Sebagai komunitas yang mempunyai peran strategis dalam kehidupan bangsa, mahasiswa harus mampu merumuskan visi (impian) besar untuk membangun masyarakat dan bangsanya. Sejarah telah mencatat bahwa perubahan suatu bangsa banyak dipelopori oleh para mahasiswa dan kaum pemuda. Namun jika kita melihat kondisi kebanyakan mahasiswa pada saat ini, kita layak bertanya masih banyakkah mahasiswa yang visioner itu?

Dalam kajian psikologi perkembangan, mahasiswa sedang berada pada fase transisi antara remaja akhir menuju dewasa akhir. Menurut Erikson (1963, 1968), perkembangan psikososial pada mahasiswa seperti ini berada pada tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana remaja tengah mengalami pencarian identitas diri

Mahasiswa memiliki potensi dalam hal kemampuan kognisi tingkat tinggi seperti proses pengambilan keputusan, analisis dan merumuskan perencanaan strategis. Sebab, mahasiswa dalam perkembangannya merupakan periode dimana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen, Conger, & Kegan, 1965). Pada masa remaja (mahasiswa), terjadi reorganisasi lingkaran saraf frontal lobe yang merupakan aktifitas kognitif tingkat tinggi seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis dan kemampuan mengambil keputusan (Carol & David R). Tidak hanya dari sisi kognisi, dalam pertumbuhan fisik pun mahasiswa memiliki keunggulan.

Segala potensi itulah yang bisa dimanfaatkan oleh remaja atau mahasiswa untuk menggapai sebuah mimpi. Tapi berapa banyak pemuda yang memiliki mimpi ? Berapa banyak mahasiswa yang memiliki visi yang jelas ? Penyadaran akan pentingnya sebuah impian perlu disadarkan pada mahasiswa. Konsep kehidupan ”mengalir” saja mengumpulkan segala potensi yang dimiliki oleh mahasiswa. Banyak dari kita menyerahkan hidup pada keadaan. Terserah bagaimana nanti saja. Hasilnya, segala potensi yang dimiliki oleh mahasiswa menjadi tidak berarti. Beda dengan mahasiswa yang memiliki keunggulan dalam hal potensi dan mimpi. Mahasiswa yang memiliki mimpi bisa kita lihat dari bagaimana dia mengatur hidupnya, bagaimana dia merencanakan atau mengagendakan kegiatan sehari-harinya. Sekarang, marilah kita sebagai mahasiswa memulai mimpi itu. Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, pernah menggantungkan harapannya untuk mengguncangkan dunia. Ini menandakan bahwa pemuda bisa melakukan itu.

Mahasiswa yang memiliki potensi dan mimpi, perlu diperjelas dengan merencanakan atau mengkongkretkan langkah-langkah. Dengan berbekal potensi dan kekuatan impian, pemuda butuh perencanaan untuk mencapai sebuah tujuan. Salah satu metode yang dapat mendukung usaha-usaha tersebut adalah pendekatan Appreciative Inquiry.
Konsep pembinaan dengan menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry dapat disederhanakan menjadi konsep 4D cycle (Discovery, Dream, Design, and Destiny) seperti skema berikut :

(gak bisa terupload euy)

Dalam pelaksanaannya, diharapkan mahasiswa dapat menemukan identitas diri. Fungsi penemuan identitas ini sangat penting bagi tugas perkembangan mahasiswa menuju kehidupan dewasa. Jika saja potensi positif pada mahasiswa berhasil ia kenali dan pahami, maka mudah bagi seorang mahasiswa untuk merumuskan impian (visi) besarnya dan kemudian dilanjutkan dengar langkah-langkah nyata untuk meraihnya.

Mahasiswa-mahasiwa yang visioner senantiasa dibutuhkan Indonesia pada hari ini dan di masa depan. Sehingga pendekatan di atas dapat diterapkan oleh para `pendidik` (bukan `pengajar`) di negeri ini untuk menghasilkan mahasiswa-mahasiswa visioner yang siap membangun Indonesia ini menuju kejayaannya.