Alhamdulillah aku sudah ganti dosen pembimbing, kali ini dosennya enakeun euy…Mba Ninin…Awalnya  aku tertarik pada bagaimana proses komitmen membangun bangsa, namun ternyata sulit menemukan konsep ilmiahnya. Akhirnya setelah mewawancarai subjek yang ingin kuteliti, yaitu adik-adik PPSDMS-ku. Aku tertarik pada fenomena religiusitas yang menjadi latar belakang seseorang untuk beramal, membantu orang, bahkan samapi berkorban untuk orang lain. Ada hubungannya gak yah antara religiusitas dengan tingkah laku prososial??? Ada yang bisa bantu jawab???

Begini ceritanya………………….(maksudnya latar belakang)

Mahasiswa merupakan aset yang sangat berharga bagi suatu bangsa. Mereka merupakan tonggak bagi pengembangan menuju masyarakat madani (civil society). Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap perubahan yang terjadi pada suatu bangsa hampir selalu merupakan hasil inisiasi dari mahasiswa. Dalam sejarah Indonesia sendiri, mahasiswa selalu mengukir tinta emas perubahan ke arah yang lebih baik bagi Indonesia. Kita dapat melihat kembali buku sejarah kita tentang Taman Siswa, Sumpah Pemuda, Peristiwa Rengasdengklok, hingga Reformasi pada tahun 1998.

Kondisi bangsa Indonesia yang sedang mengalami berbagai krisis, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia membuat saat ini menjadi momentum wajib bagi mahasiswa berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat tujuan pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).(http://bz.blogfam.com/2006/05/menyoal_problematika_pendidikan.html)Diakses pada tanggal 1 Maret 2007.

Secara psikologis, mahasiswa sedang berada pada sebuah fase transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal. Pada masa ini mahasiswa mengalami perubahan yang penting bagi perkembangan psikososialnya. Menurut Erikson (1963, 1968), perkembangan psikososial pada usia seperti ini berada pada tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana mahasiswa tengah mengalami pencarian identitas diri. Mahasiswa mengacu kepada identitas yang berupa suatu prestasi atau penghargaan. Pada tahap ini pula, terdapat kesetiaan yang sangat tinggi terhadap komunitas yang ia ikuti, sehingga muncul rasa bangga dan pembelaan terhadap komunitas tersebut.

Dengan kondisi psikososial seperti di atas, maka usia mahasiswa sangat krusial bagi tertanamnya komitmen membangun bangsa. Jika saja mahasiswa dibina dengan baik, maka akan tercipta suatu internalisasi nilai cinta tanah air. Selama ini memang kontrol sosial pada lingkungan sekitar mahasiswa tidak mampu untuk memfasilitasi tertanamnya rasa kebangsaan. Untuk itu, diperlukan sebuah metode yang juga melibatkan fungsi kontrol sosial yang intensif bagi terciptanya komitmen tersebut.

Fenomena yang menarik mengenai persoalan ini adalah munculnya lembaga-lembaga yang berfokus untuk membina mahasiswa. Salah satu lembaga yang sedang melakukan hal tersebut adalah Yayasan Nurul Fikri. Yayasan ini membuat sebuah program yang disebut Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis (PPSDMS) yang saat ini sudah berjalan tiga generasi. Proyek peradaban tersebut telah dibangun sejak tahun 2002. Saat ini PPSDMS memiliki perluasan yang cukup progresif. Pada saat ini pembinaan yang dilakukan telah menjamah 5 kota besar di Pulau Jawa yaitu Jakarta (Universitas Indonesia), Bandung (Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran), Yogyakarta (Universitas Gadjah Mada), Surabaya (Institut Teknologi Surabaya dan Universitas Airlangga), dan Bogor (Institut Pertanian Bogor). Selama dua tahun ini, perlahan tapi pasti mahasiswa PPSDMS memiliki prestasi yang luar biasa dalam bidang akademik maupun keorganisasian.

Seperti halnya organisasi lain yang telah berdiri selama lebih dari 5 tahun, PPSDMS Nurul Fikri memiliki visi organisasi. Visi PPSDMS Nurul Fikri adalah “Melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang memiliki pemahaman Islam yang komperehensif, integritas, dan kredibilitas yang tinggi, berkepribadian matang, moderat, serta peduli terhadap kehidupan bangsa dan negara.” Dalam buku pedoman Sistem dan Manajemen Pembinaan, visi PPSDMS tersebut juga menggariskan bahwa pemimpin yang dicita-citakan PPSDMS adalah pemimpin yang mampu menggerakkan proses transformasi dengan kemampuannya membangun trust and respect dari masyarakatnya sebagai dampak dari paradigma Islamnya yang menyeluruh dan moderat, nilai-nilai integritas dan kredibilitas yang embodied dalam dirinya., kematangan pribadinya, serta penghayatannya yang tinggi terhadap nasib bangsa dan negara ini, sehingga ia tidak tampil sebagai pribadi yang self-centered, tidak tampil sebagai pribadi yang bersibuk diri dengan hal-hal seputar dirinya saja.

PPSDMS juga memiliki serangkaian kata yang pada banyak momentum diperdengarkan kepada seluruh peserta yang dibina PPSDMS. Serangkaian kata tersebut disebut sebagai “Idealisme Kami”. “idealisme Kami” merupakan sebuah hasil rumusan dari keyakinan dasar organisasi PPSDMS Nurul Fikri. Bunyi dari “Idealisme Kami” melukiskan sebuah cita-cita atau idealisme yang berusaha kuat dipegang oleh semua elemen PPSDMS, baik pengurus, dewan Pembina, dewan penyantun, hingga para pesertanya. Adapun bunyinya adalah sebagai berikut:

Idealisme Kami

Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka

Mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri

Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur sebagai penebus bagi kehormatan mereka,

Jika memang tebusan itu yang diperlukan

Atau menjadi harga bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka,

Jika memang itu harga yang harus dibayar

Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap seperti ini

selain rasa cinta yang telah mengharu-biru hati kami,

menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami,

dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami

Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan bencana yang mencabik-cabik bangsa ini,

sementara kita hanya menyerah pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci,

Bersih dari ambisi pribadi, bersih dari kepentingan dunia, dan bersih dari hawa nafsu

Kami tidak mengharap sesuatupun dari manusia,

Tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya, tidak juga popularitas, apalagi sekedar ucapan terima kasih

Yang kami harap adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat

Serta kebaikan dari Allah-Pencipta Alam Semesta

Dari bait-bait “Idealisme Kami” tersebut tersirat tiga butir Keyakinan Dasar PPSDMS Nurul Fikri, yaitu:

1. Organisasi ini adalah alat perjuangan untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang terhormat dan bermartabat, di bawah naungan ridha Allah SWT.

2. Kita adalah pejuang yang berjuang untuk kembalinya kejayaan dan kehormatan bangsa ini, dengan berupaya mengatasi bencana, kehinaan, dan keputusasaan yang sedang melanda bangsa ini.

3. Berkorban jiwa dan raga atas dasar rasa cinta demi kembalinya kejayaan dan kehormatan bangsa ini adalah kebanggaan dan kebahagiaan kita.

4. Kepentingan dunia, seperti materi, popularitas, dan ucapan terimakasih dari manusia, sama sekali tidak berarti bagi kita jika dibandingkan dengan kebangkitan kembali bangsa ini, dan pahala dari Allah SWT.

Dalam mencapai visi besar mempersiapkan generasi pemimpin yang akan membawa Indonesia menjadi lebih baik dan bermartabat, PPSDMS membangun sebuah manajemen pembinaan yang diharapkan mampu mendorong perilaku positif dari pesertanya. Dalam berbagai literatur psikologi sosial, tingkah laku sosial yang positif sering disebut sebagai tingkah laku prososial. Meskipun terdapat berbagai pandangan mengenai definisi tingkah laku prososial, setiap tingkah laku yang menguntungkan atau mensejahterakan orang lain, dapat disebut sebagai tingkah laku prososial (Wispe, 1972 dalam Malim & Birch, 1998). Eisenberg dan Musen (1989), mendefinisikan bahwa tingkah laku prososial adalah aksi sukarela yang dimaksudkan untuk membantu atau menguntungkan sekelompok orang atau sekelompok individu.

Perilaku prososial tersebut dapat dilihat dari berbagai jenis dan bentuknya, mulai dari pertolongan secara emosional hingga pertolongan fisik. Seseorang dapat merespon teman atau orang asing yang sedang berada dalam keadaan yang sedang berada dalam keadaan penuh tekanan, terluka, atau merasa sakit. Ketika orang lain terlihat sedih , kecewa, atau tidak bahagia, seseorang dapat membantu dengan memberikan simpati atau penghiburan. Dalam bentuk fisik, seseorang misalnya dapat merespon permintaan verbal akan makanan, pakaian, atau objek material lain bagi orang-orang yang kurang mampu. Seseorang juga dapat berinisiatif untuk menolong korban kecelakaan, atau membantu mendorong kendaraan orang lain yang mogok, misalnya.

Menurut Batson & Coke (1981), terdapat 2 jenis motif prososial. Kedua motif tersebut yaitu motif egoistik. Seseorang dengan motif altruistik memiliki tujuan utama untuk mengurangi kesulitan orang lain, sedangkan seseorang dengan motif egoistik memiliki tujuan utama untuk mengurangi ketidaknyamanan dalam dirinya. Munculnya perasaan-perasaan tidak nyaman tersebut mendorong seseorang untuk lebih memusatkan diri pada bagaimana ia dapat mengurangi rasa tidak nyaman tersebut daripada bagaimana ia dapat mengurangi kesulitan yang dialami orang lain. Motif altruistik di sisi lain didasari oleh rasa simpati, prihatin dan perasaan lain sejenis yang mendorong seseorang untuk mengurangi kesulitan orang lain.

Selain teori tentang motif prososial di atas, tingkah laku prososial juga dapat dibagi ke dalam tiga subkategori, yaitu tingkah laku helping, altruism, dan cooperation. Helping didefinisikan sebagai suatu tindakan yang memiliki konsekuensi memberikan keuntungan atau meningkatkan kesejahteraan orang lain (Schoeder, et. Al., 1995). Sepanjang tingkah laku yang muncul memberikan peningkatan kesejahteraan bagi orang lain maka tingkah laku tersebut sudah dapat diidentifikasi sebagai helping. Altruism merupakan tingkah laku prososial yang dilakukan tanpa mengantisipasi adanya reward dari sumber eksternal dalam memberikan bantuan (Macaulay dan Berkowitz, 1970) hingga sampai si pelaku harus mengorbankan diri atau mengeluarkan harga atas tindakannya (e.g Krebs, 1982; Wispe, 1978). Cooperation merupakan gambaran tingkah laku prososial pada saat-saat dimana dua orang atau lebih orang bekerjasama untuk meraih tujuan yang dapat menguntungkan semua pihak (Rave dan Rubin (1983).

Dalam Buku Pedoman Sistem dan Manajemen Pembinaan PPSDMS Nurul Fikri Tahun 2008-2010 terdapat 5 nilai dasar (primary values) yang menjadi pegangan dalam pembinaan peserta. Salah satu nilai dasar PPSDMS tersebut adalah Islam yang Komperehensif. Islam yang Komperehensif didefinisikan sebagai Islam yang mendasari, menjiwai, dan menaungi seluruh aspek kehidupan, baik dalam hubungan dengan Allah SWT, maupun dalam hubungan dengan sesama manusia dalam konteks kehidupan masyarakat, bangsa, negara, dan alam semesta, yang tampil dalam perilaku yang moderat, penuh cinta dan kasih sayang kepada seluruh makhluk, serta senantiasa berupaya membangun kebersamaan dan mencari titik temu, dengan motivasi yang bersih, semata-mata mencari ridha Allah SWT. Diharapkan nilai ini memiliki kaitan atau bahkan mampu mendorong para pesertanya untuk membangun umat.

Penjabaran dari nilai Islam yang Komperehensif di atas sesuai dengan konsep yang diuraikan mengenai religiusitas. Religiusitas adalah kualitas keadaan individu dalam memahami, menghayati ajaran agama yang dianutnya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, yang merefleksikan ketaatannya dalam beragama (Theresiawati, dalam Jurnal Insan, 2003, Vol. 5, No. 3). Jadi dalam pengertian ini religiusitas tidak hanya sesuatu yang bersifat ritual semata namun meluas dan diwujudkan dalam berbagai macam sisi kehidupan manusia sehingga religiusitas seseorang akan meliputi berbagai macam sisi atau dimensi (Ancok dan Nashori, Perspektif Islam tentang Konsep Religiusitas, 1994). Religiusitas bukan hanya berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan dapat dilihat oleh mata seperti perilaku ritual, tapi juga berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan terjadi dalam hati seseorang seperti apa yang seseorang yakini atau rasakan berkenaan dengan agamanya.

Mengenai adanya berbagai aspek atau dimensi mengenai religiusitas, Glock and Stark (1965) dalam studinya menemukan tentang adanya 5 dimensi dalam religiusitas. Kelima dimensi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Religious Knowledge (The Intelectual Dimension) yaitu sejauh mana pengetahuan individu mengenai ajaran-ajaran agamanya.

2. Religious Practice (The Ritualistic Dimension) yaitu sejauh mana keterlibatan individu dalam ritual-ritual keagamaan yang dituntut darinya untuk dilakukan dalam menunjukkan kepercayaannya pada agamanya.

3. Religious Feeling (The Experiental Dimension) yaitu sejauh mana pengalaman-pengalaman atau perasaan-perasaan keagamaan yang dirasakan individu dalam relasinya dengan Tuhan

4. Religious Belief (The Ideological Dimension) yaitu sejauh mana individu mempercayai hal-hal mendasar/esensial dalam ajaran agamanya.

5. Religious Effects (The Consequential Dimension) yaitu sejauh mana perilaku individu sehari-hari selaras dengan ajaran-ajaran agamanya.

Setelah beberapa tahun PPSDMS Nurul Fikri berdiri, belum ada penelitian ilmiah yang memberikan sebuah hasil tentang apakah peserta yang lebih religius memunculkan perilaku prososial. Hal ini menjadi penting karena nilai yang telah menjadi pegangan organisasi PPSDMS dalam membina pesertanya meliputi aspek religiusitas dan juga tingkah laku menolong atau dalam istilah psikologi sosial dikenal sebagai tingkah laku prososial. Dalam hal ini perlu menjadi sebuah jawaban apakah nilai “Islam yang Komperehensif” sebagai salah satu primary value memiliki keterkaitan dengan perilaku menolong atau membantu yang diharapkan PPSDMS terbingkai dalam cita-cita berkontribusi bagi orang lain, bangsa, dan umat.