Stres
Sebuah reaksi stres adalah suatu kondisi yang dicirikan dengan tegangan fisiologis dan konflik pada pilihan yang terus menerus. Helpee merasa di bawah tekanan untuk mengurangi tegangan dan mencapai kenyamanan atau ekuilibrium. Sering resolusi mengambil sebuah bentuk maladaptif, seperti penyakit, tanpa kesadaran dari helpee. Suatu pengalaman stres lebih meresap dan kondisi yang kurang kuat daripada krisis, tetapi itu mungkin berlanjut pada waktu yang tidak berbatas, dengan atau tanpa memancing stimulus (Janosik, 1993).
Ketegangan dari perubahan bersifat kumulatif dan walaupun peristiwa-peristiwa individu muncul untuk memiliki akibat yang kecil, penumpukan sepanjang tahun dapat berkontribusi terhadap krisis-krisis utama, seperti penyakit. Beberapa dari stres yang hebat dikarenakan penumpukan dari apa yang semula Lazarus sebut percekcokan sehari-hari (daily hassles). Percekcokan ini termasuk di dalamnya aktivitas rumah tangga sehari-hari, kesehatan, tekanan waktu, pemusatan pada emosi yang lebih dalam, kekhawatiran lingkungan, keuangan, stres yang berhubungan dengan pekerjaan, dan ketidakpastian masa depan.
Orang harus ditolong pada sebuah kesadaran dari sifat dan kekuatan stresor dalam hidup mereka sebaik pendirian reaksi stres minor terhadap proporsi krisis. Helpee harus sadar bahwa kondisi transisional dari periode yang cenderung stabil adalah kondisi-kondisi normal yang membutuhkan kemampuan self-help khusus dan terkadang helper mendukung untuk mengatasi dengan konsekuensi-konsekuensi dari perubahan. Orang-orang harus belajar kemampuan manajemen stres untuk menyuntik diri mereka melawan akibat-akibat dari stresor. Sejumlah studi telah mengkonfirmasi hubungan yang dekat antara stress dan penyakit kesehatan (Sweet, Savoie, & Lemyre, 1999).

Krisis
Krisis adalah suatu kondisi disorganisasi di mana helpee menghadapi frustasi dari tujuan-tujuan hidup yang penting atau kekacauan yang amat besar dari siklus hidup mereka dan metode-metode mengatasi berbagai stresor. Istilah krisis biasanya mengarah pada perasaan helpee mengenai ketakutan, kegoncangan, dan distres terhadap kekacauan, bukan kekacauan itu sendiri. Krisis dibatasi dalam waktu, biasanya berakhir tidak lebih dari beberapa minggu (Janosik, 1994; Slaiken, 1990). Krisis, oleh karena itu, didefinisikan terutama oleh helpee sejak respon-respon emosi disebutkan sebelumnya beragam dalam intesitas selama kesulitan dalam transisi hidup. Krisis biasanya dipancing oleh suatu kejadian dramatis, penyerangan/pemerkosaan, operasi, atau kecelakaan, tetapi krisis juga mungkin berkembang dari tumpukan transisi kehidupan biasa seperti pindah, pensiun, ganti pekerjaan, penyakit, taua perjalanan. Krisis berbatas pada bahwa kondisi kontinum telah dicapai ketika sumber-sumber coping gagal, dan berbatas pada disekuilibrium ekstrim atau ketika suatu keadaan disfungsi dicapai. Ini juga bahwa titik balik kritis di mana orang mungkin mengerahkan sumber-sumber coping mereka dan memindahkan pada ketinggian baru dari pertumbuhan atau mungkin memburuk ke dalam suatu disorganisasi pada akhirnya dalam penyakit yang hebat atau kematian.
Terdapat krisis-krisis perkembangan yang normal, seperti kelahiran atau seorang anak kecil pergi ke sekolah. Krisis-krisis situasional berhubungan dengan kehilangan besar dari status, kepemilikan, atau seseorang yang dicintai. Krisis eksistensial mengarah pada konflik-konflik dan perasaan cemas yang dialami ketika menghadapi isu-isu manusia yang signifikan mengenai identitas, tujuan, tanggung jawab, kebebasan, dan komitmen. Walaupun tipe krisis eksistensial seperti ini adalah bagian normal dari keberadaan manusia, ini dapat menjadi suatu situasi yang benar-benar krisis ketika seseorang menjadi sadar kesenjangan antara bentuk-bentuk lama dari keberadaan yang menciut dan kemungkinan-kemungkinan baru untuk bertindak. Tekanan-tekanan seperti ini untuk memilih dan bertindak mengasumsikan proporsi krisis.
Empat fase dari periode krisis digambarkan pertama kali oleh Caplan (1964). Sebuah adaptasi dan pembaharuan dari fase-fasenya mengikuti: (1) Awal ketegangan telah dialami yang membangkitkan respon-respon kebiasaan yang adaptif. (2) Tegangan meningkat di bawah stimulasi yang terus- menerus dan kurangnya keberhasilan yang dialami dalam mengatasi masalah dan pengurangan ketegangan. (3) Ketegangan meningkat sampai sumber-sumber darurat, internal dan eksternal, dikerahkan. (4) Suatu fase akut menyertai jika krisis tidak diredakan pada tahap ketiga atau dicegah dengan penolakan atau dihentikan. Puncak ketegangan pada titik di mana disfungsi mayor dalam perilaku berkembang dan/atau kontrol emosi ini telah hilang.
Helpee dapat sangat dipengaruhi ketika krisis. Nilai-nilai dari krisis dapat direalisasikan jika seseorang siap untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dari self-realization sebaik ekuilibrium ketenangan. Tersedianya proses menolong menjadi penting sekali pada tahap awal ini karena helpee begitu lunak dan siap berubah. Dalam sebuah tambahan terhadap adanya hubungan yang menolong (helping relationship), latar belakang psikologi dan pembentukan pada seseorang menentukan luasnya reaksi yang ditimbulkan untuk memperpanjang stres dan krisis yang intensif.
Mengatasi krisis dapat membawa berbagai emosi, seperti kemarahan, ketakutan, atau kesedihan dan strategi-strategi coping yang berbeda. Helpers harus menyadari perbedaan kebudayaan berpengaruh terhadap bagaimana individu sampai pada krisis (VanderVoort, 2001).
Melalui penelitian yang cermat dari cerita-cerita kasus pendek mengenai keluarga dalam krisis, Bloom (1963) menyelidiki para profesional dalam proses menolong memandang krisis. Dia menemukan bahwa helpers mendefinisikan sebuah krisis secara luas dalam istilah pengendapan peristiwa dan waktu resolusi, tetapi tidak menganggap kekuatan coping dari orang tersebut. Sebuah krisis sering membangun kemampuan coping dari seseorang. Jadi, seberapa efektif seseorang mengatur sebuah krisis tergantung pada sebagian besar adekuasi dari coping skill yang telah ada sebelumnya.

Dukungan
Dukungan adalah suatu kondisi di mana helpee merasa aman dan nyaman secara psikologis. Termasuk di dalamnya kesadaran dari keberadaan yang baik dan kepuasan dari affect hunger. Dukungan menawarkan suatu proses penyembuhan—sebuah integrasi dari seluruh bagian orang. Hal itu akan menolong untuk melawan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan.
Dukungan datang dari tiga sumber: (1) hubungan itu sendiri, di mana helpee mengalami penerimaan dari helper dan kehangatan; (2) mengarahkan bantuan konseling ke dalam bentuk penentraman atau lingkungan yang mendukung; (3) menentukan dan mengokohkan manajemen krisis.
Apakah dukungan harus secara aktif diberikan adalah pembicaraan kontroversial di antara para helper. Beberapa dari mereka mengklaim bahwa menyediakan dukungan adalah sebuah fungsi menolong yang dibutuhkan, khususnya pada orang dalam kondisi krisis. Yang lainnya menyatakan pemberian dukungan secara sengaja mengurangi sebuah kesempatan untuk tumbuh dan menyebabkan ketergantungan.
Satu nilai dari menyediakan dukungan langsung adalah untuk reduksi dari kecemasan yang menguras tenaga, dan sebagai akibatnya, kenyamanan psikologis dan penyembuhan. Kondisi-kondisi dari dukungan mengizinkan para helpee untuk mengekspresikan dan menghadapi ketergantungan mereka dan kebutuhan akan keamanan dalam sebuah lingkungan netral dengan tuntutan yang rendah.
Helper harus menahan dorongan untuk menggunakan ekspresi seperti “saya tahu sebenarnya apa yang kamu rasakan”. Seorang helper mungkin telah memiliki situasi yang mirip terhadap krisis yang terjadi pada helpee, dan hal itu sering membuat helpee nyaman ketika mengetahui fakta itu. Dukungan yang tepat juga menjamin helpee bahwa mereka dapat menolong diri mereka, bahwa mereka mampu, bahwa mereka layak, atau mereka bisa merencanakan. Walaupun berbicara mengenai kesedihan seseorang dan kecemasan setelah peristiwa yang penuh tekanan tidak mengurangi kebutuhan untuk sebuah proses penyembuhan secara luas, dukungan emosional berpengaruh terhadap pengurangan dari kemungkinan penderitaan reaksi stress dalam jangka waktu yang lama atau kesedihan secara luas.
Sebuah batasan utama dari usaha mendukung yang kuat adalah kreasi dari ketergantungan pada helper sebagai satu sumber dukungan. Usaha-usaha suportif yang datang melintas sebagai simpati mungkin dinterpretasikan oleh helpee sebagai suatu ketidakjujuran dan tipu muslihat. Penggunaan berlebihan dari penentraman hati, contohnya, membuat helper terdengar dangkal bagi helpee.

Harapan dan Keputusasaan
Konsep kembar ini patut menjadi diskusi luas dalam konteks dukungan dan manajemen krisis karena mereka begitu sentral terhadap pengurangan penderitaan pada helpee, manajemen dari stresor, dan pencegahan dari krisis di masa depan. Korner (1970) dalam suatu studi yang dipeloporinya menjelaskan harapan sebagai suatu metode dari coping, sebuah makna dari pencegahan krisis, dan sebagai suatu rute menuju kesehatan perilaku.
Harapan telah didefinisikan dalam dua cara: (1) secara historis secagai dugaan-dugaan dalam keabsenan dari fakta-fakta dan (2) sekarang sebagai pemilihan dan penggerakan ke arah tujuan yang dapat didefinisikan. Berharap adalah suatu proses menspesifikkan tujuan bersama jalur-jalur spesifik dari perencanaan (Snyder, Chavens, & Scott, 1999).
Beberapa nilai suportif dari berharap adalah kenyamanan yang sebentar dan keringanan dari penderitaan. Harapan menggerakkan cadangan energi untuk menemui sumber-sumber stres pada masa ini dan masa depan.
Sebuah batasan di mana helper harus berkomunikasi adalah kecenderungan pada harapan untuk menjadi sebuah pelarian diri dari realitas yang tidak menyenangkan atau berbagai tanggung jawab. Ini juga mudah bagi harapan untuk ditransformasikan ke dalam impian-impian yang lebih dangkal dan tidak realistis. Konsekuensi dari menyerahnya impian tidak sebesar kehilangan harapan. Jika hal itu terjadi, helpee akan kecewa, tetapi jika harapan berkurang, orang akan menjadi rentan untuk ragu atau kondisi terburuknya putus asa, tidak aman, tidak tertolong, dan diam saja.

Kesedihan Intensif
Kesedihan adalah sebuah reaksi emosi yang normal terdapa kehilangan yang hebat, biasanya pada orang-orang yang signifikan. Sebuah reaksi kesedihan yang akut mungkin bisa datang dengan amat sangat setelah kehilangan atau periatiwa traumatis atau itu mungkin tidak ada sama sekali dalam sikap yang diharapkan. Kesedihan bekerja ketika terjadi suatu kehilangan mungkin adalah hal normal, rangkaian yang dapat diprediksi, sebagai bagian lebih awal di bawah transisi, atau mungkin diekspresikan dalam perilaku yang menyimpang dan disfungsional.
Lindemann (1944) menggambarkan bagian normal dan yang tidak dari kesedihan dalam suatu bentuk yang sekarang berguna bagi para helpers pada umumnya. Kesedihan yang normal dicirikan oleh (1) reaksi fisik; (2) perasaan kosong, ketegangan, kelelahan yang amat sangat, kehilangan kehangatan, kesadaran akan jarak dari orang-orang; (3) sekali-sekali asyik dengan bayangan tentang kematian; (4) kadang-kadang merasa bersalah terhadap seluruh kegagalan untuk sesuatu atau tuduhan yang berlebihan pada diri sendiri pada peristiwa-peristiwa kecil; (5) berubah dalam pola aktivitas, tidak dapat beristirahat, tidak bertujuan, mencari aktivitas, masih belum kekurangan energi dan motivasi yang mengikutinya. Ia juga mengungkapkan mengenai reaksi antisipasi kesedihan (anticipatory grief reaction) yang merumitkan hubungan-hubungan ketika ketidakhadiran yang berkepanjangan, seperti pada masa perang, misalnya. Setelah perpisahan, reaksi kesedihan kadang-kadang terjadi dan bekerja terus terhadap ketidakhadiran orang yang telah meninggal. Ketika yang tidak hadir kembali, seperti pada kasus militer, kedua pihak sering terkejut pada saat emosi dilepaskan dari reuni mereka.
Bagian normal dari kerja kesedihan terdiri atas (1) menerima proses kerja kesedihan; (2) mengekspresikan perasaan kesedihan; (3) menyesuaikan dengan memori tentang kematian; (4) menyesuaikan kembali terhadap lingkungan baru tanpa orang yang telah meninggal; (5) membangun hubungan baru. Sebuah elemen penting dalam proses menolong adalah membuat yang kehilangan menerima dan bekerja melalui proses kesedihan.