You are currently browsing the category archive for the ‘pemikiran anak muda’ category.

Dalam perjalanan sejarah, kita menemukan begitu banyak peristiwa-peristiwa perjuangan yang melibatkan mahasiswa sebagai garda terdepan. Mahasiswa bukan hanya berperan sebagai insan akademis tetapi juga insan masyarakat. Jelas sekali bahwa mahasiswa memiliki peran ganda, selain dia sebagai perserta didik, dia juga berperan sebagai insan yang peduli dengan kondisi masyarakatnya.

Dalam lembaran sejarah itu pula kita melihat bahwa mahasiswa akan mampu memainkan peran dan fungsinya secara optimal apabila mereka memiliki limgkungan yang bisa membentuknya, itulah yang disebut dunia kampus. Kampus adalah laboraturium mahasiswa dalam mempersiapkan dirinya menghadapi dunia luar yang lebih ganas.

Untuk itu perlu dibangun sebuah kampus yang seimbang dari segi akademis dan sisi aktualisasi diri mahasiswa. Aktualisasi mahasiswa dapat berkembang apabila ada sebuah wadah yang memayunginya. Wadah tersebutlah yang kita sebut Organisasi Kemahasiswaan. Organisasi Kemahasiswaan adalah sebagai wadah formal yang berperan mengaspirasikan kepentingan seluruh mahasiswa unpad.

Di lingkungan UNPAD sendiri sejak tahun 1996 Organisasi Kemahasiswaan di tingkat universitas mengalami kekosongan. Baru sekitar tahun 2002 kita memiliki wadah kemahasiswaan di tingkat universitas yang kita kenal saat ini dengan nama KEMA UNPAD. Dibawah ini akan diceritakan sejarah panjang pembentukan KEMA (Keluarga Mahasiswa) UNPAD agar kita selaku mahasiswa UNPAD mempunyai rasa memiliki yang besar terhadap organisasi ini.

PEMBENTUKAN KEMA UNPAD

Proses pembentukan KEMA UNPAD sangatlah berat, ini bisa kita lihat dari mulai tahun 1996 mengalami kekosongan, baru pada tahun 2002 kita dapat membentuk kembali. Berarti dibutuhkan waktu lima tahun untuk proses pembentukannya. Ini bukan waktu yang sebentar untuk proses pembentukannya, tetapi Read the rest of this entry »

Tantangan di paska kampus adalah bagaimana kita secara aktif bergerak secara vertikal maupun horizontal. Dalam menjalani karier, setiap orang memiliki start position yang berbeda-beda.
Saat ini masyarakat telah mengalami proses perubahan yang loncatannya sangat tinggi. Kita bisa melihat sebuah fenomena di Amerika Serikat, yang pada 50 tahun yang lalu orang kulit hitam sangat didiskriminasi, namun saat ini seorang kulit hitam jadi presiden. Dalam konteks arus informasikita juga bias melihat bahwa seorang mahasiswa junior bias dengan jauh meninggalkan seniornya untuk menguasai sebuah bidang ilmu, bahkan bias jadi seorang mengalahkan dosennya. Oleh karena itu, sebagai pemimpin kita harus bisa mempersiapkan diri untuk dapat menghadapi loncatan besar perubahan dalam masyarakat.
Ada 3 tipe orang dalam menghadapi proses yang berubah dengan cepat ini:
1. Fast tracker. Orang yang lari cepat dalam jalur cepat. Otomatis orang-orang yang seperti ini adalah orang yang mempersiapkan diri dengan baik. Dia memiliki tujuan yang fokus dan perencanaan yang matang. Dia merasa bahwa setiap saat ditantang oleh keadaan. Dalam beberapa keadaan dia akan merasa sendiri karena menjadi orang yang terdepan dan paling cepat.
2. Specialist. Orang yang tekun dalam sebuah organisasi yang menjadi ahli dalam sebuah bidang. Dia menjadi orang yang sangat focus dan berupaya menambah ilmu khusus di bidang yang ia tekuni tersebut. Ia hanya nyaman di area dan bidangnya dan tidak bias keluar dari area atau bidang keahliannya.
3. Executor/generalist. Seseorang yang tidak berfokus dan tidak menonjol tapi memliki komitmen yang kuat dan kemampuan bekerja yang baik. Dia merupakan seorang “Pahlawan tak dkenal.”

Posisi orang tergantung pada gerak langkahnya, jika lambat maka hanya akan dapat sekedarnya. Jika menginginkan hal yang puncak, maka harus “berlari cepat” dan “membuka mata”. Seseorang yang fast tracker akan disorot banyak pihak dan begitu banyak resiko dan effort-nya. Jika memilih jalan yang tidak memiliki resiko besar maka kita bisa memilih untuk berjalan di jalur specialist.

Refleksi terhadap karier Kemal Stamboel.

Setelah lulus SMA masuk PT di jurusan Psikologi Unpad. Setelah menempuh pendidikan 6 tahun dan lulus, saya kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Disana saya belajar untuk menjalani sebuah proses perusahaan yang luar biasa membekali banyak hal. Kemudian saya menjadi konsultan SDM. Setelah itu saya memilih jalur pendidikan S2 Finance di Amerika Serikat (MBA) dan menjadi Direktur di Price Waterhouse. Kemudian saya berpindah lagi kepada jalur IT. Saya juga aktif di BRR Aceh sebagai badan pengawasan keuangan. Ketika presiden membentuk Dewan Teknologi dan Komunikasi Nasional, saya ditunjuk menjadi Wakil. Kemudian saat ini saya menjadi calon anggota legislatif.
“Kita tidak harus stuck di satu bidang, kita bisa move around. Hal yang trepenting untuk membekalinya adalah pengalaman manajerial dan kemampuan leadership.Bersiaplah menghadapi tahun 2014, karena pada tahun itu terdapat peluang yang besarbagi para pemuda untuk meloncat jauh.”
“Hal yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah excitement, jangan sampai kita terseret dalam comfort zone dimana kita bekerja dengan “kenyamanan semu” sehingga tidak berbahagia dan bergelora. Jika bertahan, maka sama saja kita membangun depresi pada diri sendiri.”

Hasil cerna ketika berdiskusi dengan Kemal Stamboel, Dewan Penasehat PPSDMS

Pertemuan alumni merupakan sesuatu yang lebih strategis dibandingkan dengan pembinaan peserta asrama. Masa-masa dalam pembinaan asrama merupakan fondasi, sedangkan pada saat alumni sudah menjadi sesuatu yang bisa terlihat oleh masyarakat luas melaluikarya dan kontribusi yang diberikan seorang alumni.
Dalam menjalani dunia paska kampus, diantara kita ada yang digariskan Allah menjadi pegawai, ada yang menjadi entrepreneur, ada yang menjadi politikus. Semuanya akan baik jika kita bekerja sesuai denga petunjuk Allah swt. Kemuliaan tidak disebabkan oleh bidang atau posisi yang kita geluti namun oleh sejauh apa kontribusi optimal yang dilakukan dalam bidang atau posisi tersebut.

Bekerja sebagai pegawai memiliki jenjang karier sebagai berikut:
1. Staf dan manajemen tingkat I (staf, asissten manajer, manajer/kasubbag)  biasa ditempuh dalam 5-10 tahun, jika sudah 10 tahun belum mendapatkan posisi menjadi manajer, maka ada masalah pada kompetensi kerja kita.
2. Manajer menengah (General management, senior management, direksi)
3. Manajemen puncak (Direktur, Dirut, komisaris, KPK, Dubes, Staf ahli menteri, staf ahli kepresidenan, Menteri, Wapres, Presiden)

Yang menjadi rumusan ketika menjalani karier adalah:
1. Pada awal karier yang sangat dibutuhkan adalah kompetensi, bekerja keras dan cerdas, ringan tangan dalam membantu orang, junjung tinggi kejujuran, rajin berdoa dan bertawakal. Yang dipikirkan adalah prestasi, kehadiran, kerja keras.
2. Karakteristik dari manajer tingkat kedua adalah sudah membutuhkan “trik berelasi”. Seseorang yang sukses dalam fase ini adalah yang tidak akan mengancam kedudukan atasan. Namun yang perlu diperhatikan adalah “PERTAHANKAN IDEALISME”. Dalam fase ini tantangan untuk melakukan pelanggaran terhadap idealisme kita sudah cukup besar. Camkan bahwa sekali kita membuat dosa maka akan membuka peluang-peluang dosa yang lebih besar.
3. Semakin tinggi karier, maka yang dibutuhkan adalah relationship/ koneksi/ silaturahmi/ ukhuwah. Seseorang yang dipilih menjadi top level management, merupakan seseorang yang mendapatkan rekomendasi dari orang-orang penting dalam skala nasional. Membutuhkan kemampuan relasi dan berjejaring yang luas dan lebih mengarah mobilitas vertikal kapada para pemegang kebijakan teritnggi. tapi sekali lagi ditekankan “JANGAN KARENA ALASAN MENCAPAI SUATU HASIL KITA MELANGGAR HUKUM ALLAH”. Kita harus berjuang untuk menjalani perjuangan sesuai jalan yang Alah ridhoi.
Dalam mencapai sesuatu, hal yang menjadi dasarnya adalah niat, usaha, dan doa. Namun jangan pernah terpaku pada hasil. Jikalau kita gagal mencapai suatu hasil tertentu hal itu adalah ujian kesabaran dan keimanan kita kepada Allah swt.

Bagaimana agar kita tetap istiqomah di dunia paska kampus?

Beberapa fenomena menceritakan bahwa seorang mahasiswa yang idealismenya tinggi dan berkoar-koar menentang ketidakadilan, namun saat diberikan jabatan menjadi seorang yang tiran sebagaimana yang ia protes dulu. Hal ini harus menjadi pembelajaran sejarah bagi kita untuk tidak terjerumus ke dalam jalan yang salah itu. Untuk itu ada beberapa kunci yang perlu kita renungi:
1. Yakini bahwa tujuan kita di dunia adalah masuk syurga.
2. Yakini bahwa kita akan dihisab oleh Allah swt.
3. Yakini bahwa Allah senantiasa melihat dan merekam apa yang kita perbuat.

Hasil cerna dari diskusi bersama, Bambang Priantono, Dewan Penyantun PPSDMS

Tesis dari Samuel P. Huntington, seorang penulis Yahudi, menimbulkan munculnya diskusi yang hangat serta beberapa kontroversi yang mencuat di dunia internasional. Landasan berpikir dari prediksi ini berangkat dari adanya konflik yang terjadi antara Islam sebagai wakil peradaban Timur dan Kristen sebagai wakil peradaban Barat. Dalam pandangan Huntington, perbenturan antara Islam dan Kristen disebabkan oleh adanya perbedaan konsep pandangan hidup dan juga konsep ketuhanan, meskipun keduanya sama-sama monoteistik. Perbedaan fundamental seperti ini juga diwarnai semangat dari kedua peradaban untuk menjadi umat terbaik yang menjadi pemimpin peradaban dunia

Salah satu momentum besar yang sangat penting dalam konteks isu perbenturan peradaban (clash civilization) terjadi pada tanggal 11 September 1999. Terlepas dari siapa yang merekayasa, hal ini telah dimanfaatkan Amerika untuk menekan negara-negara muslim. Amerika melakukan serangkaian tindakan yang mengatasnamakan “perang melawan teroris” (baca:perang terhadap Islam). Menurut Amerika, hal ini dilakukan dalam rangka memperjuangkan pilar-pilar demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia. Padahal perjuangan mereka justru dinilai sebaliknya oleh para ahli demokrasi, hokum, maupun hak asasi manusia. Bahkan tak jarang pemerintahan Bush dikecam dan didemo oleh para warga negaranya sendiri yang justru menyebut pemerintahan Bush tersebut sebagai teroris

Kejadian 11 September 1999 meninggalkan dampak yang sangat krusial bagi umat Islam. Kejadian kritis ini meletakkan umat Islam sebagai pusat dari opini public internasional. Dampak yang terjadi sangat meluas, mulai dari yang mendukung maupun yang melemahkan keniscayaan bangkitnya peradaban Islam. Dampak yang melemahkan atau negative berkaitan dengan opini “teroris” yang menjadi stereotip yang kental ditempelkan pada wajah setiap umat muslim. Sedangkan dampak pendukung dan positifnya adalah semakin banyak dan meluasnya minat dunia internasional, khususnya Barat untuk mengenal Islam lebih jauh. Read the rest of this entry »

Sebagai komunitas yang mempunyai peran strategis dalam kehidupan bangsa, mahasiswa harus mampu merumuskan visi (impian) besar untuk membangun masyarakat dan bangsanya. Sejarah telah mencatat bahwa perubahan suatu bangsa banyak dipelopori oleh para mahasiswa dan kaum pemuda. Namun jika kita melihat kondisi kebanyakan mahasiswa pada saat ini, kita layak bertanya masih banyakkah mahasiswa yang visioner itu?

Dalam kajian psikologi perkembangan, mahasiswa sedang berada pada fase transisi antara remaja akhir menuju dewasa akhir. Menurut Erikson (1963, 1968), perkembangan psikososial pada mahasiswa seperti ini berada pada tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana remaja tengah mengalami pencarian identitas diri

Mahasiswa memiliki potensi dalam hal kemampuan kognisi tingkat tinggi seperti proses pengambilan keputusan, analisis dan merumuskan perencanaan strategis. Sebab, mahasiswa dalam perkembangannya merupakan periode dimana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen, Conger, & Kegan, 1965). Pada masa remaja (mahasiswa), terjadi reorganisasi lingkaran saraf frontal lobe yang merupakan aktifitas kognitif tingkat tinggi seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis dan kemampuan mengambil keputusan (Carol & David R). Tidak hanya dari sisi kognisi, Read the rest of this entry »

“Letih takkan pernah sanggup meruntuhkan gelora jiwa muda yang memiliki asa mengangkasa. Peluh takkan pernah menjadi sandungan saat cita muda terus melengking membelah langit. Ragu takkan pernah hadir saat tekad muda berkoar lantang menamparnya.”

Romantisme Perjuangan Mahasiswa Indonesia
Perjalanan panjang terus terukir indah mengawal catatan indah para pejuang kesempurnaan dan keadilan. Mahasiswa merupakan sebuah simbol anti-kemapanan yang terus menjadi onak dan duri bagi penguasa tiran dan setan ketidakadilan. Dengan ciri khas perjuangan yang sedikit naif, mahasiswa rela menjadikan tubuh mudanya sebagai garda depan pengusung perubahan yang selalu saja meminta tumbal.

“Gelora pemuda adalah romantisme perjuangan. Dalam kancah kehidupannya, figur seorang pemuda ingin menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang memiliki sejuta arti dengan memikul tanggung jawab cukup berat. Ia berusaha memunculkan diri sebagai seorang manusia yang memiliki kekuatan yang tinggi sehingga aura jiwa mudanya benar-benar memancar.” (Hasan Albana).
Sejarah takkan pernah diam untuk terus mengelu-elukan dinamika kejayaan-keterpurukan sebuah bangsa dan sejarah juga takkan pernah lupa untuk menempatkan peran pemuda atau mahasiswa sebagai pemimpin perubahan menyambut kejayaan. Karakteristik sejarah seperti inilah yang patut kita jadikan referensi untuk mencari solusi bagi permasalahan suatu bangsa, seperti dalam sebuah ungkapan yang cukup terkenal, “Sejarah akan Read the rest of this entry »

Indonesia pada hakikatnya belum menjadi sebuah bangsa yang utuh. Hingga saat ini sebenarnya pergulatan ideologi masih belum selesai. Ideologi Pancasila yang telah menjadi konsep ideologi yang menaungi wilayah kesatuan Indonesia masih memiliki banyak penafsiran. Kegamangan ideologi dan pemaknaan Pancasila di perbesar lagi dengan adanya politisasi Pancasila yang dilakukan orde baru. Selama 32 tahun hegemoni yang dibangun berhasil mengalihkan Pancasila dari ideologi atau jiwa menjadi alat pemerintah untuk membuat model manusia Indonesia menjadi homogen secara represif. Penyebutan bangsa Indonesia belum pada tataran kepribadian, masih dalam bentuk opini dan usaha politis dalam rangka mempersatukan rakyat yang hidup di wilayah Indonesia. Bisa dikatakan saat ini Indonesia baru bisa dikatakan sebagai “Sesuatu Indonesia”.

Pada dasarnya usaha para pendiri bangsa saat memusyawarahkan Pancasila sebagai ideologi telah berhasil melihat dengan jeli keberagaman Indonesia. Dengan pergulatan politik dan ideologi yang terjadi pada saat musyawarah, mereka sebenarnya telah mengambil titik temu. Pengambilan titik temu tersebut berkaitan dengan kondisi Indonesia pada saat itu dihayati para pendiri bangsa diperlukan untuk mempersatukan Indonesia. Sehingga siapapun pemimpin yang lahir pada saat perumusan itu akan belajar banyak untuk berinteraksi dengan banyak sudut pandang serta membangun titik temu.
Indonesia yang disebut sebagai negara kepulauan ini merupakan suatu identitas yang penuh warna. Banyaknya ragam agama, ras, budaya, suku bangsa, dan bahasa daerah membuat Indonesia menjadi sebuah miniatur dari keberagaman dunia. Indonesia menaungi banyak aspek perbedaan yang menjadi representasi dari keberagaman yang ada di dunia. Maka dalam konteks politik dan kepemimpinan, kondisi seperti ini dapat menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya kepemimpinan yang mampu mensejahterakan dunia.

Potensi keberagaman Indonesia yang sangat besar secara alamiah mendidik rakyat dan siapapun yang menjadi pemimpin rakyat menjadi pemersatu. Meskipun tantangan disintegrasi sangat besar, namun keberagaman ini membuat seorang pemimpin, khususnya yang memliki cakupan wawasan nasional hingga internasional, belajar untuk mengatasi segala kemungkinan perpecahan. Pembelajaran tersebut Read the rest of this entry »

Belakangan ini ramai diberitakan mengenai pengesahan RUU tentang Pornografi. Pro dan kontra terjadi di semua kalangan, dari mulai para intelektual, wakil rakyat, sampai pada rakyat kecil yang ikut berdemo….yang mungkin pula tidak terlalu paham untuk apa mereka berdemo. Berbagai argumen pun menjadi warna realitas demokrasi di Indonesia ini. Berbagai sudut pandang pun meluas dalam memandang ini. Realitas ini membawa kepada sebuah keputusan, yang memang harus dipilih segera, mensahkan RUU tentang Pornografi menjadi UU tentang Pornografi.

Aku termasuk orang yang mendukung disahkannya RUU menjadi UU. Telah begitu banyak penyimpangan yang sulit direm oleh norma maupun kultur keagamaan di Indonesia. Jika para penolak RUU tersebut menghardik bahwa agama sudah tidak punya wibawa, ya ada benarnya. Tapi aku menggarisbawahi…lebih tepatnya bukan agama, tapi kultur agama. Karena agama Islam merupakan agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari agama Islam. Sedangkan kultur agama membahas tentang bagaimana sebuah agama terinternalisasi oleh para pemeluknya sehingga mampu berpikir dan bertindak sesuai norma agama.

Kita harus belajar dari sebuah fase yang dilalui masyarakat Vietnam yang terkenal militan dalam membela negaranya dari penjajahan Amerika Serikat. Karena begitu sulitnya menghadapi pasukan Vietnam yang kebanyakan merupakan anak muda, kemudian tentara AS menyebarkan gambar-gambar porno untuk dikonsumsi para pemuda Vietnam. Selanjutnya? Read the rest of this entry »

Alhamdulillah aku sudah ganti dosen pembimbing, kali ini dosennya enakeun euy…Mba Ninin…Awalnya  aku tertarik pada bagaimana proses komitmen membangun bangsa, namun ternyata sulit menemukan konsep ilmiahnya. Akhirnya setelah mewawancarai subjek yang ingin kuteliti, yaitu adik-adik PPSDMS-ku. Aku tertarik pada fenomena religiusitas yang menjadi latar belakang seseorang untuk beramal, membantu orang, bahkan samapi berkorban untuk orang lain. Ada hubungannya gak yah antara religiusitas dengan tingkah laku prososial??? Ada yang bisa bantu jawab???

Begini ceritanya………………….(maksudnya latar belakang)

Mahasiswa merupakan aset yang sangat berharga bagi suatu bangsa. Mereka merupakan tonggak bagi pengembangan menuju masyarakat madani (civil society). Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap perubahan yang terjadi pada suatu bangsa hampir selalu merupakan hasil inisiasi dari mahasiswa. Dalam sejarah Indonesia sendiri, mahasiswa selalu mengukir tinta emas perubahan ke arah yang lebih baik bagi Indonesia. Kita dapat melihat kembali buku sejarah kita tentang Taman Siswa, Sumpah Pemuda, Peristiwa Rengasdengklok, hingga Reformasi pada tahun 1998.

Kondisi bangsa Indonesia yang sedang mengalami berbagai krisis, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia membuat saat ini menjadi momentum wajib bagi mahasiswa berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat tujuan pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).(http://bz.blogfam.com/2006/05/menyoal_problematika_pendidikan.html)Diakses pada tanggal 1 Maret 2007.

Secara psikologis, mahasiswa sedang berada pada sebuah fase transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal. Pada masa ini mahasiswa mengalami perubahan yang penting bagi perkembangan psikososialnya. Menurut Erikson (1963, 1968), perkembangan psikososial pada usia seperti ini berada pada tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana mahasiswa tengah mengalami pencarian identitas diri. Mahasiswa mengacu kepada identitas yang berupa suatu prestasi atau penghargaan. Pada tahap ini pula, terdapat kesetiaan yang sangat tinggi terhadap komunitas yang ia ikuti, sehingga muncul rasa bangga dan pembelaan terhadap komunitas tersebut.

Read the rest of this entry »

Ibarat kapal layar, saat ini Indonesia sedang menghadapi banyak gelombang tinggi serta terjangan badai yang memang tidak pernah bersahabat. Namun hal ini sudah menjadi konsekuensi perjuangan bangsa ini untuk mencapai sebuah pulau yang diberi nama “keadilan dan kemakmuran”. Di samping factor eksternal tersebut bangsa ini juga harus berpenat – penat dalam mengurus permasalahan internal, mulai dari yang kecil – kecil sampai yang dapat membuat kapal tenggelam ke dasar kemiskinan dan penjajahan.

Entah apa yang dipikirkan nakhoda bangsa ini – SBY – ketika melihat hantaman bertubi – tubi baik dari dalam maupun luar kapal. Dari sisi luar, kepemimpinan ini terus digoncangkan badai ekonomi yang tak pernah reda. Sedangkan dari dalam, tak tertolak lagi, ia harus “meneruskan perjuangan bangsa” dari para pendahulunya, nakhoda – nakhoda yang memiliki kontribusi besar yang mayoritas negatif. Masing – masing nakhoda yang menjadi pendahulu SBY meninggalkan banyak kekacauan di dalam kapal. Di sisi lain, pada masa ini masih saja ditemukan kesalahan dalam menentukan berkembangnya layar sebagai salah satu penentu arah kebijakan. Ditambah lagi para pendayung yang ternyata masih bersikap malas – malasan untuk bekerja.

Mari sejenak kita tinggalkan analogi menarik tersebut untuk menelaah secara ilmiah posisi bangsa Indonesia sebagai sebuah kelompok.

Dalam kajian tentang kelompok pada ilmu Psikologi Sosial, Read the rest of this entry »

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
June 2017
S M T W T F S
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 100,961 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara

Bersama Para Future Leader

Belagak Orasi

BPM '06-'07

Mencoba menghibur...

BEM "Care In Harmony"

Bersama-sama menemui Allah...

F4 dari IWP

Sobat SMA sampe sekarang

berusaha berpijak dengan harapan yang menjemput lahirnya matahari

tenang, kuat, menimbulkan harapan dan senyum bersyukur

More Photos