Belakangan ini kepalaku dipenuhi oleh berbagai tuntutan yang berusaha kupersepsi sebagai tantangan. Memang ada kalanya aku terjebak pada persepsi yang negatif tentang tuntutan, dan kemudian kembali bangun lagi dengan persepsi positif tentang tantangan, begitu yang terjadi secara terus menerus berdinamika. Ingin rasanya aku memiliki kekuatan untuk selalu mampu tersenyum dengan segala lelahku, seperti yang pernah kualami, ketika aku mampu merasakan senantiasa bersama yang kucinta…Allah. Ingin rasanya aku membuka hati ini kemudian mendorong dinding-dindingnya agar semakin luas.

Ternyata setiap fase kehidupan memiliki persimpangan jalan. Sebelumnya, setelah aku merasa mampu menyelesaikan beberapa perdebatan dalam diriku…aku sudah tinggal menikmati amalnya saja. Namun, kondisi berada di sebuah percabangan, dan harus memilih, terus terjadi. Jika dalam tataran amal yang kupersembahkan adalah menuntut kegembiraan dalam melewati cobaan-cobaannya, sedangkan jika berada di persimpang jalan itu sungguh melelahkan. Karena sesungguhnya aku tidak mau memilih, dan tamak untuk mengambil semuanya. Dan aku “harus” belajar tentang apa itu fokus, dan menanggalkan beberapa bagian mimpiku. Ahh…dasar seorang pemimpi…

Lagi-lagi aku kembali pada sebuah filosofi sekaligus realita hidup, bahwa hidup ini harus memilih…setidaknya dalam waktu sekarang ini…Ya Rabb…tunjukkan aku jalan yang lurus…

Suatu saat Hasan Al-Banna berkata: “Umat ini membutuhkan orang-orang yang luapan hatinya mampu menggenangi hati hati orang-orang di sekitarnya. Dan luapan robbani itu mereka mampu menggenangi hati orang-orang di sekitarnya kemudian. Maka dengan itu manusia dapat berubah dari suatu keadaan menuju keadaan yang lain. Dan manusia dapat berpindah dari kegelapan menuju cahaya.”
Kata-kata di atas kupersepsi menjadi pertanyaan. Bukan hanya satu, bahkan beberapa pertanyaan mampir ke dalam perenunganku, yang intinya…”Sudahkah luapan hatiku mampu menjadi sebuah luapan yang besar? Dan sudahkah luapan hatiku mampu menggenangi hati orang-orang di sekitarku?” Dan kemudian pertanyaan pertama tersebut setidaknya dapat dijawab ketika aku mencoba menjawab….

Apakah dadaku begitu lapang ketika mendapat masalah?
Apakah perasaanku senantiasa kembali kepada kampung akhirat?
Apakah perasaanku merasa terpisahkan dari dunia yang penuh tipu daya?
Apakah aku sedang bersiap menemui kematian sebelum datang waktunya?
Apakah hatiku bergetar ketika disebut-sebut nama Allah?

Kemudian pertanyaan kedua masih menjadi perenunganku….sekaligus coba kuingat-ingat hari-hari yang kulalui bersama sahabat-sahabat di sekitarku…

Ya Rabb…jadikanlah aku orang yang mampu mencintai-Mu, Rasulullah, dan mencintai sebanyak-banyaknya manusia…..

Ada yang membuatku kembali meresapi hari dengan dalam hari ini dan menikmati kesengajaanku untuk sendiri di malam hari. Sebuah sms dari adik mentoringku (baca:mutarobbi) yang membalas sms tausiyahku tentang keistiqomahan. Akhi tercinta ini mengutip untaian mutiara keimanan dari seorang Ahlul Haq, Ustadz Rahmat Abdullah Allahuyarham….

“Teruslah bergerak, hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga KELESUAN itu LESU menemanimu.”

Dalam perenunganku terhadap rangkaian makna yang terselubung di dalamnya, ini adalah sebuah paduan antara keimanan dan amal, antara pemikiran dan perasaan, antara pergantian kesuksesan dan kegagalan seorang Al-Akh yang mencoba menembus batas-batas kemanusiaannya (baca: pemakluman bahwa kita manusia). Seseorang yang mampu menghadirkan suasana perjuangan Islam pada jaman Rasulullah SAW menjadi sesuatu yang bisa hidup dalam kekinian dan kedisinian. Ketika banyak orang terlunta mengeja harapan, ketika sebagian besar orang lupa dengan kata keniscayaan.

Ya akhi, adikku tercinta, semoga hasil perenungan ini menjadi pahala yang mengalir pada darahmu. Semoga aku mampu mengejawantahkan dalam semarak amal-amal perjuanganku hingga kebaikannya pun menjadi kebaikanmu.

Seringkali secara tak sadar kita menemukan orang besar di sekitar kita, yang mampu menjadi inspirasi bagi kita untuk mencapai mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi yang pada suatu titik kehidupan kita pernah mampu melampaui ruang batas, tidak hanya menggantungkan di langit. Mimpi-mimpi yang mampu memacu adrenalin kita untuk ters berkarya tanpa henti dan mengharamkan keterdiaman! Iya benar…mimpi yang menggambarkan suatu fase ketika kita telah menuai cinta-Nya di surga kelak. Ternyata orang itu kini telah banyak hadir di sekitar kita…di kampus kita…di kosan kita…di jalan-jalan yang kita lalui…di rumah makan yang sering kita singgahi…dan seperti fenomena yang coba aku kulik hikmahnya adalah di sms-sms yang kita terima…

Tugas kita sangat sederhana, yaitu menangkap suatu sudut inspiratif dari setiap gerak verbal ataupun non-verbal orang-orang itu, dimana setiap detik mampu menjadi hikmah. Yang menjadi tidak sederhana adalah ketika kita yang terbiasa memberi (baca: jadi pembicara, jadi ketua/pimpinan organisasi, trainer, guru, dosen, pementor, murobbi) harus dengan total meninggalkan atribut-atribut tersebut, untuk lebih jujur mengagumi orang-orang di sekitar kita.

Subhanallah…ternyata sarana tarbiyah begitu luasnya…aku tambah satu lagi…selain halaqoh, mukhoyam, ta’lim, dan kawan-kawan…adalah “Iseng dengan penuh kesengajaan memperhatikan orang lain.” Memperhatikan orang lain ini termasuk mendalami maksud dari sms yang dikirimnya, tidak lewat begitu saja dalam pilihan “delete” kita. Dan tidak hanya menjadi penghias inbox kita belaka…

Tesis dari Samuel P. Huntington, seorang penulis Yahudi, menimbulkan munculnya diskusi yang hangat serta beberapa kontroversi yang mencuat di dunia internasional. Landasan berpikir dari prediksi ini berangkat dari adanya konflik yang terjadi antara Islam sebagai wakil peradaban Timur dan Kristen sebagai wakil peradaban Barat. Dalam pandangan Huntington, perbenturan antara Islam dan Kristen disebabkan oleh adanya perbedaan konsep pandangan hidup dan juga konsep ketuhanan, meskipun keduanya sama-sama monoteistik. Perbedaan fundamental seperti ini juga diwarnai semangat dari kedua peradaban untuk menjadi umat terbaik yang menjadi pemimpin peradaban dunia

Salah satu momentum besar yang sangat penting dalam konteks isu perbenturan peradaban (clash civilization) terjadi pada tanggal 11 September 1999. Terlepas dari siapa yang merekayasa, hal ini telah dimanfaatkan Amerika untuk menekan negara-negara muslim. Amerika melakukan serangkaian tindakan yang mengatasnamakan “perang melawan teroris” (baca:perang terhadap Islam). Menurut Amerika, hal ini dilakukan dalam rangka memperjuangkan pilar-pilar demokrasi, hukum, dan hak asasi manusia. Padahal perjuangan mereka justru dinilai sebaliknya oleh para ahli demokrasi, hokum, maupun hak asasi manusia. Bahkan tak jarang pemerintahan Bush dikecam dan didemo oleh para warga negaranya sendiri yang justru menyebut pemerintahan Bush tersebut sebagai teroris

Kejadian 11 September 1999 meninggalkan dampak yang sangat krusial bagi umat Islam. Kejadian kritis ini meletakkan umat Islam sebagai pusat dari opini public internasional. Dampak yang terjadi sangat meluas, mulai dari yang mendukung maupun yang melemahkan keniscayaan bangkitnya peradaban Islam. Dampak yang melemahkan atau negative berkaitan dengan opini “teroris” yang menjadi stereotip yang kental ditempelkan pada wajah setiap umat muslim. Sedangkan dampak pendukung dan positifnya adalah semakin banyak dan meluasnya minat dunia internasional, khususnya Barat untuk mengenal Islam lebih jauh. Read the rest of this entry »

Sebagai komunitas yang mempunyai peran strategis dalam kehidupan bangsa, mahasiswa harus mampu merumuskan visi (impian) besar untuk membangun masyarakat dan bangsanya. Sejarah telah mencatat bahwa perubahan suatu bangsa banyak dipelopori oleh para mahasiswa dan kaum pemuda. Namun jika kita melihat kondisi kebanyakan mahasiswa pada saat ini, kita layak bertanya masih banyakkah mahasiswa yang visioner itu?

Dalam kajian psikologi perkembangan, mahasiswa sedang berada pada fase transisi antara remaja akhir menuju dewasa akhir. Menurut Erikson (1963, 1968), perkembangan psikososial pada mahasiswa seperti ini berada pada tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana remaja tengah mengalami pencarian identitas diri

Mahasiswa memiliki potensi dalam hal kemampuan kognisi tingkat tinggi seperti proses pengambilan keputusan, analisis dan merumuskan perencanaan strategis. Sebab, mahasiswa dalam perkembangannya merupakan periode dimana kapasitas untuk memperoleh dan menggunakan pengetahuan secara efisien mencapai puncaknya (Mussen, Conger, & Kegan, 1965). Pada masa remaja (mahasiswa), terjadi reorganisasi lingkaran saraf frontal lobe yang merupakan aktifitas kognitif tingkat tinggi seperti kemampuan merumuskan perencanaan strategis dan kemampuan mengambil keputusan (Carol & David R). Tidak hanya dari sisi kognisi, Read the rest of this entry »

“Letih takkan pernah sanggup meruntuhkan gelora jiwa muda yang memiliki asa mengangkasa. Peluh takkan pernah menjadi sandungan saat cita muda terus melengking membelah langit. Ragu takkan pernah hadir saat tekad muda berkoar lantang menamparnya.”

Romantisme Perjuangan Mahasiswa Indonesia
Perjalanan panjang terus terukir indah mengawal catatan indah para pejuang kesempurnaan dan keadilan. Mahasiswa merupakan sebuah simbol anti-kemapanan yang terus menjadi onak dan duri bagi penguasa tiran dan setan ketidakadilan. Dengan ciri khas perjuangan yang sedikit naif, mahasiswa rela menjadikan tubuh mudanya sebagai garda depan pengusung perubahan yang selalu saja meminta tumbal.

“Gelora pemuda adalah romantisme perjuangan. Dalam kancah kehidupannya, figur seorang pemuda ingin menunjukkan jati dirinya sebagai manusia yang memiliki sejuta arti dengan memikul tanggung jawab cukup berat. Ia berusaha memunculkan diri sebagai seorang manusia yang memiliki kekuatan yang tinggi sehingga aura jiwa mudanya benar-benar memancar.” (Hasan Albana).
Sejarah takkan pernah diam untuk terus mengelu-elukan dinamika kejayaan-keterpurukan sebuah bangsa dan sejarah juga takkan pernah lupa untuk menempatkan peran pemuda atau mahasiswa sebagai pemimpin perubahan menyambut kejayaan. Karakteristik sejarah seperti inilah yang patut kita jadikan referensi untuk mencari solusi bagi permasalahan suatu bangsa, seperti dalam sebuah ungkapan yang cukup terkenal, “Sejarah akan Read the rest of this entry »

Indonesia pada hakikatnya belum menjadi sebuah bangsa yang utuh. Hingga saat ini sebenarnya pergulatan ideologi masih belum selesai. Ideologi Pancasila yang telah menjadi konsep ideologi yang menaungi wilayah kesatuan Indonesia masih memiliki banyak penafsiran. Kegamangan ideologi dan pemaknaan Pancasila di perbesar lagi dengan adanya politisasi Pancasila yang dilakukan orde baru. Selama 32 tahun hegemoni yang dibangun berhasil mengalihkan Pancasila dari ideologi atau jiwa menjadi alat pemerintah untuk membuat model manusia Indonesia menjadi homogen secara represif. Penyebutan bangsa Indonesia belum pada tataran kepribadian, masih dalam bentuk opini dan usaha politis dalam rangka mempersatukan rakyat yang hidup di wilayah Indonesia. Bisa dikatakan saat ini Indonesia baru bisa dikatakan sebagai “Sesuatu Indonesia”.

Pada dasarnya usaha para pendiri bangsa saat memusyawarahkan Pancasila sebagai ideologi telah berhasil melihat dengan jeli keberagaman Indonesia. Dengan pergulatan politik dan ideologi yang terjadi pada saat musyawarah, mereka sebenarnya telah mengambil titik temu. Pengambilan titik temu tersebut berkaitan dengan kondisi Indonesia pada saat itu dihayati para pendiri bangsa diperlukan untuk mempersatukan Indonesia. Sehingga siapapun pemimpin yang lahir pada saat perumusan itu akan belajar banyak untuk berinteraksi dengan banyak sudut pandang serta membangun titik temu.
Indonesia yang disebut sebagai negara kepulauan ini merupakan suatu identitas yang penuh warna. Banyaknya ragam agama, ras, budaya, suku bangsa, dan bahasa daerah membuat Indonesia menjadi sebuah miniatur dari keberagaman dunia. Indonesia menaungi banyak aspek perbedaan yang menjadi representasi dari keberagaman yang ada di dunia. Maka dalam konteks politik dan kepemimpinan, kondisi seperti ini dapat menjadi kawah candradimuka bagi lahirnya kepemimpinan yang mampu mensejahterakan dunia.

Potensi keberagaman Indonesia yang sangat besar secara alamiah mendidik rakyat dan siapapun yang menjadi pemimpin rakyat menjadi pemersatu. Meskipun tantangan disintegrasi sangat besar, namun keberagaman ini membuat seorang pemimpin, khususnya yang memliki cakupan wawasan nasional hingga internasional, belajar untuk mengatasi segala kemungkinan perpecahan. Pembelajaran tersebut Read the rest of this entry »

Qum, Faanzir !
Bangkit dan berdirilah, susun barisan dan kekuatan. Barisan dan kesatuan Umat.
Canangkan seruan dan ancaman. Seruan kebenaran dan ancaman kebinasaan jika menolak atau menentang kebenaran. Gemakan sentiasa Kalam Ilahi, kumandangkan selalu suara dan seruan kebenaran.
Sampai peringatan ini ke kuping segala Insan! Gempitakan kepada dunia dan kepada manusia ajaran agama Tauhid, ajaran Cita dan Cinta.

Worabbaka fakabbir!

Besarkan Tuhanmu, di atas segala! Tiada kebenaran yang menyamai KebesaranNya. Tiada kekuasaan yang menyamai KekuasaanNya. Tiada urusan atau kepentingan yang lebih dari urusan dan kepentingan menjalankan perintahNya. Kecil semuanya dihadapan Allahu Akbar. Fana, lenyap dan binasa segala dalam ke BaqaanNya. Tiada ketakutan selain azab&siksaNya yang akan menimpa.
Tiada harapan selain ke RidhaanNya belaka. Tiada kesulitan apabila ruh telah bersambung dengan Maha Kebesaran dan Maha Kekuasaan Tuhan yang Tunggal itu.

Wathiabaka fathahhir!

Bersihkanlah dirimu, lahir dan batinmu! Hanya dengan kesucian ruh jua Amanah dan Risalah ini dapat engkau jalankan.
Risalah dan Amanah ini adalah suci. Dia tidak boleh dipegang oleh tangan yang kotor, jiwa yang berlumur dosa dan noda.
Hanyalah dengan kesucian ruh engkau dapat memikul tugas dan beban berat ini.
Sucikanlah dirimu, lahir dan batin, baru engkau ajar manusia menempuh tugas dan beban berat ini.
Thahirum muthahir suci dan mensucikan, itulah peribadi Mukmin yang sejati.
Tangan yang berlumur darah maksiat tidak mungkin akan berbuat khairat kepada dunia dan manusia. Jiwa yang kotor dan penuh dosa tidak mungkin akan memberikan isi dan erti dunia dan manusia.

Warrujza fahjur !
Jauhilah maksiat, singkiri mungkarat! Dosa itu akan menodai dirimu, akan menghitamkan wajah riwayatmu.
Engkau tidak akan sanggup menghadap, jika mukamu tebal dan hitam dengan dosa dan maksiat, Namamu akan cemar dihadapan Rabbi, kalau laranganNya tidak engkau singkiri dan jauhi.
Bersihkanlah keluargamu, saudara dan tetanggamu, masyarakat bangsamu dan maksiat dan mungkarat dan dosa dan noda.
Bangsa dan Negaramu akan karam-tenggelam dalam lembab kehancuran dan kebinasaan, jikalau maksiat dan mungkarat telah menjadi pakaiannya. Makruf yang harus tegak dan mungkar yang harus roboh, adalah program perjuanganmu. Al-Haq yang mesti dimenangi dan bathil yang harus dibinasakan, adalah acara dan jihadmu.

Wala tumnun tastakthir’
Janganlah engkau memberi karena mengharapkan balasan yang banyak!
Jalankan tugas ini tanpa mengharapkan balasan dan ganjaran dan manusia..
Menjalankan tugas adalah berbakti dan mengabdi, tidak mengharapkan balasan dan pujian, keuntungan benda dan material.
Kekayaan manusia tidak cukup untuk “membalas” jasamu yang tidak ternilai itu. Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini akan kering dan ketiadaan Iman, kepercayaan dan, pegangan?
Bukankah tanpa engkau, masyarakat ini lenyap ditelan kesepian, tiada suluh dan pelita? Bukankah tanpa engkau, hidup ini akan kerdil; hidup kehampaan dan segala kehampaan, karena tiada Iman dan Agama?
Kalau tidak adalah “penyeru-penyeru” baru datang ke dunia seperti engkau, alam ini seluruhnya akan tenggelam dalam kegelapan, kesepian dan kehampaan.
Jalankan tugas ini karena hanya mengharapkan ke Ridhaan Tuhanmu jua.

Walirabbika fasybir !
Karena Tuhanmu, hendaklah engkau bersabar!
Lakukanlah tugas dan kewajiban ini dengan segala kesabaran dan ketahanan.
Sabar menerima musibah yang menimpa, ujian dan cobaan yang datang silih berganti. Sabar menahan dan mengendalikan diri, menunggu pohon yang engkau tanam itu berbunga dan berbuah.
Tidak putus asa dan hilang harapan atau kecewa melihat hasil yang ada karena tidak seimbang dengan kegiatan dan pengorbanan yang diberikan. Hanya Ummat yang sabar yang akan mendapat kejayaan sejati dan kemenangan hakiki. Hanya Ummat yang sabar yang akan sampai kepada tujuan.

Hadza dzikrun!
Inilah enam peringatan dan enam arahan!
Untuk Mujahid Dakwah. Syahibud Dakwah, si Tukang Seru.
(‘Usrah dan dakwah’ Imam Hasan Al Banna)

– Dari seorang teman –

Belakangan ini ramai diberitakan mengenai pengesahan RUU tentang Pornografi. Pro dan kontra terjadi di semua kalangan, dari mulai para intelektual, wakil rakyat, sampai pada rakyat kecil yang ikut berdemo….yang mungkin pula tidak terlalu paham untuk apa mereka berdemo. Berbagai argumen pun menjadi warna realitas demokrasi di Indonesia ini. Berbagai sudut pandang pun meluas dalam memandang ini. Realitas ini membawa kepada sebuah keputusan, yang memang harus dipilih segera, mensahkan RUU tentang Pornografi menjadi UU tentang Pornografi.

Aku termasuk orang yang mendukung disahkannya RUU menjadi UU. Telah begitu banyak penyimpangan yang sulit direm oleh norma maupun kultur keagamaan di Indonesia. Jika para penolak RUU tersebut menghardik bahwa agama sudah tidak punya wibawa, ya ada benarnya. Tapi aku menggarisbawahi…lebih tepatnya bukan agama, tapi kultur agama. Karena agama Islam merupakan agama yang tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari agama Islam. Sedangkan kultur agama membahas tentang bagaimana sebuah agama terinternalisasi oleh para pemeluknya sehingga mampu berpikir dan bertindak sesuai norma agama.

Kita harus belajar dari sebuah fase yang dilalui masyarakat Vietnam yang terkenal militan dalam membela negaranya dari penjajahan Amerika Serikat. Karena begitu sulitnya menghadapi pasukan Vietnam yang kebanyakan merupakan anak muda, kemudian tentara AS menyebarkan gambar-gambar porno untuk dikonsumsi para pemuda Vietnam. Selanjutnya? Read the rest of this entry »

Apa yang akan seseorang lakukan jika dia mengetahui bahwa esok atau lusa maut akan menjemputnya?

Aku coba memulai perenungan ini dari awal, perenungan yang terwaktui pada hari lahirku. Dalam hitungan Masehi, tanggal 28 Oktober 2008, yang bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang ke-80 ini adalah tibanya usiaku pada angka 23 tahun. Sebuah usia yang sudah tidak bisa dikatakan remaja, dan dalam perspektif psikologi perkembangan sudah masuk dalam fase awal. Namun deru pertanyaan kemudian banyak menyertai perenungan pada momentum ini. Aku bertanya…wahai fiqih!!! Apa artinya diri kamu? Apa makna kehadiranmu bagi dunia ini? Sudahkah kau renungi betapa banyaknya nikmat yang Allah limpahkan kepadamu? Aku jadi teringat sms teman (Adit IWP 18) yang terkirim pukul 18.04…Ibnu Mas’ud:”Usiamu semakin berkurang seiring perjalanan waktu, sementara segala amalan akan tersimpan dan kematian datang secara mendadak (Al-Fawaid, 147). Subhanallah…betapa sesungguhnya maut itu sangat dekat dan mengintaiku dari segala penjuru…Sementara, keyakinanku belum bulat tentang tercapainya harapan menggapai Ridho-Nya….

Jika usia telah menginjak 23 tahun, maka berapa umurku? Mungkin 1 menit lagi kah sehingga aku tidak sempat menyelesaikan tulisan ini? Atau satu jam? Satu hari? Satu minggu lagi? Satu bulan? Tahun? Hanya harap yang kini kuselipkan dalam langkah-langkahku yang gontai mengingat kematian. Kematian yang bahkan seorang kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW, merasakannya sangat menyakitkan. Aku menyadari, setiap kali mengingatnya maka mereduplah senyumku, hilanglah beberapa keceriaanku.

Read the rest of this entry »

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
August 2017
S M T W T F S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 101,099 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara