You are currently browsing the category archive for the ‘goresan puisi’ category.

Mengerak tutupi lantang

Suara hati yang senyap

Ditelan kebuntuan pikir

Saat lumuran hina memoles

Diri ini yang tak tahu diri

Dan selalu lalai untuk terus berdiri

Maha Pengasih…

Malu aku terus mengemis kasih

Sedangkan maksiat sering melingkupiku

Tuk tutupi asa surgaku

Dan membuatku lupa atas cita rabbaniku

Maha Penyayang…

Berjuta kali Kau buktikan sayang

Meski diri ini sering berpaling

Memilih fatamorgana realitas

Yang butakan mata hati ini

Dan kelabui liku pikir ini

Beribu tetes aku tumpahkan air mataku

Beribu nafsu pula yang kupuaskan

Beribu sujud aku sungkurkan ke tanah

Beribu kesempatan pula maksiatku berkuasa

Aku tak tahu…

Apakah terlupa lagi setelah ini

Hanya kepada-Mu lah aku mohon kekuatan

Untuk tetap mendamba hangat-Mu

Dan untuk kesekian kalinya

Kulantangkan dalam jihadnya hati

DEKLARASI TAUBAT!!!

Malam 1 Muharram 1428 H

Jika aku lelah tersungkur

Pastikan setelah menempuh jalan-Mu

Jika aku jatuh dalam titian

Tetapkan dalam tali kuat-Mu

Jika aku terlupa dalam tawa

Hentikan dalam berdzikir pada-Mu

Jika aku nikmat dalam maksiat

Getarkan dengan ancaman-Mu

Jika aku lepas tuturku

Pandulah dalam hikmah dan ilmu-Mu

Jika aku gelisah dalam tidurku

Sejukkan dengan sentuhan wudhu pada malam-Mu

Jika aku kayuh gerakku

Ubahlah menjadi energi menuju-Mu

Jika aku umbar tatapku

Jagalah dalam kesucian niat untuk-Mu

Jika aku terlena dalam pendengaranku

Untaikan melodi indah firman-Mu

Jika aku tempa logikaku

Tuntunlah mengagumi kebesaran-Mu

Jika aku jatuh dalam fitrah cintaku

Semaikan dalam tulusnya mencintai-Mu

Jika aku melerai deras air mataku

Labuhkan ketika taubat bersujud pada-Mu

Jika aku dijemput sobatku Izroil

Izinkan dalam syahid dikelilingi cahaya-Mu

Jika aku abadi dalam nafasku

Sudilah naungi dengan ridho di surga-Mu

Jika cita ini hanya mimpi tentang jika

Wujudkan satu persatu dengan tegarkan ikhtiarku

Jika masih terlampau jika

Maka musnahkanlah jika dengan keteguhan cinta pada-Mu

 

Aku berkaca dalam setiap langkahku

Menelusuri lorong-lorong pertanyaan dalam pikirku

Dan menghabiskan waktu memandangi aspal yang panas

 

Sesungguhnya saat ini aku sedang kumat

Dengan perasaan yang melankolis

Berusaha menuai makna

Tentang tangisku

Dalam Jumat yang menyejukkan hati

Meskipun terik merajai siang

 

Saudaraku…

Serentak tubuhku bergetar

Mendengar keluhan dalam hatiku

Yang ingin bercengkerama dengan kalian semua

Satu per satu…

 

Seringkali…

Aku melihat kegundahan kalian dalam penelusuran ini

Di jalan yang tak berujung bagi mata

Namun berpuncak bagi hati yang merindu syahid

 

Saudaraku…

Seandainya tubuhmu sedang berada di sini

Inginku peluk dengan sangat erat

Sehingga aku bisa menghapus peluhmu

Dan menata guratan wajahmu menjadi senyum

 

Namun…

Aku hanya bisa menjamahmu dalam doaku

Yang tidak terlalu panjang

 

Saudaraku…

Jika kau butuh, aku ingin meminjamkan nafasku

Agar kau tak lagi pengap dalam pedihnya kekecewaan

Atau

Kupinjamkan tanganku

Untuk mendorongmu dikala kau melemah

Bahkan mengangkatmu dari jurang keraguan

Ketika sesekali perjalanan terjal ini

Menjatuhkan hatimu dalam luka dan ragu

 

Demi Allah aku melihatnya

Puncak itu semakin mendekat

Aku ingin…

Kita bisa bersenda gurau pada hari akhir

  

Desember, 2006

Selambai dingin angin bukit

Gerakan jemariku untuk menggores

Sebuah kisah pencarian

Yang telah tertanam menjadi satu warna

Dalam ruang memoriku

………………………………………………………

Mahameru

Disambut topangan debu kering
Coba tegarkan tiap langkah yang beriring
Walau tetap engahan kami sesekali bersautan
Riuh…dan terbumbui peluh

Pencarian seperti ini
Menemui banyak candu rasa
Temukan lebih banyak asa
Yang melebihi nikmatnya Ranu Kumbolo

Kami dijadikan satu…
Dengan pijakan dan tolakan kaki yang saling tersandar
Sandaran itu nyata di pundak sahabat
Mencoba membeberkan jawaban atas pencarian ini…
Bersama….namun dengan warna tiap diri

Tenda ini sebenarnya dingin
Jika saja tawa hangat tak sesumbar
Lukiskan eratnya kala itu
Satu cita dengan sahabat
Sambil menyeruput teh yang telah dingin
Dan bergilir menelan mie yang mulai membeku

Kini…perjalanan membawa kami
Menjadi tiap diri yang punya arti
Melatih tubuh akrab dengan perih
Menjodohkan jiwa dengan sulitnya perjuangan

Tapak kaki tak berpijak tepat
Terseret alur pasir yang halus mengalir
Langkah ini semakin berat…
Ditambah suntikan angin yang membius
Memaksa diri menikmati kontradiksi motivasi
………………………………………………………………….
Pesona merah-ungu telah bercengkrama
Dengan kekaguman polos manusia
3…2…1…hitungan berakhir sudah
Satu cita teraih kini
Dengan berbagai rentetan hikmah yang menyertai
Rebahkan sebuah sujud
Disaksikan mungilnya senyuman mentari subuh
Diiringi tetesan kekaguman….
…………………………………………………………………….
Di puncak segitiga inilah aku terkapar
Pada ke-Maha Besar-an Ilahi

Gubahan dari 7 September 2004
Terima kasih Allah swt dan sahabat-sahabat ”Mahameruku” (Diego, Hendro, dan Aril)

Mama dan Bapak…hari ini aku terpesona
Pada lembayung sore yang terpajang di penghujung langit
Kuning sekali menyegarkan mata
Ketika aku ingin membasuh muka
Menyambut suara yang bersautan memanggil Allah

Lalu…aku terhanyut menatap sekumpulan awan
Perlahan melukiskan wajah Mama dan Bapak
Meskipun guratannya tak sempurna
Tetapi aku mengenal lekuk air mukanya
Yang selalu menatap indah ke arahku
Dengan penuh kerelaan dan kasih sayang

Terima kasih sore
Kau memberikanku seteguk memori
Untuk mengingat sebuah kerinduan
Tentang senyum yang merekah
Dan mimpi yang menembus segala duka
Tentang hidup yang tak punya luka
Dalam sore yang menguning di surga
Bersama Mama dan Bapak
Beserta cintaku pada mereka

Jatinangor, 16 Desember 2006

Waktu seringkali bertopeng

Luang dan sempit datang tak terduga

Menuntun akal untuk bercengkerama

Membentuk sebuah konstruksi makna Tentang hidup, bahkan tentang mati

Aku memilih Read the rest of this entry »

Harus ada jeda untuk menjemput rindu pada alam…Suara alam terus bergemuruh memanggil dalam mimpi-mimpiku…Akankah waktu berpihak menjodohkan aku? Terutama pada anggunnya Rinjani? Ah….aku cukup lelah menunggu, tapi memang…pilihan memberi makna pada banyak orang lebih membahagiakan….meskipun, tetap saja hidung ini menanti untuk membaui bintang…

Rinduku….akankah bertuah?

Hijauku akankah kupeluk mesra?

Ini jelas bukan lara atau sendu…hanya harapan yang membius diri

karena telah terpikat sangat

pada Keindahan karya-Nya…

Sahabat, izinkan aku mengakui bahwa aku mencintaimu

senyummu, perhatianmu, bahkan amarahmu

mengajariku arti tiap jenak waktu

dan kini menjadi warna yang menghiasi gerakku

“Semoga Allah mempertemukan hati kita

dan menuliskan persahabatan kita

dalam buku cerita para ahli firdaus”

Amin

Letih engkau bertengger

Memanggul semua beban

Lima rumus tak terurus

Muakkan perutmu…

Apakah…

Read the rest of this entry »

Pencekik semakin kuat mencekik

saat perut mulai picik cederai nurani yang semakin mengkerut

munculkan jiwa pengecut

Rendam saja kakimu dalam-dalam

atau berenang saja di dalamnya

agar kau semakin puas dengan hitam

yang mewarnai Read the rest of this entry »

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
June 2017
S M T W T F S
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 100,961 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara

Bersama Para Future Leader

Belagak Orasi

BPM '06-'07

Mencoba menghibur...

BEM "Care In Harmony"

Bersama-sama menemui Allah...

F4 dari IWP

Sobat SMA sampe sekarang

berusaha berpijak dengan harapan yang menjemput lahirnya matahari

tenang, kuat, menimbulkan harapan dan senyum bersyukur

More Photos