Second Day (Kamis, 28 Juli 2008)

Sarapan Istimewa

Pagi harinya, setelah mandi, packing, dan tidak lupa foto-foto…kami segera mengangkut barang masing-masing ke dalam bus yang sudah dibagi menjadi 2 bus. Aku kebagian bus SKM, bersama Pinky Boy, Basyir, Mabrur, Andhit, Teguh “Roy Suryo” Santoso,(sodara lain bapak-lain ibu nih sama aku), Arif “Bli” yang dari Bali, dll. Setelah itu kami menuju tempat sarapan yang makanannya banyak. Aku inget waktu itu ikut acara Pendidikan Kepemimpinan Nasional 1 dan yang 2…menurutku itu sudah mewah…tapi ternyata ada lagi yang lebih mewah…Sontak karena belum “learning” menghadapi serangan menggiurkan dari banyaknya makanan di sarapan ini aku “kalap”…hahaha…

Yaiyalah…secara…bisaanya aku punya strategi kalau pagi banyakin minum dan baru sarapan jam 10. Bisaanya aku punya menu favorit, lontong padang di Simpang Dago atau kupat tahu di pertigaan Tubagus, bubur ayam di sebelah asrama, atau indomie bikin sendiri…hehehe…Pagi ini cukup kembung, inilah sebabnya aku gak mengambil omelet yang juga disajikan disama, salah strategi rupanya…nasi gorengnya kebanyakan. Untuk ke depan aku akan atur strategi makan…hehehe

Ke Sukorejo Plant

Kedatangan kami di Sukorejo Plant ini adalah ladang pembelajaran yang berharga bagiku. Awalnya kaami mendengarkan perkenalan tentang perusahaan PT. HM Sampoerna, Tbk. Banyak informasi yang bisa kuolah jadi ilmu di sini. PT. HM Sampoerna awalnya didirikan oleh seorang imigran asal Cina, Liem….(siapa gitu, lupa euy…) sejak tahun 1913. Diawali dengan pengalaman bekerja di sebuah perusahaan rokok kala itu, ia keluar dari perusahaaan dan mulai merintis usahanya sendiri dengan melinting rokok dan menjualnya di warung sederhana miliknya.. Melalui perjuangan dan segala ketekunannya secara turun-temurun, akhirnya perusahaan ini berhasil menjadi Market Leader perusahaan rokok sejak tahun 2005, setelah menyalib PT. Gudang Garam dan juga Bentoel. Nah pada saat dalam prestasi puncaknya itulah Bapak Putra Sampoerna menjual perusahaan rokoknya itu kepada sebuah korporasi besar asing, yaitu Philip Morris International. Penjualan ini sempat membuat karyawan shock, bahkan sempat ada masalah dimana para buruh demonstrasi karena mendengar berita burung bahwa ada uang 25 juta yang dibagikan kepada setiap karyawan sebagai uang jasa. Rupanya Putra Sampoerna menerapkan sebuah prinsip ekonomi mendasar yang berkata “Juallah barang pada saat harganya sedang tinggi-tingginya.

Selain belajar tentang entrepreneurship, aku tergelitik ketika Direktur Coorporate Affairs Sampoerna, Bapak Yos berkata, “Kami saling menghargai, saya tidak merokok, tapi menghargai teman-teman yang merokok, begitu juga sebaliknya…”. Aku mulai menganalisa…alas an pak Yos tidak merokok apa yah? Kemungkinan besar alas an kesehatan…berarti kan ia paham bahwa membuat dan menjual rokok itu berarti memfasilitasi orang untuk merokok, alias memfasilitasi seseorang untuk merusak kesehatannya…Dari sini aku puny aide…sepertinya bagus untuk dijadikan bahan skripsiku…hehehe…Kemungkinan teorinya tentang Disonansi Kognitif…Tapi enggak lah…lebih menarik untuk meneliti tentang PPSDMS, lebih nyata kontribusi untuk bangsanya.

Menemui Preman Tobat

Setelah bertemu dengan pihak management PT. HM Sampoerna, kami berkunjung ke SETC..Apa itu SETC? Kepanjangannya adalah Sampoerna Enterpreneur Training Club. Ini adalah bentuk CSR dari Sampoerna sebagai sebuah perusahaan yang punya tanggung jawab secara social, juga pada lingkungan. Karena dalam peraturannya setiap perusahaaan haru smemiliki CSR yang punya prinsip 3 P: People, Planet, and Profit. Di sini aku mendapat banyak ide untuk diterapkan di Desa Cipayung, tempat “CSR” (Campus Social Responsibility) bagi BEM Unpad.

Di SETC ini terdapat beberapa pengolahan kotoran sapi menjadi pupuk dan biogas, ada juga tempat kursus menjahit, montir, dan pabrik sederhana dalam produksi teh rosella, tempe, dan kripik ubi merah. Di sini juga terdapat perkebunan buah naga dan sawah padi yang dikembangkan dengan metode SRI…Aku jadi inget Pak Mubiar, dosen ITB yang pernah mengajar Konsep Teknologi untuk mahasiswa Fakultas Psikologi yang berminat. Beliau termasuk peneliti kawakan dalam mengembangkan SPI di Indonesia.

Setelah keliling SETC kami dibagi kelompok untuk mengobservasi kegiatan CSR yang lainnya dari Sampoerna. Aku masuk dalam tim Sukorejo yang akan mengobservasi Usaha Jamur di Desa Bulu Kandang. Ini dia kegiatan kesukaanku…mengobservasi dan turun langsung ke lapangan untuk melihat masyarakat lebih dekat. Kalau kata Soe Hok Gie, yang juga dengan persetujuanku, “Patriotisme tidak bisa tumbuh hanya dengan slogan dan hipokrisi, namun dengan melihat lingkungan dan masyarakat Indonesia dari dekat.” Setelah tiba di kawasan usaha Jamur di Desa Bulu Kandang ini aku langsung ke WC…hehehe…harus di keluarkan nih…oh iya hal ini juga mengingat siang tadi aku juga makan banyak..:P

Setelah beberapa menit mengobrol mengenai proses budidaya jamur dan pemasarannya dengan pak Kaiman dan Pak Luthfi aku tertarik dengan pernyataan Pak Luthfi (LO kami saat itu), yang bilang, “Mereka itu(sambil menunjuk ke arah pekerja yang sedang membuat baglog, yaitu media tanaman jamur)dulunya maling dan preman.Sontak aku kaget karena suara Pak Luthfi pasti terdengar oleh mereka yang dimaksud preman atau maling itu.

Selanjutnya aku mulai mengatur strategi untuk menggali informasi yang lebih dalam mengenai hal maling dan preman. Dengan gaya khas anak psikologi yang tidak langsung straight forward untuk bertanya tentang hal sensitive, aku mencoba bertanya dengan penuh perhatian. Tanpa disangka…mereka duluan yang membuka “aib” mereka…Sambil bercanda mereka saling menunjuk bahwa, “Ini maling dulu mas…yang ini juga mas….” Aku agak bingung, jadi maling kok bangga? Akhirnya setelah aku coba gali lebih dalam, aku menjadi lebih paham bahwa kebanggaan mereka bukan pada masa lalu, tapi tentang berhasilnya mereka bangun dari keterpurukan. Bahkan orang tua mereka menjadi bangga karena sudah memiliki penghasilan yang cukup.

Aku harus belajar tentang kerja keras nih dari mereka. Percakapan kami cepat hangat ketika itu, hingga seseorang dari mereka “cuhat”, iya mas sudah jadi preman tobat nih sekarang…”.

Lalu saya tanggapi…”Iya mas, wah dapat sayang nih dari Allah, yah semoga sukes dunia-akhirat ya mas..”

“Amiiiin…”, mereka langsung mengamini dengan semangat dan senyum yang renyah…khas pekerja keras.

Jadi pak Kaiman, yang merupakan ketua pengusaha jamur di sini dulunya juga pernah menjadi ketua. Tapi ketua sindikat curanmor. Pendekatan Sampoerna memnag bagus. Setelah membuat mapping potensi bahwa di Bulu Kandang banyak terdapat limbah serbuk kayu yang sempat jadi masalah, dan juga melihat bahwa daerah ini juga menjadi sarang curanmor bahkan menjadi daerah operasi polda Jatim, mereka menggaet Kaiman sebagai “Godfather-nya. Hal ini dilakukan agar perubahan yang terjadi tidak hanya dalam aspek ekonomi, tapi juga perilaku dan “profesi”. Agar yang dulunya “maling atau preman” menjadi pengusaha jamur.

Ternyata kami mendapat “penyiksaan” di sini…Bentuknya adalah disuguhkan soto jamur plus dengan nasinya…Dengan perut yang sudah kenyang abis kami harus menghabiskan suguhan itu. Serba salah, jika dimakan akan menjadi “sesak di perut”, jika tidak dimakan akan menjadi etika yang kurang baik. Hehehe…dasar perut karet akhirnya aku memilih untuk memakannya sampai habis! Ya iayalah…aku gak pernah punya tradisi memakan makanan tidak sampai habis…mudah-mudahan jadi ikhtiap Sunnah Rasul…namun keknyangan kan bukan Sunnah Rasul…Astaghfirullahal Adzim…maafkanlah hambamu ini ya Allah…Jadi inget sama anak-anak yang susah makan…Maafkan aku rakyat kecil….

Kesimpulanku saat ini…CSR Sampoerna cukup digarap dengan serius dan semoga benar-benar memajukan masyarakat sekitar. Tapi jangan disuruh ngerokok yah….aku jewerin nanti kuping para management-nya…

Cobaan apa lagi ini ya Allah….

Dengan perut penuh kami semua segera menuju penginapan selanjutnya untuk check ini. Sebelumnya dengan maksud makan malam, kami berhenti di Restoran Ikan Bakar Cianjur….”Cobaan apa lagi ini ya Allah…” Pikirku dalam dalam…Ini benar-benar menjadi cobaan agar sepulang dari acara ini tidak terbisaa untuk hura-hura, makan berlebihan…Akhirnya di sini aku hanya gadoin ikan dan ayam bakar, tanpa nasi. Bahkan si Pinky Boy dengan tubuhnya yang memang kurus itu tidak mau makan malam (Dia juga setim denganku yang “tersiksa” di Bulu Kandang..hehehe).

Sehabis memelarkan perut, kami tiba di Novotel Surabaya…aku sekamar dengan Basyir dan mendapat kamar 307. Ketika masuk, aku langsung berkata dengan spontan lagi…”Cobaan apa lagi ini ya Allah…” Gak tau ini hotel bintang berapa…yang jelas semua ada, lebih mantap dari hotel yang pernah aku inapi di Yogyakarta, pada saaaat program Road to Java beberapa bulan yang lalu. Sayang air panasnya tidak berfungsi dengan baik dan aku mandi dengan air bisaa. Setelah mandi aku dan Basyir kumpul kelompok Sukorejo di lobi untuk membicarakan tentang hasil observasi yang harus di presentasikan hari Sabtu nanti. Selebihnya aku tidur tanpa sempat mengobrol lebih dalam dengan roomateku. Hari yang penuh cobaan…Setengah senang, setengah gusar.