You are currently browsing the tag archive for the ‘PPSDMS’ tag.

Paska kampus merupakan sebuah arena pertarungan dimana semua orang berkompetisi meraih hal yang diinginkan. Dalam era ini seorang pemuda telah disuguhi banyak pilihan dan kesempatan. Pilihan itu menentukan sejauh apa lompatan seseorang dalam pengembangan diri dan karirnya. Sedangkan kesempatan juga memiliki peran yang cukup strategis untuk mendukung keberhasilan seseorang. Jadi, kita mesti dengan sadar menentukan pilihan dan menjemput kesempatan.

Dalam menentukan pilihan terkadang kita memang mesti menjalani pilihan-pilihan yang “kurang tepat” untuk kemudian mengetahui jalan yang tepat. Prinsipnya adalah terus bergerak dan memahami arah gerak kita. Bergerak akan membawa kita memperluas pengalaman kehidupan kita sedangkan memahami akan menganugerahkan kita infromasi penting tentang siapa dan sejauh mana kapasitas kita. Untuk meminimalisir waktu tempuh perjalanan pada pilihan yang “kurang tepat”, kita perlu berakrab-akrab diri dengan diri sendiri. Mengenal kelebihan dan kekurangan. Di samping itu kita juga perlu banyak informasi eksternal agar mampu menyadari peluang dan tantangan yang hadir di sekitar kita.

Mengenal kelebihan dan kekurangan diri dapat ditempuh dengan seringnya kita melakukan aktivitas muhasabah atau evaluasi diri. Evaluasi diri juga bisa dilakukan dengan meminta pendapat rekan sekerja atau teman sepergaulan. Jika evaluasi diri telah terbiasa dilakukan maka kalkulasi untuk meraih lompatan besar akan lebih akurat. Bila karir yang anda inginkan adalah seorang peneliti di laboratorium yang meraih nobel ilmiah, maka pastikan bahwa anda adalah orang yang sabar, teliti, tekun, dan tidak membutuhkan banyak interaksi dengan orang lain.

Dalam konteks eksternal, menyadari peluang dan tantangan yang hadir di sekitar kita dapat dipercepat dengan banyak mengakses informasi mengenai bidang yang ingin digeluti dan belajar dengan tokoh senior yang bisa diteladani perjalanan hidupnya. Sebagaimana tujuan inner circle PPSDMS, yaitu mempercepat mobilitas vertical maupun horizontal, berinteraksi dengan tokoh senior merupakan sarana yang tepat untuk meraih lompatan besar. Namun, jangan sampai kita terjebak dengan mengikuti pilihan hidup tokoh tersebut. Hal ini diungkapkan Pak Kemal Stamboel bahwa “There is no a fixed formula applied for all.”

Jika anda memilih cita-cita menjadi pimpinan tertinggi sebuah perusahaan, maka yakinlah bahwa “Everyone can be in the board”. Ada suatu masa dimana jika anda bukan engineer maka anda tidak bisa masuk dalam BoD (Board of Director). Kemudian siklus itu berubah ketika industri keuangan dan pasar modal sedang booming, sehingga terciptalah pakem jika anda tidak berlatar belakang finance maka anda tidak bisa masuk dalam BoD. Dari fakta ini sebenarnya setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi pimpinan tertinggi dari suatu perusahaan. Dengan kondisi industri yang bergulir dengan cepat, maka seseorang yang layak untuk masuk BoD adalah orang yang mampu menerjemahkan kebutuhan perusahaannya secara menyeluruh dan strategis. Misalnya seorang HRD staff akan dipandang berharga jika dia mampu memberikan kontribusi ke perusahaan tidak hanya dalam bentuk jumlah orang yang direkrut dan dilatih, tetapi juga mampu menerjemahkan kinerja HRD dalam ukuran profit/loss bagi perusahaan. Selain itu seorang yang berkecimpung di dunia HRD juga sangat berarti jika ia mampu memetakan talenta-talenta terbaik perusahaan di masa depan. Jadi intinya, bagaimana kita bergerak dari fungsi administrative menjadi fungsi strategis. Oleh karena itu bagi siapa saja yang ingin menjadi orang nomor satu di perusahaannya, maka harus terus meningkatkan pengetahuannya, membaca buku-buku strategis, berbicara layaknya CEO dan akhirnya pantas untuk menjadi CEO.

Advertisements

Tantangan di paska kampus adalah bagaimana kita secara aktif bergerak secara vertikal maupun horizontal. Dalam menjalani karier, setiap orang memiliki start position yang berbeda-beda.
Saat ini masyarakat telah mengalami proses perubahan yang loncatannya sangat tinggi. Kita bisa melihat sebuah fenomena di Amerika Serikat, yang pada 50 tahun yang lalu orang kulit hitam sangat didiskriminasi, namun saat ini seorang kulit hitam jadi presiden. Dalam konteks arus informasikita juga bias melihat bahwa seorang mahasiswa junior bias dengan jauh meninggalkan seniornya untuk menguasai sebuah bidang ilmu, bahkan bias jadi seorang mengalahkan dosennya. Oleh karena itu, sebagai pemimpin kita harus bisa mempersiapkan diri untuk dapat menghadapi loncatan besar perubahan dalam masyarakat.
Ada 3 tipe orang dalam menghadapi proses yang berubah dengan cepat ini:
1. Fast tracker. Orang yang lari cepat dalam jalur cepat. Otomatis orang-orang yang seperti ini adalah orang yang mempersiapkan diri dengan baik. Dia memiliki tujuan yang fokus dan perencanaan yang matang. Dia merasa bahwa setiap saat ditantang oleh keadaan. Dalam beberapa keadaan dia akan merasa sendiri karena menjadi orang yang terdepan dan paling cepat.
2. Specialist. Orang yang tekun dalam sebuah organisasi yang menjadi ahli dalam sebuah bidang. Dia menjadi orang yang sangat focus dan berupaya menambah ilmu khusus di bidang yang ia tekuni tersebut. Ia hanya nyaman di area dan bidangnya dan tidak bias keluar dari area atau bidang keahliannya.
3. Executor/generalist. Seseorang yang tidak berfokus dan tidak menonjol tapi memliki komitmen yang kuat dan kemampuan bekerja yang baik. Dia merupakan seorang “Pahlawan tak dkenal.”

Posisi orang tergantung pada gerak langkahnya, jika lambat maka hanya akan dapat sekedarnya. Jika menginginkan hal yang puncak, maka harus “berlari cepat” dan “membuka mata”. Seseorang yang fast tracker akan disorot banyak pihak dan begitu banyak resiko dan effort-nya. Jika memilih jalan yang tidak memiliki resiko besar maka kita bisa memilih untuk berjalan di jalur specialist.

Refleksi terhadap karier Kemal Stamboel.

Setelah lulus SMA masuk PT di jurusan Psikologi Unpad. Setelah menempuh pendidikan 6 tahun dan lulus, saya kemudian bekerja di sebuah perusahaan. Disana saya belajar untuk menjalani sebuah proses perusahaan yang luar biasa membekali banyak hal. Kemudian saya menjadi konsultan SDM. Setelah itu saya memilih jalur pendidikan S2 Finance di Amerika Serikat (MBA) dan menjadi Direktur di Price Waterhouse. Kemudian saya berpindah lagi kepada jalur IT. Saya juga aktif di BRR Aceh sebagai badan pengawasan keuangan. Ketika presiden membentuk Dewan Teknologi dan Komunikasi Nasional, saya ditunjuk menjadi Wakil. Kemudian saat ini saya menjadi calon anggota legislatif.
“Kita tidak harus stuck di satu bidang, kita bisa move around. Hal yang trepenting untuk membekalinya adalah pengalaman manajerial dan kemampuan leadership.Bersiaplah menghadapi tahun 2014, karena pada tahun itu terdapat peluang yang besarbagi para pemuda untuk meloncat jauh.”
“Hal yang terpenting dari sebuah pekerjaan adalah excitement, jangan sampai kita terseret dalam comfort zone dimana kita bekerja dengan “kenyamanan semu” sehingga tidak berbahagia dan bergelora. Jika bertahan, maka sama saja kita membangun depresi pada diri sendiri.”

Hasil cerna ketika berdiskusi dengan Kemal Stamboel, Dewan Penasehat PPSDMS

Pertemuan alumni merupakan sesuatu yang lebih strategis dibandingkan dengan pembinaan peserta asrama. Masa-masa dalam pembinaan asrama merupakan fondasi, sedangkan pada saat alumni sudah menjadi sesuatu yang bisa terlihat oleh masyarakat luas melaluikarya dan kontribusi yang diberikan seorang alumni.
Dalam menjalani dunia paska kampus, diantara kita ada yang digariskan Allah menjadi pegawai, ada yang menjadi entrepreneur, ada yang menjadi politikus. Semuanya akan baik jika kita bekerja sesuai denga petunjuk Allah swt. Kemuliaan tidak disebabkan oleh bidang atau posisi yang kita geluti namun oleh sejauh apa kontribusi optimal yang dilakukan dalam bidang atau posisi tersebut.

Bekerja sebagai pegawai memiliki jenjang karier sebagai berikut:
1. Staf dan manajemen tingkat I (staf, asissten manajer, manajer/kasubbag)  biasa ditempuh dalam 5-10 tahun, jika sudah 10 tahun belum mendapatkan posisi menjadi manajer, maka ada masalah pada kompetensi kerja kita.
2. Manajer menengah (General management, senior management, direksi)
3. Manajemen puncak (Direktur, Dirut, komisaris, KPK, Dubes, Staf ahli menteri, staf ahli kepresidenan, Menteri, Wapres, Presiden)

Yang menjadi rumusan ketika menjalani karier adalah:
1. Pada awal karier yang sangat dibutuhkan adalah kompetensi, bekerja keras dan cerdas, ringan tangan dalam membantu orang, junjung tinggi kejujuran, rajin berdoa dan bertawakal. Yang dipikirkan adalah prestasi, kehadiran, kerja keras.
2. Karakteristik dari manajer tingkat kedua adalah sudah membutuhkan “trik berelasi”. Seseorang yang sukses dalam fase ini adalah yang tidak akan mengancam kedudukan atasan. Namun yang perlu diperhatikan adalah “PERTAHANKAN IDEALISME”. Dalam fase ini tantangan untuk melakukan pelanggaran terhadap idealisme kita sudah cukup besar. Camkan bahwa sekali kita membuat dosa maka akan membuka peluang-peluang dosa yang lebih besar.
3. Semakin tinggi karier, maka yang dibutuhkan adalah relationship/ koneksi/ silaturahmi/ ukhuwah. Seseorang yang dipilih menjadi top level management, merupakan seseorang yang mendapatkan rekomendasi dari orang-orang penting dalam skala nasional. Membutuhkan kemampuan relasi dan berjejaring yang luas dan lebih mengarah mobilitas vertikal kapada para pemegang kebijakan teritnggi. tapi sekali lagi ditekankan “JANGAN KARENA ALASAN MENCAPAI SUATU HASIL KITA MELANGGAR HUKUM ALLAH”. Kita harus berjuang untuk menjalani perjuangan sesuai jalan yang Alah ridhoi.
Dalam mencapai sesuatu, hal yang menjadi dasarnya adalah niat, usaha, dan doa. Namun jangan pernah terpaku pada hasil. Jikalau kita gagal mencapai suatu hasil tertentu hal itu adalah ujian kesabaran dan keimanan kita kepada Allah swt.

Bagaimana agar kita tetap istiqomah di dunia paska kampus?

Beberapa fenomena menceritakan bahwa seorang mahasiswa yang idealismenya tinggi dan berkoar-koar menentang ketidakadilan, namun saat diberikan jabatan menjadi seorang yang tiran sebagaimana yang ia protes dulu. Hal ini harus menjadi pembelajaran sejarah bagi kita untuk tidak terjerumus ke dalam jalan yang salah itu. Untuk itu ada beberapa kunci yang perlu kita renungi:
1. Yakini bahwa tujuan kita di dunia adalah masuk syurga.
2. Yakini bahwa kita akan dihisab oleh Allah swt.
3. Yakini bahwa Allah senantiasa melihat dan merekam apa yang kita perbuat.

Hasil cerna dari diskusi bersama, Bambang Priantono, Dewan Penyantun PPSDMS

Alhamdulillah aku sudah ganti dosen pembimbing, kali ini dosennya enakeun euy…Mba Ninin…Awalnya  aku tertarik pada bagaimana proses komitmen membangun bangsa, namun ternyata sulit menemukan konsep ilmiahnya. Akhirnya setelah mewawancarai subjek yang ingin kuteliti, yaitu adik-adik PPSDMS-ku. Aku tertarik pada fenomena religiusitas yang menjadi latar belakang seseorang untuk beramal, membantu orang, bahkan samapi berkorban untuk orang lain. Ada hubungannya gak yah antara religiusitas dengan tingkah laku prososial??? Ada yang bisa bantu jawab???

Begini ceritanya………………….(maksudnya latar belakang)

Mahasiswa merupakan aset yang sangat berharga bagi suatu bangsa. Mereka merupakan tonggak bagi pengembangan menuju masyarakat madani (civil society). Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap perubahan yang terjadi pada suatu bangsa hampir selalu merupakan hasil inisiasi dari mahasiswa. Dalam sejarah Indonesia sendiri, mahasiswa selalu mengukir tinta emas perubahan ke arah yang lebih baik bagi Indonesia. Kita dapat melihat kembali buku sejarah kita tentang Taman Siswa, Sumpah Pemuda, Peristiwa Rengasdengklok, hingga Reformasi pada tahun 1998.

Kondisi bangsa Indonesia yang sedang mengalami berbagai krisis, terutama dalam pengembangan sumber daya manusia membuat saat ini menjadi momentum wajib bagi mahasiswa berkontribusi dalam pembangunan bangsa. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat tujuan pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).(http://bz.blogfam.com/2006/05/menyoal_problematika_pendidikan.html)Diakses pada tanggal 1 Maret 2007.

Secara psikologis, mahasiswa sedang berada pada sebuah fase transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal. Pada masa ini mahasiswa mengalami perubahan yang penting bagi perkembangan psikososialnya. Menurut Erikson (1963, 1968), perkembangan psikososial pada usia seperti ini berada pada tahap identity versus identity confusion, yaitu tahap dimana mahasiswa tengah mengalami pencarian identitas diri. Mahasiswa mengacu kepada identitas yang berupa suatu prestasi atau penghargaan. Pada tahap ini pula, terdapat kesetiaan yang sangat tinggi terhadap komunitas yang ia ikuti, sehingga muncul rasa bangga dan pembelaan terhadap komunitas tersebut.

Read the rest of this entry »

Setelah 1 tahun tak bersua dengan saudara perjuangan satu idealisme, aku kembali menatap sorotan tajam mata para pemimpin masa depan. Terakhir bertemu pada saat PKN II yang juga diisi dengan outbond di Cibubur. Aku berangkat dari Jatinangor karena terlebih dahulu mengurus amanah dan mendelegasikannya kepada saudara dan saudariku tercinta di BEMU yang tentunya sempat marah-marah karena keseringan kutinggal keluar kota. Iya, setelah kemarin aku “jalan-jalan” ke Surabaya, sekarang aku pergi lagi….Namun kali ini jauh berbeda. Kali ini adalah momentum sangat penting, PKN Wisuda! Pendidikan Kepemimpinan Nasional sekaligus Wisuda Peserta PPSDMS Nurul Fikri angkatan III. Ini adalah momentum pelepasan sebelum kami harus “terbang” keluar PPSDMS mengepak sayap dan mengukir asa di titik langit terjauh (baca postingan ini).

Aku berangkat dari Jatinangor kira-kira pukul 10.30 setelah sebelumnya ditahan salah satu saudari seperjuanganku untuk mendengarkan keluh kesahnya. Sejujurnya aku merasa “agak bersalah” meninggalkan amanahku lagi, padahal baru seminggu ini aku bergeliat di Jatinangor lagi…ehhhh sudah “terbang” lagi ke Depok. Yap, setelah sampai terminal Leuwi Panjang aku naik bus jurusan Depok yang nama bus-nya MGI. Soalnya kata Aji (manajer asrama PPSDMS regional 2 Bandung) bus itu sampai di depan gedung PPPPTK (semacam pusat pelatihan bahasa di daerah Lenteng Agung). Di PPPPTK inilah kami senantiasa mengadakan PKN. Tidak tanggung-tanggung, seperti PKN-PKN sebelumnya, pembicara yang diundang adalah para pemimpin yang bisa dibilang sukses di bidangnya masing-masing. Diantaranya adalah Read the rest of this entry »

Dua tahun sudah kita bersama merajut mimpi, mendidik diri, dan saling menyematkan cinta, persahabatan, dan doa di masing-masing pundak. Kawan…sekali-kali jangan sia-siakan itu! Jangan sia-siakan keputusan Allah yang telah membuat kita menjadi salah satu dari para pemimpin umat di masa depan. Jangan sia-siakan cinta, kasih sayang, dan harapan orang-orang yang selama ini menatap yakin kepada diri kita, bahwa kelak…kita akan membuat ibu pertiwi senantiasa tersenyum, rakyat kecil berbahagia karena badannya sehat, anak-anaknya berpendidikan, dan Masjid mereka terisi penuh cinta.

Tak selamanya kita terfasilitasi oleh PPSDMS tercinta. Iya…kita adalah elang muda! Yang butuh keluar sarang untuk meniti mimpi di titik langit terjauh. Yang butuh terjatuh untuk belajar mengepak sayap dan menegakkan dada kita. Karena dalam tiap diri kita telah tersemat sebuah idealisme yang mampu menghidupkan sejarah keemasan para pejuang Islam untuk menyiram tanah air Indonesia…

Idealisme Kami

Betapa inginnya kami
agar bangsa ini mengetahui
bahwa mereka lebih kami cintai
daripada diri kami sendiri.

Kami berbangga
ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Atau menjadi harga
bagi tegaknya kejayaan, kemuliaan,
dan terwujudnya cita-cita mereka,
jika memang itu harga yang harus dibayar.

Tiada sesuatu
yang membuat kami bersikap seperti ini
selain rasa cinta
yang telah mengharu-biru hati kami,
menguasai perasaan kami,
memeras habis air mata kami,
dan mencabut rasa ingin tidur
dari pelupuk mata kami.

Betapa berat rasa di hati
ketika kami menyaksikan bencana
yang mencabik-cabik bangsa ini,
sementara kita hanya menyerah pada kehinaan
dan pasrah oleh keputusasaan.

Kami ingin agar bangsa ini mengetahui
bahwa kami membawa misi yang bersih dan suci;
bersih dari ambisi pribadi,
bersih dari kepentingan dunia,
dan bersih dari hawa nafsu.
Kami tidak mengharapkan sesuatupun dari manusia;
tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya,
tidak juga popularitas,
apalagi sekedar ucapan terima kasih.

Yang kami harap adalah
terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat
serta kebaikan dari Allah-Pencipta alam semesta.

Semoga Allah selalu memancangkan “idealisme kami” hingga menelusup dalam inti kemanusiaan kita. Semoga Allah selalu menautkan hati kita agar bersatu padu membela agama-Nya…Hingga hanya kesyahidan saja yang mampu menghentikan berhembusnya nafas cita dan cinta kita.

Terbanglah wahai elang-elang muda!

mahasiswa-dan-merah-putih.jpg Melirik Rasa Kebangsaan
Menggagas sebuah sistem pendidikan yang ideal merupakan wacana yang terus mengalami proses. Dalam prakteknya, saat ini sistem pendidikan telah berada pada tahap yang terus membaik. Hal ini dapat diasosiasikan dengan terus berkembangnya metode pengajaran. Pada tataran sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, metode yang digunakan adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Sedangkan pada beberapa perguruan tinggi, metode yang saat ini dikembangkan merupakan metode Problem Based Learning (PBL). Namun seperti biasa, masing-masing metode tersebut juga menimbulkan sebuah pro dan kontra di kalangan para pengajar dan kritikus pendidikan. Dalam sisi yang positif, perdebatan ini memberikan sebuah proses evaluasi yang terus menerus. Evaluasi tersebut memberikan sebuah solusi dalam proses penyempurnaan metode pendidikan, baik dalam tataran sekolah dasar, sekolah lanjutan, maupun perguruan tinggi.
Ada sebuah semangat yang harus menjadi perhatian para profesional, praktisi, maupun pengamat dunia pendidikan. Semangat tersebut adalah kecintaan terhadap tanah air. Seiring dengan mengentalnya arus globalisasi, identitas kebangsaan dan kecintaan terhadap tanah air terus memudar. Pengembangan pendidikan saat ini meninggalkan ruh moral dan nilai-nilai kebangsaan. Kedua hal tersebut tergantikan oleh kebutuhan globalisasi dan pasar industri dari negara-negara kaya.
Setiap tahapan pendidikan memiliki fungsi dan prinsip pembelajaran masing-masing Read the rest of this entry »

Butir-butir makna

Kita kan tetap di sini, walau panas melantak, berat dipundak, kering mengerak, perih berserak. Kita kan terus berjalan hingga kan terjawab..."Mengapa perjuangan itu pahit?" "Karena cinta Allah itu manis..."
October 2017
S M T W T F S
« Jul    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

RSS berita nasional

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Pembelajar yang Berkunjung

  • 101,385 hits

Peta Pembelajar

Foto Berbicara