cover buku Selamatkan Indonesia! Pagi ini ada acara bedah buku “Agenda Mendesak Bangsa : Selamatkan Indonesia!” di gedung rektorat Unpad. Sayang bukan BEM Unpad yang mengadakan. Panitianya adalah Ikatan Mahasiswa Program Pascasarjana Unpad. Sebelum acara dimulai, panitia menampilkan sebuah klip yang berisi tentang betapa menyedihkan dan ironisnya bangsa Indonesia. Sebenarnya sering aku melihat klip serupa seperti ini, namun pagi ini sepertinya semua inderaku lagi aktif dan terbuka….Sekonyong-konyong…ingatanku pada tangis anak-anak putus sekolah, rakyat yang banyak jadi pengemis, dan pohon yang tercerabut dari tanah kelahirannya membuat mataku berkaca…sejenak kutengadahkan kepala dan mengatur nafas agar tidak sampai menetes air mata ini…

Acara kemudian diteruskan dengan uraian Pak Amien Rais mengenai buku karyanya. Sejujurnya informasi yang diberikan pada awalnya kurang menstimulasi imajinasi intelektualku untuk menyusun sebuah solusi. Namun, dengan runtutan argumentasinya, Pak Amien berhasil menstimulasi rasa kebangsaanku. Begitulah tabiat tokoh besar, seperti tokoh-tokoh besar yag pernah mampir di asrama PPSDMS dan mewarnai tekadku, Pak Amien mampu membuatku teringat lagi dengan perenunganku yang menemukan kesimpulan bahwa kebahagiaan orang lain adalah tanggung jawabku.

Secara umum, buku “Agenda Mendesak Bangsa : Selamatkan Indonesia” merupakan sebuah ekspresi intelektual yang sangat khas dari seorang akademisi hubungan internasional dan politisi nasional. Pendahuluan dari buku ini menggiring pembaca untuk memanggil kembali ingatan akan penjajahan VOC dan Pemerintahan Belanda. Kemudian penguraian tentang sejarah yang berulang ini sepertinya bermaksud agar bangsa Indonesia dapat belajar yang tidak masuk dalam lubang jebakan yang sama. Meskipun sebenarnya Pak Amien menilai pemerintahan saat ini sudah terperosok ke dalam lubang penjajahan, namun masih ada harapan untuk kembali bangkit.

Selanjutnya, isi dari buku tersebut merupakan sebuah ketidaksetujuan pada sistem tata dunia yang kini bernama globalisasi. Dengan mengutip beberapa argumentasai tokoh yang menilai bahwa globalisasi pada saat ini telah gagal mensejahterakan umat manusia, Pak Amien kemudian mengarahkan para pembaca dan pendengar bedah bukunya untuk setuju dengan gerakan nasionalisasi. Keyakinan beliau terhadap nasionalisasi tampaknya dipengaruhi oleh keyakinan yang juga begitu tinggi dari seorang ahli ekonomi dari AS, Joseph Stiglitz, yang mengkritik IMF, Bank Dunia, dan WTO. Hal ini diperkuat lagi dengan berhasilnya Malaysia, Brazil, Chili, dan Norwegia dalam mengelola SDA pertambangannya dengan mandiri.

Dalam buku karyanya ini, Pak Amien mengelaborasi lebih jauh mengenai “korporatokrasi”. Istilah ini pertama kali menjadi sangat terkenal oleh John Perkins yang menulis buku Confessions of an economic hit man. Jika John Perkins mengungkap bahwa korporatokrasi menggambarkan elite baru yang telah berketetapan untuk mencoba menguasai planet bumi. Kemudian Pak Amien membuat uraian baru bahwa korporatokrasi merupakan sistem atau mesin kekuasaan yang bertujuan untuk mengontrol ekonomi dan politik global. Jika Perkins menguraikan ada 3 elemen, maka Pak Amien membuatnya menjadi 7 elemen. Hal ini, dalam cerita Pak Amien, tercetus setelah berdiskusi dengan seorang Profesor di Malaysia. Tujuh elemen yang dimaksud adalah: korporasi-korporasi besar; kekuatan politik pemerintahan tertentu, terutama AS dan kaki tangannya; perbankan internasional; kekuatan militer; media massa; kaum intelektual yang dikooptasi; dan yang terakhir, yang tidak kalah penting adalahelite nasional negara-negara berkembang yang bermental inlander, komprador, atau pelayan. Nah, khusus yang poin terakhir ini, dalam sela-sela presentasinya, Pak Amien sering berguyon untuk mengkritik “saudara saya yang ada di sana…(sambil menengok ke arah foto pejabat yang biasa dipajang di ruang formal)”. Dan berulang kali pula beliau sering menganalogikan penguasa bermental terjajah ini seperti Amangkurat I dan II yang ia nisbatkan sebagai raja Mataram yang inlander.

Penguraian tentang korporatokrasi ini dibumbui dengan 2 istilah yang berbau pesikologi. Istilah pertama adalah profit patologis. Istilah ini ditujukan untuk memberikan label pada tingkah laku dari 6 elemen korporatokrasi yang berasal dari luar negeri. Patologis merupakan sebuah klasifikasi gangguan jiwa yang ditandai dengan kesulitan untuk melepaskan diri, keinginan untuk terus meningkatkan frekuensi, pikiran yang obsesif serta tingkah laku yang kompulsif yang dalam konteks ini ingin terus mendapat keuntungan tanpa memperdulikan pihak lain merugi karenanya.

Kedua adalah masokis, ini ditujukan pada para penguasa yang bermental inlander. Sebenarnya istilah masokis merupakan salah satu gangguan seksual yang secara psikis akan mendapatkan kepuasan seksual setelah disiksa terlebih dahulu. Dengan ungkapan ekspresif, Pak Amien, menunjukkan mental inferior tersebut dalam kata-kata “Silahkan kekayaan kami diambil…kami bahagia kok…” Dalam dunia psikologi, kedua istilah di atas sangat mungkin bermasalah secara ilmiah. Namun, aku sendiri bisa menerimanya karena merupakan sebuah ekspresi khas seseorang terhadap fenomena di sekitarnya.

Setelah mendengar kedua ungkapan tersebut, dalam hati aku mengkritik Pak Amien dan juga para hadirin yang terlihat bahagia ketika keburukan-keburukan bangsa ini diuraian, bahkan dengan ekspresi humor. Bukannya ini masokis juga? Seakan-akan kok para pendengar menjadi puas bahkan tertawa ketika keterpurukan bangsa ini dengan semangat diuraikan Pak Amien. Ketika aku coba minta bantuan Mbah Google, aku menemukan istilah yang sudah eksis di dunia maya mengenai fenomena ini, Masokisme Intelektual…lihat link ini

Setelah uraian dari Pak Amien, acara dilanjutnkan dengan komentar mengenai isi dan uraian tadi dari Rektor Unpad, Pak Ganjar, dan Direktur Program Pascasarjana Unpad, Pak Djadja. Pak Ganjar mengajukan sebuah pertanyaan tentang sumber masalah sehingga bangsa Indonesia seperti ini, apakah dari Pimpinan? Sistem? atau dari rakyatnya sendiri? Selain itu beliau juga mengkritik isi buku yang dinilainya perlu dielaborasi lebih dalam dan masih normatif, sehingga perlu dioperasionalkan lagi. Terakhir, Pak Rektor menyidir Pak Amien dengan mempertanyakan tentang ide Pak Amien 10 tahun lalu tentang sistem federal bagi Indonesia, mengingat pada saat ini banyak permasalahan menimpa kebijakan desentralisasi atau otonomi daerah. Menanggapi komentar ini, Pak Amien menyatakan bahwa yang paling menjadi sumber masalah adalah sistem. Sementara kritikan tentang solusi yang normatif, ditolak Pak Amien dengan mengatakan bahwa beberapa usulannya sudah operasional. Mengenai sistem federal dan fenomena otonomi daerah, Pak Amien mengatakan bahwa sistem desentrialisasi saat ini sangat kebablasan, jauh melampaui apa yang diusulkannya dulu.

Sedangkan Pak Djadja lebih menekankan pada bagaimana kita mencari solusi bagi pengentasan mental inlander ini. Pendekatan beliau lebih pada sosial budaya dan perubahan tingkah laku masyarakat. Menanggapi hal ini, Pak Amien sepakat bahwa perlu ada penanganan yang lebih bersifat sosial budaya dan juga psikologis untuk mengubah mental inlander menjadi mental merdeka.

Setelah itu dibuka sesi tanya jawab. Seperti dalam acara yang serupa dengan ini, sesi tanya jawab kurang memuaskan. Bahkan pertanyaan seorang aktivis Hizbut Tahrir tentang solusi Islam mengenai ketidakberhasilan sosialisme dan kapitalisme tidak atau lupa dijawab Pak Amien. Namun aku yakin kalaupun dijawab juga tidak memuaskan dan cenderung normatif.

Pendapatku engenai acara ini cukup positif untuk membuka cakrawala berpikir para akademisi, khususnya Unpad agar terpacu memberikan solusi intelektualnya. Soal buku, aku merasa banyak mengambil hikmah dan pelajaran dari buku ini. Namun, tetap saja belum puas!! Karena perspektif Pak Amien masih belum komperehensif dalam mencari solusi bagi bangsa. Perlu kolaborasi dengan para intelektual lain agar semua sisi bisa menghasilkan solusi konstruktif bagi kebangkitan bangsa.

Jadi punya ide…..bagaimana kalau aku galang teman-teman BEM SI untuk buat buku yang bertajuk “Tugu Rakyat : Demi Indonesia yang Lebih Baik dan Bermartabat!”…?