Belakangan ini kepalaku dipenuhi oleh berbagai tuntutan yang berusaha kupersepsi sebagai tantangan. Memang ada kalanya aku terjebak pada persepsi yang negatif tentang tuntutan, dan kemudian kembali bangun lagi dengan persepsi positif tentang tantangan, begitu yang terjadi secara terus menerus berdinamika. Ingin rasanya aku memiliki kekuatan untuk selalu mampu tersenyum dengan segala lelahku, seperti yang pernah kualami, ketika aku mampu merasakan senantiasa bersama yang kucinta…Allah. Ingin rasanya aku membuka hati ini kemudian mendorong dinding-dindingnya agar semakin luas.

Ternyata setiap fase kehidupan memiliki persimpangan jalan. Sebelumnya, setelah aku merasa mampu menyelesaikan beberapa perdebatan dalam diriku…aku sudah tinggal menikmati amalnya saja. Namun, kondisi berada di sebuah percabangan, dan harus memilih, terus terjadi. Jika dalam tataran amal yang kupersembahkan adalah menuntut kegembiraan dalam melewati cobaan-cobaannya, sedangkan jika berada di persimpang jalan itu sungguh melelahkan. Karena sesungguhnya aku tidak mau memilih, dan tamak untuk mengambil semuanya. Dan aku “harus” belajar tentang apa itu fokus, dan menanggalkan beberapa bagian mimpiku. Ahh…dasar seorang pemimpi…

Lagi-lagi aku kembali pada sebuah filosofi sekaligus realita hidup, bahwa hidup ini harus memilih…setidaknya dalam waktu sekarang ini…Ya Rabb…tunjukkan aku jalan yang lurus…