Selambai dingin angin bukit

Gerakan jemariku untuk menggores

Sebuah kisah pencarian

Yang telah tertanam menjadi satu warna

Dalam ruang memoriku

………………………………………………………

Mahameru

Disambut topangan debu kering
Coba tegarkan tiap langkah yang beriring
Walau tetap engahan kami sesekali bersautan
Riuh…dan terbumbui peluh

Pencarian seperti ini
Menemui banyak candu rasa
Temukan lebih banyak asa
Yang melebihi nikmatnya Ranu Kumbolo

Kami dijadikan satu…
Dengan pijakan dan tolakan kaki yang saling tersandar
Sandaran itu nyata di pundak sahabat
Mencoba membeberkan jawaban atas pencarian ini…
Bersama….namun dengan warna tiap diri

Tenda ini sebenarnya dingin
Jika saja tawa hangat tak sesumbar
Lukiskan eratnya kala itu
Satu cita dengan sahabat
Sambil menyeruput teh yang telah dingin
Dan bergilir menelan mie yang mulai membeku

Kini…perjalanan membawa kami
Menjadi tiap diri yang punya arti
Melatih tubuh akrab dengan perih
Menjodohkan jiwa dengan sulitnya perjuangan

Tapak kaki tak berpijak tepat
Terseret alur pasir yang halus mengalir
Langkah ini semakin berat…
Ditambah suntikan angin yang membius
Memaksa diri menikmati kontradiksi motivasi
………………………………………………………………….
Pesona merah-ungu telah bercengkrama
Dengan kekaguman polos manusia
3…2…1…hitungan berakhir sudah
Satu cita teraih kini
Dengan berbagai rentetan hikmah yang menyertai
Rebahkan sebuah sujud
Disaksikan mungilnya senyuman mentari subuh
Diiringi tetesan kekaguman….
…………………………………………………………………….
Di puncak segitiga inilah aku terkapar
Pada ke-Maha Besar-an Ilahi

Gubahan dari 7 September 2004
Terima kasih Allah swt dan sahabat-sahabat ”Mahameruku” (Diego, Hendro, dan Aril)