Seminggu ini lagi sering main bulutangkis, ada fasilitas bagus ternyata di kampus, punya Fikom. Fikom termasuk fakultas yang paling lengkap sarana olahraganya. Di sana ada lapangan futsal, lapangan basket, lapangan bulutangkis indoor, ada wall climbing pula…Bisa rutin olahraga dah kalau punya fasilitas kayak gini…seandainya di Psikologi ada fasilitas olahraga…Enak tenan !!! Soalnya kalau tidak punya, sulit banget, untuk latihan bulutangkis di Bandung saja harus mengeluarkan uang 15 ribu per jam, untuk futsal berkisar antara 70 ribu samapai 120 ribu.

Iyak…kembali ke bulutangkis….

Bulutangkis tuh hobiku semenjak kecil yang terputus pada saat SMA dan mulai kurutinkan lagi sejak beberapa minggu yang lalu. Bahkan saat kecil aku pernah bercita-cita mendapatkan medali emas di Olympiade…he…he…Lingkungan rumahku di Bekasi memang sangat memungkinkan untuk membuat anak-anak di sana suka berolahraga. Fasilitas olahraganya cukup banyak…gratis….beda sama di Bandung…bayar semua!! Capek deh…Nah, biasanya bulutangkis menjadi populer di lingkungan rumahku karena ada beberapa momentum. Biasanya lapangan mini yang multiguna di samping rumahku itu digunakan untuk bermain bulutangkis ketika ada Thomas dan Uber Cup, Olympiade, atau kegiatan 17-an di rumahku.

Selain di lapangan dekat rumahku itu, aku sering diajak Babeh untuk bermain di lapangan indoor bersama teman-teman kantornya. Biasanya Babeh main karena ajakan dari bos-bosnya di PT. Aqua Golden Mississippi dulu (sekarang sudah pensiun “dini”). Oh iya…sebagai catatan, Babehku itu jago banget main bulutangkisnya, bahkan hingga detik ini aku gak pernah mengalahkan dia!!! Nah, di sanalah aku bermain dan lebih banyak menghabiskan waktu untuk menonton serta sebuah kegiatan produktif……mengumpulkan cock bekas. Kegiatan terakhir ini yang rupanya menjadi sangat berguna untuk kemajuan perkembangan bulutangkis di tanah Bekasi…ha…ha…ha…LEBAY! Maksudku, jasaku dulu ketika mengumpulkan cock bekas yang masih relatif masih bagus bisa bermanfaat untuk anak-anak bahkan orang tua di RT-ku untuk punya cock banyak. Dulu sempat ada insting enterpreneurship untuk menjual cock itu…tapi karena pertemanan akhirnya aku resmi menjadi stokist gratis bagi penyediaan cock.

Lain dulu, lain sekarang….

Aku mulai cerita masa sekarang dengan kejadian yang cukup bersejarah bagiku, dan mungkin juga adikku Ikal. Saat pulang kampung ke Bekasi…sdik pertamaku yang kini tinggi badannya melebihiku sekitar 5 cm itu mengalahkanku! Meskipun skor set-nya 2-1 untuk Ikal, tapi hal ini cukup membuatku tertawa pada diriku sendiri sambil memijat tanganku yang nyeri karena sudah lama tidak main bulutangkis….dan tentunya bangga sama adikku itu…Ternyata pisau jika tidak diasah akan tumpul…he…he…Ceritanya…aku termasuk anak muda yang cukup mahir bermain bulutangkis…setidaknya sampai SMA kelas 2 (karena pada saat itu masuk semifinal kompetisi di SMA). Dan pada saat itu si Ikal mah, megang raket aja belum bener….Eh, selang 5 tahun sudah bisa dibalap nih….

Setelah itu…bekal kekalahan di Bekasi membuatku terpacu untuk bermain bulutangkis. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan untuk bermain. Awalnya aku diajak oleh Rahmat, anak Sipil ITB, bermain bersama geng Jowo-nya itu. Pertama main di daerah Cisitu, yang kedua di PDAM. Biasanya main tiap Rabu pagi, jam 7-9. Eh…Alhamdulillah lagi…akhirnya diajak anak-anak Fikom untuk main di Fikom. Tempatnya enak…gratis lagi…Meskipun gak punya modal raket, temen-temen Fikom kasih pinjam….Mudah-mudahan bisa istiqomah nih..

Hikmah: Dunia di sekelilingmu akan selalu bergerak, jika engkau enggan bergerak….tunggulah kekalahan demi kekalahan…

Nb: Untuk Ikal…tunggu saatnya…Masmu ini akan kembali! Waspadalah…Waspadalah….