You are currently browsing the monthly archive for November 2008.

Tesis dari Samuel P. Huntington, seorang penulis Yahudi, menimbulkan munculnya diskusi yang hangat serta beberapa kontroversi yang mencuat di dunia internasional. Landasan berpikir dari prediksi ini berangkat dari adanya konflik yang terjadi antara Islam sebagai wakil peradaban Timur dan Kristen sebagai wakil peradaban Barat. Dalam pandangan Huntington, perbenturan antara Islam dan Kristen disebabkan oleh adanya perbedaan konsep pandangan hidup dan juga konsep ketuhanan, meskipun keduanya sama-sama monoteistik. Perbedaan fundamental seperti ini juga diwarnai semangat dari kedua peradaban untuk menjadi umat terbaik yang menjadi pemimpin peradaban dunia

Salah satu momentum besar yang sangat penting dalam konteks isu perbenturan peradaban (clash civilization) terjadi pada tanggal 11 September 1999. Terlepas dari siapa yang merekayasa, hal ini telah dimanfaatkan Amerika untuk menekan negara-negara muslim. Amerika melakukan serangkaian tindakan yang mengatasnamakan “perang melawan teroris” (baca:perang terhadap Islam). Menurut Amerika, hal ini dilakukan dalam rangka memperjuangkan pilar-pilar demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia. Padahal perjuangan mereka justru dinilai sebaliknya oleh para ahli demokrasi, hokum, maupun hak asasi manusia. Bahkan tak jarang pemerintahan Bush dikecam dan didemo oleh para warga negaranya sendiri yang justru menyebut pemerintahan Bush tersebut sebagai teroris

Kejadian 11 September 1999 meninggalkan dampak yang sangat krusial bagi umat Islam. Kejadian kritis ini meletakkan umat Islam sebagai pusat dari opini public internasional. Dampak yang terjadi sangat meluas, mulai dari yang mendukung maupun yang melemahkan keniscayaan bangkitnya peradaban Islam. Dampak yang melemahkan atau negative berkaitan dengan opini “teroris” yang menjadi stereotip yang kental ditempelkan pada wajah setiap umat muslim. Sedangkan dampak pendukung dan positifnya adalah semakin banyak dan meluasnya minat dunia internasional, khususnya Barat untuk mengenal Islam lebih jauh. Read the rest of this entry »

Sebagai komunitas yang mempunyai peran strategis dalam kehidupan bangsa, mahasiswa harus mampu merumuskan visi (impian) besar untuk membangun masyarakat dan bangsanya. Sejarah telah mencatat bahwa perubahan suatu bangsa banyak dipelopori oleh para mahasiswa dan kaum pemuda. Namun jika kita melihat kondisi kebanyakan mahasiswa pada saat ini, kita layak bertanya masih banyakkah mahasiswa yang visioner itu?

Dalam kajian psikologi perkembangan, mahasiswa sedang berada pada fase transisi antara remaja akhir menuju dewasa akhir. Menurut Erikson (1963, 1968), perkembangan psikososial pada mahasiswa seperti ini berada pada tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana remaja tengah mengalami pencarian identitas diri

Mahasiswa memiliki potensi dalam hal kemampuan kognisi tingkat tinggi seperti proses pengambilan keputusan, analisis dan merumuskan perencanaan strategis. Sebab, mahasiswa dalam perkembangannya merupakan periode dimana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen, Conger, & Kegan, 1965). Pada masa remaja (mahasiswa), terjadi reorganisasi lingkaran saraf frontal lobe yang merupakan aktifitas kognitif tingkat tinggi seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis dan kemampuan mengambil keputusan (Carol & David R). Tidak hanya dari sisi kognisi, Read the rest of this entry »

“Letih takkan pernah sanggup meruntuhkan gelora jiwa muda yang memiliki asa mengangkasa. Peluh takkan pernah menjadi sandungan saat cita muda terus melengking membelah langit. Ragu takkan pernah hadir saat tekad muda berkoar lantang menamparnya.”

Romantisme Perjuangan Mahasiswa Indonesia
Perjalanan panjang terus terukir indah mengawal catatan indah para pejuang kesempurnaan dan keadilan. Mahasiswa merupakan sebuah simbol anti-kemapanan yang terus menjadi onak dan duri bagi penguasa tiran dan setan ketidakadilan. Dengan ciri khas perjuangan yang sedikit naif, mahasiswa rela menjadikan tubuh mudanya sebagai garda depan pengusung perubahan yang selalu saja meminta tumbal.

“Gelora pemuda adalah romantisme perjuangan. Dalam kancah kehidupannya, figur seorang pemuda ingin menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang memiliki sejuta arti dengan memikul tanggung jawab cukup berat. Ia berusaha memunculkan diri sebagai seorang manusia yang memiliki kekuatan yang tinggi sehingga aura jiwa mudanya benar-benar memancar.” (Hasan Albana).
Sejarah takkan pernah diam untuk terus mengelu-elukan dinamika kejayaan-keterpurukan sebuah bangsa dan sejarah juga takkan pernah lupa untuk menempatkan peran pemuda atau mahasiswa sebagai pemimpin perubahan menyambut kejayaan. Karakteristik sejarah seperti inilah yang patut kita jadikan referensi untuk mencari solusi bagi permasalahan suatu bangsa, seperti dalam sebuah ungkapan yang cukup terkenal, “Sejarah akan Read the rest of this entry »

Indonesia pada hakikatnya belum menjadi sebuah bangsa yang utuh. Hingga saat ini sebenarnya pergulatan ideologi masih belum selesai. Ideologi Pancasila yang telah menjadi konsep ideologi yang menaungi wilayah kesatuan Indonesia masih memiliki banyak penafsiran. Kegamangan ideologi dan pemaknaan Pancasila di perbesar lagi dengan adanya politisasi Pancasila yang dilakukan orde baru. Selama 32 tahun hegemoni yang dibangun berhasil mengalihkan Pancasila dari ideologi atau jiwa menjadi alat pemerintah untuk membuat model manusia Indonesia menjadi homogen secara represif. Penyebutan bangsa Indonesia belum pada tataran kepribadian, masih dalam bentuk opini dan usaha politis dalam rangka mempersatukan rakyat yang hidup di wilayah Indonesia. Bisa dikatakan saat ini Indonesia baru bisa dikatakan sebagai “Sesuatu Indonesia”.

Pada dasarnya usaha para pendiri bangsa saat memusyawarahkan Pancasila sebagai ideologi telah berhasil melihat dengan jeli keberagaman Indonesia. Dengan pergulatan politik dan ideologi yang terjadi pada saat musyawarah, mereka sebenarnya telah mengambil titik temu. Pengambilan titik temu tersebut berkaitan dengan kondisi Indonesia pada saat itu dihayati para pendiri bangsa diperlukan untuk mempersatukan Indonesia. Sehingga siapapun pemimpin yang lahir pada saat perumusan itu akan belajar banyak untuk berinteraksi dengan banyak sudut pandang serta membangun titik temu.
Indonesia yang disebut sebagai negara kepulauan ini merupakan suatu identitas yang penuh warna. Banyaknya ragam agama, ras, budaya, suku bangsa, dan bahasa daerah membuat Indonesia menjadi sebuah miniatur dari keberagaman dunia. Indonesia menaungi banyak aspek perbedaan yang menjadi representasi dari keberagaman yang ada di dunia. Maka dalam konteks politik dan kepemimpinan, kondisi seperti ini dapat menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya kepemimpinan yang mampu mensejahterakan dunia.

Potensi keberagaman Indonesia yang sangat besar secara alamiah mendidik rakyat dan siapapun yang menjadi pemimpin rakyat menjadi pemersatu. Meskipun tantangan disintegrasi sangat besar, namun keberagaman ini membuat seorang pemimpin, khususnya yang memliki cakupan wawasan nasional hingga internasional, belajar untuk mengatasi segala kemungkinan perpecahan. Pembelajaran tersebut Read the rest of this entry »

Qum, Faanzir !
Bangkit dan berdirilah, susun barisan dan kekuatan. Barisan dan kesatuan Umat.
Canangkan seruan dan ancaman. Seruan kebenaran dan ancaman kebinasaan jika menolak atau menentang kebenaran. Gemakan sentiasa Kalam Ilahi, kumandangkan selalu suara dan seruan kebenaran.
Sampai peringatan ini ke kuping segala Insan! Gempitakan kepada dunia dan kepada manusia ajaran agama Tauhid, ajaran Cita dan Cinta.

Worabbaka fakabbir!

Besarkan Tuhanmu, di atas segala! Tiada kebenaran yang menyamai KebesaranNya. Tiada kekuasaan yang menyamai KekuasaanNya. Tiada urusan atau kepentingan yang lebih dari urusan dan kepentingan menjalankan perintahNya. Kecil semuanya dihadapan Allahu Akbar. Fana, lenyap dan binasa segala dalam ke BaqaanNya. Tiada ketakutan selain azab&siksaNya yang akan menimpa.
Tiada harapan selain ke RidhaanNya belaka. Tiada kesulitan apabila ruh telah bersambung dengan Maha Kebesaran dan Maha Kekuasaan Tuhan yang Tunggal itu.

Wathiabaka fathahhir!

Bersihkanlah dirimu, lahir dan batinmu! Hanya dengan kesucian ruh jua Amanah dan Risalah ini dapat engkau jalankan.
Risalah dan Amanah ini adalah suci. Dia tidak boleh dipegang oleh tangan yang kotor, jiwa yang berlumur dosa dan noda.
Hanyalah dengan kesucian ruh engkau dapat memikul tugas dan beban berat ini.
Sucikanlah dirimu, lahir dan batin, baru engkau ajar manusia menempuh tugas dan beban berat ini.
Thahirum muthahir suci dan mensucikan, itulah peribadi Mukmin yang sejati.
Tangan yang berlumur darah maksiat tidak mungkin akan berbuat khairat kepada dunia dan manusia. Jiwa yang kotor dan penuh dosa tidak mungkin akan memberikan isi dan erti dunia dan manusia.

Warrujza fahjur !
Jauhilah maksiat, singkiri mungkarat! Dosa itu akan menodai dirimu, akan menghitamkan wajah riwayatmu.
Engkau tidak akan sanggup menghadap, jika mukamu tebal dan hitam dengan dosa dan maksiat, Namamu akan cemar dihadapan Rabbi, kalau laranganNya tidak engkau singkiri dan jauhi.
Bersihkanlah keluargamu, saudara dan tetanggamu, masyarakat bangsamu dan maksiat dan mungkarat dan dosa dan noda.
Bangsa dan Negaramu akan karam-tenggelam dalam lembab kehancuran dan kebinasaan, jikalau maksiat dan mungkarat telah menjadi pakaiannya. Makruf yang harus tegak dan mungkar yang harus roboh, adalah program perjuanganmu. Al-Haq yang mesti dimenangi dan bathil yang harus dibinasakan, adalah acara dan jihadmu.

Wala tumnun tastakthir’
Janganlah engkau memberi karena mengharapkan balasan yang banyak!
Jalankan tugas ini tanpa mengharapkan balasan dan ganjaran dan manusia..
Menjalankan tugas adalah berbakti dan mengabdi, tidak mengharapkan balasan dan pujian, keuntungan benda dan material.
Kekayaan manusia tidak cukup untuk “membalas” jasamu yang tidak ternilai itu. Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini akan kering dan ketiadaan Iman, kepercayaan dan, pegangan?
Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini lenyap ditelan kesepian, tiada suluh dan pelita? Bukankah tanpa engkau, hidup ini akan kerdil; hidup kehampaan dan segala kehampaan, karena tiada Iman dan Agama?
Kalau tidak adalah “penyeru-penyeru” baru datang ke dunia seperti engkau, alam ini seluruhnya akan tenggelam dalam kegelapan, kesepian dan kehampaan.
Jalankan tugas ini karena hanya mengharapkan ke Ridhaan Tuhanmu jua.

Walirabbika fasybir !
Karena Tuhanmu, hendaklah engkau bersabar!
Lakukanlah tugas dan kewajiban ini dengan segala kesabaran dan ketahanan.
Sabar menerima musibah yang menimpa, ujian dan cobaan yang datang silih berganti. Sabar menahan dan mengendalikan diri, menunggu pohon yang engkau tanam itu berbunga dan berbuah.
Tidak putus asa dan hilang harapan atau kecewa melihat hasil yang ada karena tidak seimbang dengan kegiatan dan pengorbanan yang diberikan. Hanya Ummat yang sabar yang akan mendapat kejayaan sejati dan kemenangan hakiki. Hanya Ummat yang sabar yang akan sampai kepada tujuan.

Hadza dzikrun!
Inilah enam peringatan dan enam arahan!
Untuk Mujahid Dakwah. Syahibud Dakwah, si Tukang Seru.
(‘Usrah dan dakwah’ Imam Hasan Al Banna)

– Dari seorang teman –

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
November 2008
S M T W T F S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 101,099 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara