Ibarat kapal layar, saat ini Indonesia sedang menghadapi banyak gelombang tinggi serta terjangan badai yang memang tidak pernah bersahabat. Namun hal ini sudah menjadi konsekuensi perjuangan bangsa ini untuk mencapai sebuah pulau yang diberi nama “keadilan dan kemakmuran”. Di samping factor eksternal tersebut bangsa ini juga harus berpenat – penat dalam mengurus permasalahan internal, mulai dari yang kecil – kecil sampai yang dapat membuat kapal tenggelam ke dasar kemiskinan dan penjajahan.

Entah apa yang dipikirkan nakhoda bangsa ini – SBY – ketika melihat hantaman bertubi – tubi baik dari dalam maupun luar kapal. Dari sisi luar, kepemimpinan ini terus digoncangkan badai ekonomi yang tak pernah reda. Sedangkan dari dalam, tak tertolak lagi, ia harus “meneruskan perjuangan bangsa” dari para pendahulunya, nakhoda – nakhoda yang memiliki kontribusi besar yang mayoritas negatif. Masing – masing nakhoda yang menjadi pendahulu SBY meninggalkan banyak kekacauan di dalam kapal. Di sisi lain, pada masa ini masih saja ditemukan kesalahan dalam menentukan berkembangnya layar sebagai salah satu penentu arah kebijakan. Ditambah lagi para pendayung yang ternyata masih bersikap malas – malasan untuk bekerja.

Mari sejenak kita tinggalkan analogi menarik tersebut untuk menelaah secara ilmiah posisi bangsa Indonesia sebagai sebuah kelompok.

Dalam kajian tentang kelompok pada ilmu Psikologi Sosial, saat ini Indonesia sedang mengalami masa – masa sulit yang menentukkan identitas bangsa yang sebenarnya. Sebagai analisis dari teori tahap perkembangan kelompok, saat ini bangsa Indonesia sedang berada dalam tahap storming setelah “agak berhasil” melewati tahap forming.

Dalam tahap forming, bangsa Indonesia mengalami masa orientasi dan ketidakpastian. Pada masa ini yang harus dilakukan sebuah kelompok adalah menentukan tujuan sebagai awal tonggak terbentuknya arah bangsa yang baku. Dengan perjuangan yang sangat panjang dan penuh pengorbanan, akhirnya Indonesia dapat merumuskan pokok – pokok tujuannya yang kemudian disebut Pancasila dan UUD 1945. Di masa seperti ini rakyat sangat tergantung pada kepemimpinan formal. Beruntung kita punya banyak pemimpin yang memang layak disebut pejuang kemerdekaan untuk menduduki kursi formal kepemimpinan.

Setelah berhasil melewati tahap pembentukan sebuah kelompok, bangsa ini menuju tahap storming. Pada waktu sekarang – sekarang inilah bangsa Indonesia mengalami ujian kritis sebagai sebuah bangsa yang akan membuktikan identitas aslinya. Waktu ini di mulai sejak tahun 1956 pada saat duet kepemimpinan bangsa ini tak lagi solid. Hal ini ditunjukkan dengan pengunduran diri sang pejuang Bung Hatta. Dalam menjalani kepemimpinannya, ternyata Soekarno mulai diragukan kepemimpinannya. Puncaknya terjadi pada peristiwa digulingkannya beliau oleh banyak kekuatan, baik yang murni dari rakyat maupun para politisi yang saling menancapkan pengaruhnya. Tahap storming tersebut berlangsung hingga saat ini. Konflik mulai merajalela, politik kekuasaan dan kekayaan telah menjadi sumbernya. Korupsi, kolusi, dan nepotisme telah menjadi kepribadian para birokrat di bangsa ini. Tahap ini harus dapat ditanggulangi, karena menentukan apakah bangsa ini akan tetap eksis dan menuju tahap perkembangan kelompok berikutnya atau menjadi bangsa yang hilang ditelan kemiskinan dan penjajahan (dalam teori tahap perkembangan kelompok disebut adjourning).

Mari kita ‘refreshing’ untuk kembali berfantasi dengan menganalogikan bangsa ini sebagai sebuah kapal layar sebagai lanjuran di atas.

Jika berkaca pada analisis teori di atas, bangsa Indonesia sangat butuh kreativitas dalam menembus badai serta konflik internal yang berkepanjangan ini. Ternyata dengan peka SBY membentuk sebuah tim khusus yang akan membantunya dalam menentukan pengembangan layar sehingga tidak salah lagi dalam menentukan arah kebijakan.

Sayangnya, para pemimpin bangsa ini memiliki kebuntuan dalam membuat strategi agar kapal Indonesia dengan cepat dan tepat menuju pulau “keadilan dan kemakmuran”. Kenapa kapalnya tidak dikasih mesin yang penuh dengan tenaga muda? Mungkin dengan pengorbanan yang memang cukup besar, bangsa ini akan cepat melewati kekritisannya. Analogi ini adalah ide untuk menyampaikan bahwa bangsa ini harus memberikan porsi yang besar terhadap pembinaan para pemudanya. Sudah banyak argument, data, fakta yang menyampaikan kepastian perubahan dari peran pemuda. Sejarah takkan pernah diam untuk terus mengelu-elukan dinamika kejayaan-keterpurukan sebuah bangsa dan sejarah juga takkan pernah lupa untuk menempatkan peran pemuda atau mahasiswa sebagai pemimpin perubahan menyambut kejayaan. Karakteristik sejarah seperti inilah yang patut kita jadikan referensi untuk mencari solusi bagi permasalahan suatu bangsa.

Pembinaan yang dilakukan pun harus mampu mengintegrasikan tiga potensi dasar manusia, yaitu hati, akal, dan fisik agar mesinnya dapat berfungsi dengan baik. Pembinaan hati berguna untuk memastikan mantapnya putaran mesin, akal untuk mensinergiskan perpindahan elektron – elektronya, serta fisik untuk menghindari aus pada komponen mesin. Dengan ini dapat dilakukan percepatan yang maksimal agar kapal bangsa ini dengan cepat dan tepat mendarat di pulau idaman sehingga para awak kapal bersama – sama menikmati indahnya mimpi yang sudah lama tidak terwujud.