You are currently browsing the tag archive for the ‘perenungan’ tag.

-dari buku orange yang hampir musnah-

Pernahkah bertanya pada titik diri? Dimana hati nurani bersembunyi? Yang tidak bisa digali jika hnya membuat topeng diri!
Hanya mencoba share, apa kabarmu hari ini sobat? Sudah sejauh apa kebangkitanmu di kabinet kebangkitan ini? Owh…. Baguslah jika bahkan ternyata kamu juga mampu membuat orang lain bangkit.
Aku masih ingat keluhan-keluahanmu tentang lingkungan sekitar, ya banyak kemiskinan lah, banyak kelaparan, maling dimana-mana. Bahkan aku masih ingat ketika air matamu menderas dan selanjutnya menjadi tenaga yang luar biasa.!!
Akhirnya kau putuskan untuk BERGERAK!!
Dan aku menyaksikan bagaimana senyum-mu mampu membuat alam ceria. Dimana semangat dan pengorbanan pribadi pantang mengeluh memperindah gerak dan bahasamu.
Jadilah dirimu seperti itu
Cita yang mampu menembus langit, jiwa yang terus menggeliat, gerak yang terus semangat, keluh yang tak pernah terucap.
Hingga hari itu datang
Dimana kita hidup, di negeri tanpa luka.
Dengan sore yang lebih indah dari sore ini

-dengan penuh syukur-
VQ

Advertisements

Ada yang membuatku kembali meresapi hari dengan dalam hari ini dan menikmati kesengajaanku untuk sendiri di malam hari. Sebuah sms dari adik mentoringku (baca:mutarobbi) yang membalas sms tausiyahku tentang keistiqomahan. Akhi tercinta ini mengutip untaian mutiara keimanan dari seorang Ahlul Haq, Ustadz Rahmat Abdullah Allahuyarham….

“Teruslah bergerak, hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu.
Teruslah berlari, hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu.
Teruslah berjalan, hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu.
Teruslah bertahan, hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu.
Tetaplah berjaga, hingga KELESUAN itu LESU menemanimu.”

Dalam perenunganku terhadap rangkaian makna yang terselubung di dalamnya, ini adalah sebuah paduan antara keimanan dan amal, antara pemikiran dan perasaan, antara pergantian kesuksesan dan kegagalan seorang Al-Akh yang mencoba menembus batas-batas kemanusiaannya (baca: pemakluman bahwa kita manusia). Seseorang yang mampu menghadirkan suasana perjuangan Islam pada jaman Rasulullah SAW menjadi sesuatu yang bisa hidup dalam kekinian dan kedisinian. Ketika banyak orang terlunta mengeja harapan, ketika sebagian besar orang lupa dengan kata keniscayaan.

Ya akhi, adikku tercinta, semoga hasil perenungan ini menjadi pahala yang mengalir pada darahmu. Semoga aku mampu mengejawantahkan dalam semarak amal-amal perjuanganku hingga kebaikannya pun menjadi kebaikanmu.

Seringkali secara tak sadar kita menemukan orang besar di sekitar kita, yang mampu menjadi inspirasi bagi kita untuk mencapai mimpi-mimpi. Mimpi-mimpi yang pada suatu titik kehidupan kita pernah mampu melampaui ruang batas, tidak hanya menggantungkan di langit. Mimpi-mimpi yang mampu memacu adrenalin kita untuk ters berkarya tanpa henti dan mengharamkan keterdiaman! Iya benar…mimpi yang menggambarkan suatu fase ketika kita telah menuai cinta-Nya di surga kelak. Ternyata orang itu kini telah banyak hadir di sekitar kita…di kampus kita…di kosan kita…di jalan-jalan yang kita lalui…di rumah makan yang sering kita singgahi…dan seperti fenomena yang coba aku kulik hikmahnya adalah di sms-sms yang kita terima…

Tugas kita sangat sederhana, yaitu menangkap suatu sudut inspiratif dari setiap gerak verbal ataupun non-verbal orang-orang itu, dimana setiap detik mampu menjadi hikmah. Yang menjadi tidak sederhana adalah ketika kita yang terbiasa memberi (baca: jadi pembicara, jadi ketua/pimpinan organisasi, trainer, guru, dosen, pementor, murobbi) harus dengan total meninggalkan atribut-atribut tersebut, untuk lebih jujur mengagumi orang-orang di sekitar kita.

Subhanallah…ternyata sarana tarbiyah begitu luasnya…aku tambah satu lagi…selain halaqoh, mukhoyam, ta’lim, dan kawan-kawan…adalah “Iseng dengan penuh kesengajaan memperhatikan orang lain.” Memperhatikan orang lain ini termasuk mendalami maksud dari sms yang dikirimnya, tidak lewat begitu saja dalam pilihan “delete” kita. Dan tidak hanya menjadi penghias inbox kita belaka…

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
October 2017
S M T W T F S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 101,385 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara