Manusia di muka bumi ini terus berdesakan. Jumlah populasi penduduk semakin bertambah, laju pertumbuhannya pun semakin cepat. Saat ini manusia yang menghuni bumi telah mencapoai angka lebih dari 2,5 milyar. Angka ini belum ditambah dengan fakta bahwa terjadi angka kenaikan tahunan yang mencapai sekitar 34 juta orang per tahun, hampir 4000 orang per jam. Sebanyak 283 ribu bayi dilahirkan setiap hari, dan 103 juta bayi akan dilahirkan ke dunia tahun ini.
Fakta di atas merupakan sebuah realita yang akan berdampak besar terhadap keberlangsungan dan kesejahteraan hidup manusia. Pertumbuhan penduduk akan berarti juga keharusan manusia untuk dapat memenuhi kebutuhannya dengan layak. Namun, dalam kenyataannya, baik dalam konteks sosial kemasyarakatan maupun industri telah terjadi ketidakseimbangan. Fenomena tersebutlah yang kemudian disebut sebagai overpopulated.
Overpopulated merupakan sebuah keadaan disuatu wilayah dimana jumlah populasi yang ada melebihi jumlah peran yang dibutuhkan. Dalam konteks sosial kemasyarakatan dan industri hal ini berkaitan dengan pekerjaan, tenaga kerja, dan pengangguran. Suatu kota yang mengalami overpopulated akan mengalami sebuah masalah dimana banyak penduduk yang tidak memiliki pekerjaan atau terjadi ketidakseimbangan bobot kerja antara orang yang satu dengan yang lainnya.
Keadaan overpopulated dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat dan proses produksi yang mengandalkan mesin. Selain fakta tentang meledaknya jumlah penduduk seperti di atas, terdapat hal yang lebih mengkhawatirkan lagi tentang laju pertumbuhan penduduk. Seperti teori yang dikemukakan oleh Malthus (1798) bahwa penduduk cenderung tumbuh tidak secara deret hitung melainkan secara deret ukur “melonjak dengan suku bunga bertingkat”, laju pertumbuhan penduduk terus meningkat. Persis sampai abad sekarang ini, angka pertumbuhan bertingkat itu tetap berada di bawah 1 persen per tahun, tetapi kini telah mencapai 1,33 persen per tahun. Yang lebih buruk lagi, percepatan kenaikan ini tidak menunjukkan tanda-tanda bergerak lamban, dan banyak alsan yang dapat menyimpulkan bahwa angka itu akan terus merambat naik untuk sekurang-kurangnya selama beberapa dasawarsa. Penyebab overpopulated tentang proses produksi adalah keterlibatan manusia yang semakin berkurang oleh kemajuan teknologi mesin. Beberapa perusahaan mengadakan PHK besar-besaran ketika telah mendapatkan mesin yang lebih memangkas biaya operasional produksi.
Di Indonesia, masalah overpopulated telah lama menjadi problematika yang tak pernah teratasi. Indonesia memiliki pulau Jawa yang kepadatan penduduknya paling tinggi sedunia, yaitu 50 juta orang pada luas tanah 50.000 mil persegi. Angka ini melebihi dua kali lipat tingkat kepadatan Inggris yang merupakan negara industri sangat maju. Ditambah lagi laju pertumbuhan penduduk pulau Jawa mencapai 1,5 persen, melebihi rata-rata laju pertumbuhan di dunia.
Akhirnya permasalahan overpopulated di Indonesia berdampak pada banyak hal. Hal tersebut antara lain adalah tingkat pengangguran yang tercatat dalam angka 9,11 % pada Agustus 2007. Meskipun angka tersebut mengalami penurunan sejak Februari, yaitu sebesar 9,75 %, namun Indonesia telah dinyatakan sebagai negara dengan angka pengangguran tertinggi di ASEAN. Dengan dinamika masalah angka pertumbuhan ekonomi sektor riil yang belum juga memuaskan, pengangguran terbut berakibat pula pada tingginya angka kriminalitas. Angka kriminalitas pada tahun 2007 ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2006, yaitu sebesar 60.983 dari 59.376 atau meningkat sebesar 2,71 %. Angka ini ditambah lagi dengan angka rata-rata resiko kejahatan terhadap per 100 ribu penduduk yang juga meningkat, dari 310 menjadi 317, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 2,25 %.