You are currently browsing the monthly archive for December 2008.

Tantangan di paska kampus adalah bagaimana kita secara aktif bergerak secara vertikal maupun horizontal. Dalam menjalani karier, setiap orang memiliki start position yang berbeda-beda.
Saat ini masyarakat telah mengalami proses perubahan yang loncatannya sangat tinggi. Kita bisa melihat sebuah fenomena di Amerika Serikat, yang pada 50 tahun yang lalu orang kulit hitam sangat didiskriminasi, namun saat ini seorang kulit hitam jadi presiden. Dalam konteks arus informasikita juga bias melihat bahwa seorang mahasiswa junior bias dengan jauh meninggalkan seniornya untuk menguasai sebuah bidang ilmu, bahkan bias jadi seorang mengalahkan dosennya. Oleh karena itu, sebagai pemimpin kita harus bisa mempersiapkan diri untuk dapat menghadapi loncatan besar perubahan dalam masyarakat.
Ada 3 tipe orang dalam menghadapi proses yang berubah dengan cepat ini:
1. Fast tracker. Orang yang lari cepat dalam jalur cepat. Otomatis orang-orang yang seperti ini adalah orang yang mempersiapkan diri dengan baik. Dia memiliki tujuan yang fokus dan perencanaan yang matang. Dia merasa bahwa setiap saat ditantang oleh keadaan. Dalam beberapa keadaan dia akan merasa sendiri karena menjadi orang yang terdepan dan paling cepat.
2. Specialist. Orang yang tekun dalam sebuah organisasi yang menjadi ahli dalam sebuah bidang. Dia menjadi orang yang sangat focus dan berupaya menambah ilmu khusus di bidang yang ia tekuni tersebut. Ia hanya nyaman di area dan bidangnya dan tidak bias keluar dari area atau bidang keahliannya.
3. Executor/generalist. Seseorang yang tidak berfokus dan tidak menonjol tapi memliki komitmen yang kuat dan kemampuan bekerja yang baik. Dia merupakan seorang “Pahlawan tak dkenal.”

Posisi orang tergantung pada gerak langkahnya, jika lambat maka hanya akan dapat sekedarnya. Jika menginginkan hal yang puncak, maka harus “berlari cepat” dan “membuka mata”. Seseorang yang fast tracker akan disorot banyak pihak dan begitu banyak resiko dan effort-nya. Jika memilih jalan yang tidak memiliki resiko besar maka kita bisa memilih untuk berjalan di jalur specialist.

Refleksi terhadap karier Kemal Stamboel.

Setelah lulus SMA masuk PT di jurusan Psikologi Unpad. Setelah menempuh pendidikan 6 tahun dan lulus, saya kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Disana saya belajar untuk menjalani sebuah proses perusahaan yang luar biasa membekali banyak hal. Kemudian saya menjadi konsultan SDM. Setelah itu saya memilih jalur pendidikan S2 Finance di Amerika Serikat (MBA) dan menjadi Direktur di Price Waterhouse. Kemudian saya berpindah lagi kepada jalur IT. Saya juga aktif di BRR Aceh sebagai badan pengawasan keuangan. Ketika presiden membentuk Dewan Teknologi dan Komunikasi Nasional, saya ditunjuk menjadi Wakil. Kemudian saat ini saya menjadi calon anggota legislatif.
“Kita tidak harus stuck di satu bidang, kita bisa move around. Hal yang trepenting untuk membekalinya adalah pengalaman manajerial dan kemampuan leadership.Bersiaplah menghadapi tahun 2014, karena pada tahun itu terdapat peluang yang besarbagi para pemuda untuk meloncat jauh.”
“Hal yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah excitement, jangan sampai kita terseret dalam comfort zone dimana kita bekerja dengan “kenyamanan semu” sehingga tidak berbahagia dan bergelora. Jika bertahan, maka sama saja kita membangun depresi pada diri sendiri.”

Hasil cerna ketika berdiskusi dengan Kemal Stamboel, Dewan Penasehat PPSDMS

Advertisements

Pertemuan alumni merupakan sesuatu yang lebih strategis dibandingkan dengan pembinaan peserta asrama. Masa-masa dalam pembinaan asrama merupakan fondasi, sedangkan pada saat alumni sudah menjadi sesuatu yang bisa terlihat oleh masyarakat luas melaluikarya dan kontribusi yang diberikan seorang alumni.
Dalam menjalani dunia paska kampus, diantara kita ada yang digariskan Allah menjadi pegawai, ada yang menjadi entrepreneur, ada yang menjadi politikus. Semuanya akan baik jika kita bekerja sesuai denga petunjuk Allah swt. Kemuliaan tidak disebabkan oleh bidang atau posisi yang kita geluti namun oleh sejauh apa kontribusi optimal yang dilakukan dalam bidang atau posisi tersebut.

Bekerja sebagai pegawai memiliki jenjang karier sebagai berikut:
1. Staf dan manajemen tingkat I (staf, asissten manajer, manajer/kasubbag)  biasa ditempuh dalam 5-10 tahun, jika sudah 10 tahun belum mendapatkan posisi menjadi manajer, maka ada masalah pada kompetensi kerja kita.
2. Manajer menengah (General management, senior management, direksi)
3. Manajemen puncak (Direktur, Dirut, komisaris, KPK, Dubes, Staf ahli menteri, staf ahli kepresidenan, Menteri, Wapres, Presiden)

Yang menjadi rumusan ketika menjalani karier adalah:
1. Pada awal karier yang sangat dibutuhkan adalah kompetensi, bekerja keras dan cerdas, ringan tangan dalam membantu orang, junjung tinggi kejujuran, rajin berdoa dan bertawakal. Yang dipikirkan adalah prestasi, kehadiran, kerja keras.
2. Karakteristik dari manajer tingkat kedua adalah sudah membutuhkan “trik berelasi”. Seseorang yang sukses dalam fase ini adalah yang tidak akan mengancam kedudukan atasan. Namun yang perlu diperhatikan adalah “PERTAHANKAN IDEALISME”. Dalam fase ini tantangan untuk melakukan pelanggaran terhadap idealisme kita sudah cukup besar. Camkan bahwa sekali kita membuat dosa maka akan membuka peluang-peluang dosa yang lebih besar.
3. Semakin tinggi karier, maka yang dibutuhkan adalah relationship/ koneksi/ silaturahmi/ ukhuwah. Seseorang yang dipilih menjadi top level management, merupakan seseorang yang mendapatkan rekomendasi dari orang-orang penting dalam skala nasional. Membutuhkan kemampuan relasi dan berjejaring yang luas dan lebih mengarah mobilitas vertikal kapada para pemegang kebijakan teritnggi. tapi sekali lagi ditekankan “JANGAN KARENA ALASAN MENCAPAI SUATU HASIL KITA MELANGGAR HUKUM ALLAH”. Kita harus berjuang untuk menjalani perjuangan sesuai jalan yang Alah ridhoi.
Dalam mencapai sesuatu, hal yang menjadi dasarnya adalah niat, usaha, dan doa. Namun jangan pernah terpaku pada hasil. Jikalau kita gagal mencapai suatu hasil tertentu hal itu adalah ujian kesabaran dan keimanan kita kepada Allah swt.

Bagaimana agar kita tetap istiqomah di dunia paska kampus?

Beberapa fenomena menceritakan bahwa seorang mahasiswa yang idealismenya tinggi dan berkoar-koar menentang ketidakadilan, namun saat diberikan jabatan menjadi seorang yang tiran sebagaimana yang ia protes dulu. Hal ini harus menjadi pembelajaran sejarah bagi kita untuk tidak terjerumus ke dalam jalan yang salah itu. Untuk itu ada beberapa kunci yang perlu kita renungi:
1. Yakini bahwa tujuan kita di dunia adalah masuk syurga.
2. Yakini bahwa kita akan dihisab oleh Allah swt.
3. Yakini bahwa Allah senantiasa melihat dan merekam apa yang kita perbuat.

Hasil cerna dari diskusi bersama, Bambang Priantono, Dewan Penyantun PPSDMS

Pernah berpikir jauh gak tentang kesehatan Rasulullah SAW? Dalam shirohnya Rasulullah SAW hanya sakit 2 kali!! Padahal begitu sibuknya beliau dan tidak pernah jauh dari kondisi stress. Dalam analisisku, hal terbesar yang paling berpengaruh terhadap kesehatan beliau yang luar biasa tersebut adalah keimanan beliau yang tanpa hijab terhadap Allah SWT. Nah, dengan kondisi keimanan yang naik-turun, sudah selayaknya kita juga berikhtiar secara fisik untuk menjaga kesehatan.

Salah satu yang sekarang sering kulakukan adalah mengkonsumsi Habbatussauda. Habbatussauda atau Nigella Sativa telah di pakai sejak jaman Mesir Kuno dan ketika jaman Nabi Muhammad SAW pemakaian Nigella Sativa atau Habbatussauda ini sangat di anjurkan oleh beliau. Hal ini terbukti dengan banyaknya hadits Shahih yang menjelaskannya. Salah satu hadist yang menurutku mampu menjadi kekuatan marketing yang mantap bagi para pengusaha Habbatussauda adalah:

“Sesungguhnya di dalam Habbatussauda terdapat penyembuh bagi segala macam penyakit kecuali kematian.” (HR. Bukhori 5688/ Fathul Baari X/ 143 dan Muslim 2215).

Dulu pertama kali aku mendengar hadist ini, aku langsung tertarik membelinya. Namun, pada saat itu harganya masih mahal, sekitar Rp 85.000,-/100 kapsul. Karena belakangan ini persaingan produk Habbatussauda sudah semakin kompetitif, maka harganya turun. Terakhir kemarin aku membeli seharga Rp 22.500,-/120 kapsul. Kasiat yang kurasakan saat ini memang sesuai dengan apa yang jadi keterangan khasiat di botolnya. Rasanya memang kesehatan lebih terjaga, tidak mudah sakit. Padahal aku harus sering-sering bolak-balik Bandung-Jatinangor, keseringan pakai motor lagi. Dan kalau pulang ke Bandung seringkali harus berhujan-hujanan ria. Yah setidaknya ini bisa mengimbangi pola makanku yang masih buruk, dengan menu yang cuma sekadarnya dan tidak memenuhi 4 sehat 5 sempurna.

Bagi teman-teman yang ingin berikhtiar menjaga amanah kesehatan dari Allah, patut mencoba Habbatussauda…Cah…promosi…(aye bukan sales Habbatussauda yak…tapi kalau mau beli banyak hubungi aye aja…hehehehe…).

Belakangan ini kepalaku dipenuhi oleh berbagai tuntutan yang berusaha kupersepsi sebagai tantangan. Memang ada kalanya aku terjebak pada persepsi yang negatif tentang tuntutan, dan kemudian kembali bangun lagi dengan persepsi positif tentang tantangan, begitu yang terjadi secara terus menerus berdinamika. Ingin rasanya aku memiliki kekuatan untuk selalu mampu tersenyum dengan segala lelahku, seperti yang pernah kualami, ketika aku mampu merasakan senantiasa bersama yang kucinta…Allah. Ingin rasanya aku membuka hati ini kemudian mendorong dinding-dindingnya agar semakin luas.

Ternyata setiap fase kehidupan memiliki persimpangan jalan. Sebelumnya, setelah aku merasa mampu menyelesaikan beberapa perdebatan dalam diriku…aku sudah tinggal menikmati amalnya saja. Namun, kondisi berada di sebuah percabangan, dan harus memilih, terus terjadi. Jika dalam tataran amal yang kupersembahkan adalah menuntut kegembiraan dalam melewati cobaan-cobaannya, sedangkan jika berada di persimpang jalan itu sungguh melelahkan. Karena sesungguhnya aku tidak mau memilih, dan tamak untuk mengambil semuanya. Dan aku “harus” belajar tentang apa itu fokus, dan menanggalkan beberapa bagian mimpiku. Ahh…dasar seorang pemimpi…

Lagi-lagi aku kembali pada sebuah filosofi sekaligus realita hidup, bahwa hidup ini harus memilih…setidaknya dalam waktu sekarang ini…Ya Rabb…tunjukkan aku jalan yang lurus…

Suatu saat Hasan Al-Banna berkata: “Umat ini membutuhkan orang-orang yang luapan hatinya mampu menggenangi hati hati orang-orang di sekitarnya. Dan luapan robbani itu mereka mampu menggenangi hati orang-orang di sekitarnya kemudian. Maka dengan itu manusia dapat berubah dari suatu keadaan menuju keadaan yang lain. Dan manusia dapat berpindah dari kegelapan menuju cahaya.”
Kata-kata di atas kupersepsi menjadi pertanyaan. Bukan hanya satu, bahkan beberapa pertanyaan mampir ke dalam perenunganku, yang intinya…”Sudahkah luapan hatiku mampu menjadi sebuah luapan yang besar? Dan sudahkah luapan hatiku mampu menggenangi hati orang-orang di sekitarku?” Dan kemudian pertanyaan pertama tersebut setidaknya dapat dijawab ketika aku mencoba menjawab….

Apakah dadaku begitu lapang ketika mendapat masalah?
Apakah perasaanku senantiasa kembali kepada kampung akhirat?
Apakah perasaanku merasa terpisahkan dari dunia yang penuh tipu daya?
Apakah aku sedang bersiap menemui kematian sebelum datang waktunya?
Apakah hatiku bergetar ketika disebut-sebut nama Allah?

Kemudian pertanyaan kedua masih menjadi perenunganku….sekaligus coba kuingat-ingat hari-hari yang kulalui bersama sahabat-sahabat di sekitarku…

Ya Rabb…jadikanlah aku orang yang mampu mencintai-Mu, Rasulullah, dan mencintai sebanyak-banyaknya manusia…..

Ada yang membuatku kembali meresapi hari dengan dalam hari ini dan menikmati kesengajaanku untuk sendiri di malam hari. Sebuah sms dari adik mentoringku (baca:mutarobbi) yang membalas sms tausiyahku tentang keistiqomahan. Akhi tercinta ini mengutip untaian mutiara keimanan dari seorang Ahlul Haq, Ustadz Rahmat Abdullah Allahuyarham….

“Teruslah bergerak, hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga KELESUAN itu LESU menemanimu.”

Dalam perenunganku terhadap rangkaian makna yang terselubung di dalamnya, ini adalah sebuah paduan antara keimanan dan amal, antara pemikiran dan perasaan, antara pergantian kesuksesan dan kegagalan seorang Al-Akh yang mencoba menembus batas-batas kemanusiaannya (baca: pemakluman bahwa kita manusia). Seseorang yang mampu menghadirkan suasana perjuangan Islam pada jaman Rasulullah SAW menjadi sesuatu yang bisa hidup dalam kekinian dan kedisinian. Ketika banyak orang terlunta mengeja harapan, ketika sebagian besar orang lupa dengan kata keniscayaan.

Ya akhi, adikku tercinta, semoga hasil perenungan ini menjadi pahala yang mengalir pada darahmu. Semoga aku mampu mengejawantahkan dalam semarak amal-amal perjuanganku hingga kebaikannya pun menjadi kebaikanmu.

Seringkali secara tak sadar kita menemukan orang besar di sekitar kita, yang mampu menjadi inspirasi bagi kita untuk mencapai mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi yang pada suatu titik kehidupan kita pernah mampu melampaui ruang batas, tidak hanya menggantungkan di langit. Mimpi-mimpi yang mampu memacu adrenalin kita untuk ters berkarya tanpa henti dan mengharamkan keterdiaman! Iya benar…mimpi yang menggambarkan suatu fase ketika kita telah menuai cinta-Nya di surga kelak. Ternyata orang itu kini telah banyak hadir di sekitar kita…di kampus kita…di kosan kita…di jalan-jalan yang kita lalui…di rumah makan yang sering kita singgahi…dan seperti fenomena yang coba aku kulik hikmahnya adalah di sms-sms yang kita terima…

Tugas kita sangat sederhana, yaitu menangkap suatu sudut inspiratif dari setiap gerak verbal ataupun non-verbal orang-orang itu, dimana setiap detik mampu menjadi hikmah. Yang menjadi tidak sederhana adalah ketika kita yang terbiasa memberi (baca: jadi pembicara, jadi ketua/pimpinan organisasi, trainer, guru, dosen, pementor, murobbi) harus dengan total meninggalkan atribut-atribut tersebut, untuk lebih jujur mengagumi orang-orang di sekitar kita.

Subhanallah…ternyata sarana tarbiyah begitu luasnya…aku tambah satu lagi…selain halaqoh, mukhoyam, ta’lim, dan kawan-kawan…adalah “Iseng dengan penuh kesengajaan memperhatikan orang lain.” Memperhatikan orang lain ini termasuk mendalami maksud dari sms yang dikirimnya, tidak lewat begitu saja dalam pilihan “delete” kita. Dan tidak hanya menjadi penghias inbox kita belaka…

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
December 2008
S M T W T F S
« Nov   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 101,385 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara