Indonesia pada hakikatnya belum menjadi sebuah bangsa yang utuh. Hingga saat ini sebenarnya pergulatan ideologi masih belum selesai. Ideologi Pancasila yang telah menjadi konsep ideologi yang menaungi wilayah kesatuan Indonesia masih memiliki banyak penafsiran. Kegamangan ideologi dan pemaknaan Pancasila di perbesar lagi dengan adanya politisasi Pancasila yang dilakukan orde baru. Selama 32 tahun hegemoni yang dibangun berhasil mengalihkan Pancasila dari ideologi atau jiwa menjadi alat pemerintah untuk membuat model manusia Indonesia menjadi homogen secara represif. Penyebutan bangsa Indonesia belum pada tataran kepribadian, masih dalam bentuk opini dan usaha politis dalam rangka mempersatukan rakyat yang hidup di wilayah Indonesia. Bisa dikatakan saat ini Indonesia baru bisa dikatakan sebagai “Sesuatu Indonesia”.

Pada dasarnya usaha para pendiri bangsa saat memusyawarahkan Pancasila sebagai ideologi telah berhasil melihat dengan jeli keberagaman Indonesia. Dengan pergulatan politik dan ideologi yang terjadi pada saat musyawarah, mereka sebenarnya telah mengambil titik temu. Pengambilan titik temu tersebut berkaitan dengan kondisi Indonesia pada saat itu dihayati para pendiri bangsa diperlukan untuk mempersatukan Indonesia. Sehingga siapapun pemimpin yang lahir pada saat perumusan itu akan belajar banyak untuk berinteraksi dengan banyak sudut pandang serta membangun titik temu.
Indonesia yang disebut sebagai negara kepulauan ini merupakan suatu identitas yang penuh warna. Banyaknya ragam agama, ras, budaya, suku bangsa, dan bahasa daerah membuat Indonesia menjadi sebuah miniatur dari keberagaman dunia. Indonesia menaungi banyak aspek perbedaan yang menjadi representasi dari keberagaman yang ada di dunia. Maka dalam konteks politik dan kepemimpinan, kondisi seperti ini dapat menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya kepemimpinan yang mampu mensejahterakan dunia.

Potensi keberagaman Indonesia yang sangat besar secara alamiah mendidik rakyat dan siapapun yang menjadi pemimpin rakyat menjadi pemersatu. Meskipun tantangan disintegrasi sangat besar, namun keberagaman ini membuat seorang pemimpin, khususnya yang memliki cakupan wawasan nasional hingga internasional, belajar untuk mengatasi segala kemungkinan perpecahan. Pembelajaran tersebut akan bermuara pada pembentukan karakter yang adil dari seorang pemimpin.
Indonesia tidak bisa dipisahkan dari Islam. Islam telah melekat menjadi suatu hal yang mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan rakyat di Indonesia. Bahkan Pancasila sendiri merupakan suatu ideologi yang berusaha mempertemukan prinsip Islam dengan perjuangan persatuan Indonesia pada saat perumusannya. Terlepas dari perdebatan dalam banyak literatur sejarah tentang kapan masuknya Islam ke Indonesia, pada saat ini Islam telah menjadi agama yang berinteraksi dengan berbagai kebudayaan daerah. Sejarah Wali Songo yang mendakwahkan Islam di tanah Jawa dan sekitarnya semakin memperjelas bahwa Islam dan kepemimpinannya mampu berakulturasi dengan berbagai budaya secara santun. Bahkan saat ini Indonesia masih bertahan sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia.

Dalam literatur dunia mengenai sejarah kepemimpinan Islam, sangat jarang tercatat mengenai tokoh internasional yang berasal dari Indonesia. Sejarah sering mencatat kelahiran para pemimpin Islam dari Timur Tengah dan India. Misalnya saja nama Muhammad Bin Abdul Wahhab di Jazirah Arab. Ada nama Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Hasan Al-Banna. dan Sayyid Quthub di Mesir. Ada Al-Maududi di Pakistan dan ada Al-Kandahlawi di India.

Meskipun literatur sejarah dunia tentang terlahirnya pemimpin Islam yang mendunia dari Indonesia begitu minim, namun potensinya begitu besar. Potensi kepemimpinan yang mendunia itupun sebenarnya sudah terlihat, kita bisa membuka kembali lembaran emas perjuangan pemimpin Islam pada masa perjuangan kemerdekaan. Muhammad Natsir adalah pemimpin sekaligus pahlawan nasional yang mampu mempersatukan bangsa Indonesia di tengah ancaman integrasi bangsa. Sudah merupakan keharusan jika pada tahun ini M. Natsir mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari Presiden RI. Kebesaran Natsir seperti dikatakan Kahin, seorang ahli sejarah, adalah seorang negarawan yang dicintai rakyatnya. “Dia termasuk diantara sedikit tokoh Indonesia dengan reputasi internasional. Pernah jadi Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress), Ketua Dewan Masjid se-Dunia, anggota Dewan Eksekutif Rabithan Alam Islamy yang berpusat di Mekkah. Akhir tahun 1979 Raja Fadh dari Saudi Arabia memberi anugerah Faisal Award melalui King Faisal Foundation di Ryadh, bersama Mufti Palestina.”

Perjuangan M. Natsir dalam memberikan kontribusinya bagi persatuan bangsa menjadi sebuah teladan dan penguat bagi lahirnya pemimpin Islam yang baru dari Indonesia. Dengan realitas keberagaman yang mendidik pemimpin menjadi adil serta kondisi perpolitikan Indonesia yang bebas untuk menjadi tempat berinteraksi berbagai ideologi, prediksi mengenai kepemimpinan Islam yang berasal dari Indonesia menjadi semakin meyakinkan. Bahkan ulama besar tingkat dunia, DR. Yusuf Qordowi, dari jauh-jauh hari telah memberikan hipotesisnya bahwa kebangkitan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam akan lahir dari Indonesia.

Pembahasan tentang pemimpin Islam yang lahir lebih baik diberi judul kepemimpinan Islam. Hal ini dikarenakan Islam dan Indonesia memiliki sebuah kaidah moderat dalam mengkombinasikan adanya fenomena kultur individual dan kultur kolektif. Sehingga yang dibangun tidak hanya pemimpin secara individual, tetapi mampu melingkupi kepemimpinan kolektif yang merupakan creative minority bagi revolusi putih perubahan Indonesia bahkan dunia. Terlepas dari bentuk kepemimpinan Islam seperti apa yang dibangun pada masa depan, kepemimpinan Islam yang dibangun di Indonesia memiliki tanggung jawab membumikan Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Sehingga sejarah kepemimpinan Islam pada jaman Rasulullah SAW dan sahabatnya yang mampu membuat penduduk non-muslim nyaman dinaungi kepemimpinan Islam akan berulang dalam konteks kekinian, dimulai dari Indonesia.

Dalam merubah istilah dari pahlawan menjadi pemimpin, gubahan tulisan “Mencari Pahlawan Indonesia” karya Anis Matta akan begitu menarik. “Sebuah kehidupan yang terhormat dan berwibawa yang dilandasi keadilan dan dipenuhi kemakmuran masih mungkin dibangun di negeri ini. Untaian Zamrud Katulistiwa ini masih mungkin dirajut menjadi kalung sejarah yang indah. Tidak peduli seberapa berat krisis yang menimpa kita saat ini. Tidak peduli seberapa banyak kekuatan asing yang menginginkan kehancuran bangsa ini. Masih mungkin. Dengan satu kata: para pahlawan. Tapi jangan menanti kedatangannya atau menggodanya untuk hadir ke sini. Sekali lagi, jangan pernah menunggu kedatangannya, seperti orang-orang lugu yang tertindas itu; mereka menunggu datangnya Ratu Adil yang tidak pemah datang.”

“Mereka tidak akan penah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah.”

Sumber :
Anis Matta. 2004. Mencari Pahlawan Indonesia. Bandung: Tarbawi Press.
Malna, Afrizal. 2000. Sesuatu Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Mathias Pandoe. 2008. Mohammad Natsir Pahlawan Nasional, http://www.padangekspres.co.id/content/view/22312/1/ (diunduh 18 November 2008, pukul 08.00)