkan dalam pelaksanaannya nanti.

4.2.1.3 Penentuan Topik Umum dari Empowerment

Langkah ini merupakan susunan sebuah topic pengembangan yang mengarahkan pada hasil dan proses apa yang akan ditempuh. Sesuai dengan Tabel 1., konteks pemberdayaan komunitas menggunakan level analisis individu dan komunitas. Oleh karena itu, secara umum topic yang menjadi acuan empowerment adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Proses-proses empowerment dalam pemberdayaan komunitas

Level of Analysis

Processes

Outcomes

Individual

Training in critical thinking

Participation in action group

Mentoring experiences

Connecting with people in similar situations

Training in value-based practice

Conciousness raising

Participation in social action

Assertiveness

Expanded options in life

Sense of control

Mentoring others

Community

Access to government

Participation in civic organization

Political education

Target local issues

Improved quality of life

Enchanced health and well-being

Democratic institutions

Improved access to service

Coalitions for well-being

Tolerance of diversity

Sumber : Geofrey Nelson and Isaac Prilleltensky (2005)

4.2.1.4. Menentukan Sistem Manajemen dan Implementasi Teknis

Dalam memenuhi langkah ini, para fasilitator bebas menggunakan sistem manajemen yang akan berlaku. Secara standar manajemen meliputi kaidah Planning, Organizing, Leading, dan Controlling (POLC). Dengan itu perencanaan hingga ke teknis dapat berjalan dengan teratur. Manajemen juga harus peka dan mampu beradaptasi dengan perubahan arah rencana karena fenomena pengembangan masyarakat yang juga rentan berubah.

4.2.2 Agenda Kedua : Aksi dan Transformasi

Setelah proses perencanaan telah rampung, maka agenda aksi dan transformasi akan menjadi proses yang sangat dinamis karena akan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Untuk itu, maka diperlukan langkah-langkah kerja yang sesuai dengan siklus 5-D.

4.2.2.1 Pengenalan Appreciative Inquiry dan Konsep Community Development

“Tak kenal maka tak sayang.” Ungkapan tersebut menjadi landasan bagi terciptanya kesan awal yang harus dijalani dengan mulus. Langkah ini menjadi penting karena berkaitan dengan penilaian awal masyarakat terhadap keistimewaan dari program. Jika momentum ini tidak dijalani dengan sukses bisa terjadi kelesuan dan minimnya partisipasi dari masyarakat.

4.2.2.2 Menggali Kekuatan Komunitas

Langkah ini merupakan penelusuran strength yang dimiliki oleh individu atau potensi yang telah dimiliki oleh komunitas. Proses ini dilakukan dengan percakapan positif baik antar peserta maupun peserta dengan fasilitator. Penggalian diri ini bertujuan untuk menimbulkan keoptimisan diri dan pengetahuan yang komperehensif terhadap kekuatan komunitas.

4.2.2.3 Mengekspresikan Harapan dan Mimpi Dengan Bebas

Setelah memiliki pemahaman akan kekuatan diri dan komunitas, langkah berikutnya adalah menggantungkan mimpi setinggi-tingginya. Pengekspresian mimpi ini dapat berupa gambaran konkrit mengenai keadaan komunitas di masa depan. Prestasi apa saja yang akan dialami komunitas di masa depan. Pada akhirnya, kolaborasi dari semua mimpi yang ada akan melahirkan sebuah visi kolektif dalam memajukan komunitas.

4.2.2.4 Menentukan Langkah Aksi Sendiri

Proses ini merupakan sebuah langkah pengejawantahan mimpi ke dalam langkah-langkah yang konkrit dan terukur. Penentuan ini tentunya membutuhkan akurasi yang baik dalam melihat potensi dan waktu yang bergulir seraya melihat perubahan yang terjadi.

4.2.3 Agenda Ketiga : Membangun Kemandirian yang Berkesinambungan

Proses pemberdayaan masyarakat ini merupakan proses yang harus berkesinambungan sehingga perlu diamati perkembangannya hingga sebuah komunitas menjadi mandiri secara utuh. Dalam rangka membangun kemandirian yang berkesinambungan maka diperlukan langkah-langkah yang dapat menjadi jalan bagi masyarakat untuk terus menerus meresa empowered sehingga dapat menjadi subjek dari perubahan-perubahan yang dialami komunitasnya.

4.2.3.1 Membangun Jejaring Tim dan Spesifikasi Peran

Langkah membangun jejaring tim dan spesifikasi peran ini bertujuan untuk menguatkan kapasitas dukungan terhadap keseluruhan komunitas untuk membangun harapan, dan menciptakan proses belajar, menyesuaikan dan berimprovisasi. Tahapan ini memberdayakan setiap anggota untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan untuk mencapai mimpi atau visi masa depan organisasi. Langkah ini juga akan melahirkan nilai inti komunitas yang akan menjadi ruh bagi bergeraknya pembangunan dan pemberdayaan dalam segala aspek kehidupan.

Secara mandiri, komunitas ini di insight untuk terus mengadakan interaksi secara mandiri antar seluruh individu di komunitas tersebut. Jejaring yang dibangun tetap menggunakan prinsip positif dan egaliter selama menjalankan masing-masing peran.

4.2.3.2 Pengembangan Kemitraan

Seperti disinggung dalam telaah mengenai Community Development, sebuah harus terus mengadakan jejaring dengan mitra yang mampu berkolaborasi secara positif. Selama proses pemberdayaan ini, komunitas harus difasilitasi untuk bertemu dengan semua kekuatan kolaborasi. Proses pengembangan ini bahkan didorong menjadi lebih meluas dan membentuk jejaring-jejaring yang lebih multiaspek.