You are currently browsing the tag archive for the ‘Kemal Stamboel’ tag.

Paska kampus merupakan sebuah arena pertarungan dimana semua orang berkompetisi meraih hal yang diinginkan. Dalam era ini seorang pemuda telah disuguhi banyak pilihan dan kesempatan. Pilihan itu menentukan sejauh apa lompatan seseorang dalam pengembangan diri dan karirnya. Sedangkan kesempatan juga memiliki peran yang cukup strategis untuk mendukung keberhasilan seseorang. Jadi, kita mesti dengan sadar menentukan pilihan dan menjemput kesempatan.

Dalam menentukan pilihan terkadang kita memang mesti menjalani pilihan-pilihan yang “kurang tepat” untuk kemudian mengetahui jalan yang tepat. Prinsipnya adalah terus bergerak dan memahami arah gerak kita. Bergerak akan membawa kita memperluas pengalaman kehidupan kita sedangkan memahami akan menganugerahkan kita infromasi penting tentang siapa dan sejauh mana kapasitas kita. Untuk meminimalisir waktu tempuh perjalanan pada pilihan yang “kurang tepat”, kita perlu berakrab-akrab diri dengan diri sendiri. Mengenal kelebihan dan kekurangan. Di samping itu kita juga perlu banyak informasi eksternal agar mampu menyadari peluang dan tantangan yang hadir di sekitar kita.

Mengenal kelebihan dan kekurangan diri dapat ditempuh dengan seringnya kita melakukan aktivitas muhasabah atau evaluasi diri. Evaluasi diri juga bisa dilakukan dengan meminta pendapat rekan sekerja atau teman sepergaulan. Jika evaluasi diri telah terbiasa dilakukan maka kalkulasi untuk meraih lompatan besar akan lebih akurat. Bila karir yang anda inginkan adalah seorang peneliti di laboratorium yang meraih nobel ilmiah, maka pastikan bahwa anda adalah orang yang sabar, teliti, tekun, dan tidak membutuhkan banyak interaksi dengan orang lain.

Dalam konteks eksternal, menyadari peluang dan tantangan yang hadir di sekitar kita dapat dipercepat dengan banyak mengakses informasi mengenai bidang yang ingin digeluti dan belajar dengan tokoh senior yang bisa diteladani perjalanan hidupnya. Sebagaimana tujuan inner circle PPSDMS, yaitu mempercepat mobilitas vertical maupun horizontal, berinteraksi dengan tokoh senior merupakan sarana yang tepat untuk meraih lompatan besar. Namun, jangan sampai kita terjebak dengan mengikuti pilihan hidup tokoh tersebut. Hal ini diungkapkan Pak Kemal Stamboel bahwa “There is no a fixed formula applied for all.”

Jika anda memilih cita-cita menjadi pimpinan tertinggi sebuah perusahaan, maka yakinlah bahwa “Everyone can be in the board”. Ada suatu masa dimana jika anda bukan engineer maka anda tidak bisa masuk dalam BoD (Board of Director). Kemudian siklus itu berubah ketika industri keuangan dan pasar modal sedang booming, sehingga terciptalah pakem jika anda tidak berlatar belakang finance maka anda tidak bisa masuk dalam BoD. Dari fakta ini sebenarnya setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pimpinan tertinggi dari suatu perusahaan. Dengan kondisi industri yang bergulir dengan cepat, maka seseorang yang layak untuk masuk BoD adalah orang yang mampu menerjemahkan kebutuhan perusahaannya secara menyeluruh dan strategis. Misalnya seorang HRD staff akan dipandang berharga jika dia mampu memberikan kontribusi ke perusahaan tidak hanya dalam bentuk jumlah orang yang direkrut dan dilatih, tetapi juga mampu menerjemahkan kinerja HRD dalam ukuran profit/loss bagi perusahaan. Selain itu seorang yang berkecimpung di dunia HRD juga sangat berarti jika ia mampu memetakan talenta-talenta terbaik perusahaan di masa depan. Jadi intinya, bagaimana kita bergerak dari fungsi administrative menjadi fungsi strategis. Oleh karena itu bagi siapa saja yang ingin menjadi orang nomor satu di perusahaannya, maka harus terus meningkatkan pengetahuannya, membaca buku-buku strategis, berbicara layaknya CEO dan akhirnya pantas untuk menjadi CEO.

Tantangan di paska kampus adalah bagaimana kita secara aktif bergerak secara vertikal maupun horizontal. Dalam menjalani karier, setiap orang memiliki start position yang berbeda-beda.
Saat ini masyarakat telah mengalami proses perubahan yang loncatannya sangat tinggi. Kita bisa melihat sebuah fenomena di Amerika Serikat, yang pada 50 tahun yang lalu orang kulit hitam sangat didiskriminasi, namun saat ini seorang kulit hitam jadi presiden. Dalam konteks arus informasikita juga bias melihat bahwa seorang mahasiswa junior bias dengan jauh meninggalkan seniornya untuk menguasai sebuah bidang ilmu, bahkan bias jadi seorang mengalahkan dosennya. Oleh karena itu, sebagai pemimpin kita harus bisa mempersiapkan diri untuk dapat menghadapi loncatan besar perubahan dalam masyarakat.
Ada 3 tipe orang dalam menghadapi proses yang berubah dengan cepat ini:
1. Fast tracker. Orang yang lari cepat dalam jalur cepat. Otomatis orang-orang yang seperti ini adalah orang yang mempersiapkan diri dengan baik. Dia memiliki tujuan yang fokus dan perencanaan yang matang. Dia merasa bahwa setiap saat ditantang oleh keadaan. Dalam beberapa keadaan dia akan merasa sendiri karena menjadi orang yang terdepan dan paling cepat.
2. Specialist. Orang yang tekun dalam sebuah organisasi yang menjadi ahli dalam sebuah bidang. Dia menjadi orang yang sangat focus dan berupaya menambah ilmu khusus di bidang yang ia tekuni tersebut. Ia hanya nyaman di area dan bidangnya dan tidak bias keluar dari area atau bidang keahliannya.
3. Executor/generalist. Seseorang yang tidak berfokus dan tidak menonjol tapi memliki komitmen yang kuat dan kemampuan bekerja yang baik. Dia merupakan seorang “Pahlawan tak dkenal.”

Posisi orang tergantung pada gerak langkahnya, jika lambat maka hanya akan dapat sekedarnya. Jika menginginkan hal yang puncak, maka harus “berlari cepat” dan “membuka mata”. Seseorang yang fast tracker akan disorot banyak pihak dan begitu banyak resiko dan effort-nya. Jika memilih jalan yang tidak memiliki resiko besar maka kita bisa memilih untuk berjalan di jalur specialist.

Refleksi terhadap karier Kemal Stamboel.

Setelah lulus SMA masuk PT di jurusan Psikologi Unpad. Setelah menempuh pendidikan 6 tahun dan lulus, saya kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Disana saya belajar untuk menjalani sebuah proses perusahaan yang luar biasa membekali banyak hal. Kemudian saya menjadi konsultan SDM. Setelah itu saya memilih jalur pendidikan S2 Finance di Amerika Serikat (MBA) dan menjadi Direktur di Price Waterhouse. Kemudian saya berpindah lagi kepada jalur IT. Saya juga aktif di BRR Aceh sebagai badan pengawasan keuangan. Ketika presiden membentuk Dewan Teknologi dan Komunikasi Nasional, saya ditunjuk menjadi Wakil. Kemudian saat ini saya menjadi calon anggota legislatif.
“Kita tidak harus stuck di satu bidang, kita bisa move around. Hal yang trepenting untuk membekalinya adalah pengalaman manajerial dan kemampuan leadership.Bersiaplah menghadapi tahun 2014, karena pada tahun itu terdapat peluang yang besarbagi para pemuda untuk meloncat jauh.”
“Hal yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah excitement, jangan sampai kita terseret dalam comfort zone dimana kita bekerja dengan “kenyamanan semu” sehingga tidak berbahagia dan bergelora. Jika bertahan, maka sama saja kita membangun depresi pada diri sendiri.”

Hasil cerna ketika berdiskusi dengan Kemal Stamboel, Dewan Penasehat PPSDMS

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
June 2017
S M T W T F S
« Jul    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 100,961 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara

Bersama Para Future Leader

Belagak Orasi

BPM '06-'07

Mencoba menghibur...

BEM "Care In Harmony"

Bersama-sama menemui Allah...

F4 dari IWP

Sobat SMA sampe sekarang

berusaha berpijak dengan harapan yang menjemput lahirnya matahari

tenang, kuat, menimbulkan harapan dan senyum bersyukur

More Photos