Setelah 1 tahun tak bersua dengan saudara perjuangan satu idealisme, aku kembali menatap sorotan tajam mata para pemimpin masa depan. Terakhir bertemu pada saat PKN II yang juga diisi dengan outbond di Cibubur. Aku berangkat dari Jatinangor karena terlebih dahulu mengurus amanah dan mendelegasikannya kepada saudara dan saudariku tercinta di BEMU yang tentunya sempat marah-marah karena keseringan kutinggal keluar kota. Iya, setelah kemarin aku “jalan-jalan” ke Surabaya, sekarang aku pergi lagi….Namun kali ini jauh berbeda. Kali ini adalah momentum sangat penting, PKN Wisuda! Pendidikan Kepemimpinan Nasional sekaligus Wisuda Peserta PPSDMS Nurul Fikri angkatan III. Ini adalah momentum pelepasan sebelum kami harus “terbang” keluar PPSDMS mengepak sayap dan mengukir asa di titik langit terjauh (baca postingan ini).

Aku berangkat dari Jatinangor kira-kira pukul 10.30 setelah sebelumnya ditahan salah satu saudari seperjuanganku untuk mendengarkan keluh kesahnya. Sejujurnya aku merasa “agak bersalah” meninggalkan amanahku lagi, padahal baru seminggu ini aku bergeliat di Jatinangor lagi…ehhhh sudah “terbang” lagi ke Depok. Yap, setelah sampai terminal Leuwi Panjang aku naik bus jurusan Depok yang nama bus-nya MGI. Soalnya kata Aji (manajer asrama PPSDMS regional 2 Bandung) bus itu sampai di depan gedung PPPPTK (semacam pusat pelatihan bahasa di daerah Lenteng Agung). Di PPPPTK inilah kami senantiasa mengadakan PKN. Tidak tanggung-tanggung, seperti PKN-PKN sebelumnya, pembicara yang diundang adalah para pemimpin yang bisa dibilang sukses di bidangnya masing-masing. Diantaranya adalah Yudi Crisnandi, salah satu politikus Golkar yang aku acungi jempol. Arifin Panigoro, seorang pengusaha dan politikus idealis yang keluar dari PDIP karena menurutnya sudah tidak sesuai dengan suara wong cilik. Ada Marwah Daud, pendiri pelatihan MHMMD sekaligus kader Golkar yang juga menurutku termasuk orang yang bersih. Adhaksa Dault, Menpora yang menjadi menteri dan pemuda terpopuler versi sebuah lembaga survei. Sandiaga Uno yang merupakan tokoh pengusaha muda nasional, Ketua HIPMI yang memiliki idelisme dan kecintaan yang dalam terhadap Indonesia (minimal ini hasil pengamatanku langsung pada saat beliau jadi pembicara di PKN II setahun yang lalu dan juga melalui aktivitas-aktivitasnya yang kudengar secara langsung atau tidak langsung). Ada juga Ketua MPR RI kita yang bersahaja dan sangat kuat berdakwah, DR Hidayat Nur Wahid. Semoga aku bisa menjadi sukses melebihi mereka, ridhoi hambamu ini ya Allah…Amiiin

Nah, setelah berjalan cukup jauh dari tempat pemberhentian bus, aku tiba pukul 14.30 di tempat PKN Wisuda kami. Di sana sudah terlebih dahulu ramai dengan aktivitas PKN bagi angkatan baru, adik-adik kami tercinta yang harus jauh lebih baik dari kami! Sesuai dengan dugaanku tentang kedisiplinan PKN yang akan melibatkan TNI AD, acara pertama dimulai dengan pelatihan PBB untuk mempersiapkan apel pembukaan PKN Wisuda kami. “Jangan lambat! Jadi pemimpin geraknya harus cepat!”, begitulah kira-kira ungkapan yang sering terdengar. Bagiku, hal ini merupakan momentum yang sayang jika dilewatkan. Aku coba menikmati ketegasan demi ketegasan para prajurit TNI AD yang mencoba mengajarkan kedisiplinan dengan cara militer kepada kami.

Pendidikan kedisiplinan ala militer ini punberlanjut di meja makan. Untung aku tidak terlalu banyak mengambil makanan malamku. Kalau kebanyakan, bisa ancur alat pernafasan nih. Bayangkan! Kami harus menghabiskan makanan dalam waktu 5 menit! Gak biasa banget. Padahal aku termasuk orang yang terkenal sangat menikmati makanan yang kumakan…bahkan ada yang pernah bilang…”Gw kalo ngeliat lo makan jadi kenyang qih…menghayati banget sih makannya…? Ya pastinya…harus dinikmati lah…coba bayangin saudara-saudara kita yang susah makan! So…nyam…nyam…nyam….”Habiskan! Yang belum habis saya kasih waktu 10 hitungan!” Langsung tuh udang campur semangka dan nasi menumpuk penuh di mulutku karena terburu-buru harus dihabiskan….Mulai berubah nih paradigmaku tentang makan….makan=penyiksaan! hahahaha

Setelah makan ada “welcoming speech” dari trainer kami tercinta, Pak Arief Munandar. Beliau menceritakan tentang sejarah PPSDMS dan perjuangannya. Jujur, meskipun aku sering mendengarnya tapi tak bosan telinga, otak dan hati ini untuk kembali mengolah cerita kepahlawanan para pendiri PPSDMS, terutama direktur kami yang menurutku akan menjadi ahli surga, Drs. Musholi. Bayangkan! Pada saat angkatan I, yaitu 20 mahasiswa UI, PPSDMS hampir bubar karena tidak mampu membiayai operasional pembinaan. Namun karena kesungguhan, pengorbanan, pengurasan harta dan jiwa….para pengurus PPSDMS saat itu berhasil survive dengan dibantu oleh Yayasan Paguyuban Ikhlas untuk membiayai operasional selama 2 tahun pembinaan. Jalan Allah memang mutlak bagi orang-orang yang bersungguh-sungguh…seperti perkataan seorang “pesolek politik” yang belakangan sering muncul di TV, “if there is a will, there is a way”.

Ada satu momentum mengharukan yang diceritakan Pak Arief ketika ia dipersuasi oleh Ustad Musholi untuk ikut terlibat dalam proyek peradaban PPSDMS. Suatu saat Pak Arief diajak Ustad Musholi berkunjung ke kantor PPSDMS, betapa tak disangkanya, ternyata kantor PPSDMS tak lebih dari sebuah bedeng yang tanah belakangnya ditumbuhi alang-alang yang tak jelas peruntukannya. Di lokasi tumbuhnya alang-alang itu Pak Musholi berkata…”Nanti di sini akan ada sebuah gedung minimal berlantai 3 sebagai markas bagi terbentuknya peradaban Indonesia yang lebih baik dan bermartabat…” Dan…aku sempat terharu mengingat bahwa kini….cita-cita itu telah menjadi kenyataan….Hari ini aku belajar tentang kekuatan mimpi….yang seharusnya tidak hanya menjadi mimpi seseorang, namun harus menjadi mimpin kolektif dan tentunya perlu kesungguhan dan pengorbanan yang tinggi. Bahkan, janganlah kita bersuka cita ketika ternyata perjuangan dakwah yang kita usung begitu berjalan dengan mulus….jangan-jangan trek-nya salah lagi….?

Jika seseorang bermimpi, maka itu hanyalah sebuah mimpi

Jika kita bersama-sama bermimpi, maka itu adalah awal dari kenyataan

Jika kita bersama-sama menuju mimpi bersama, maka itu adalah perwujudan surga di dunia

(Peribahasa dari Brazil)